
Jemima dan Gerry sama-sama menikmati perjalanan dari rumah ke sebuah cafe dikawasan Lembang. Lampu-lampu mulai menyala menambah suasana malam hari ini semakin indah. Entah kenapa hati Gerry tidak tenang. Kebersamaan bersama Jemima beberapa bulan ini memberikan rasa nyaman dihatinya, perhatian-perhatian kecil yang diberikan Jemima kepada dirinya mampu melunakan hatinya terhadap seorang wanita. Sudah lama ia tidak memiliki hubungan dengan seorang wanita yang serius, selama ini hanya sekedar untuk memuaskan kebutuhan dirinya. Beberapa hari tidak bertemu saja terkadang rindu melanda di hati Gerry, karna itu sering kali ia mengada-adakan pekerjaan di hari libur Jemima hanya sekedar untuk melihatnya beberapa saat saja. Gerry menyadari sebenarnya ada seseorang di hati Jemima yang sudah mengisi relung hati nya. Dira.. nama itu yang sering kali dia lihat dari ponsel Jemima. Apakah itu pacarnya, kalau hanya sekedar pacar itu hal yang sepele pasti ia bisa mengalahkan laki-laki itu. Tapi sifat bawaan Gerry yang tidak banyak omong dan terkesan kaku terhadap wanita, membuat Jemima tidak menyadari perhatian-perhatian yang diberikan oleh Gerry.
"Bagus banget Pak" ucap Jemima saat mereka sampai didepan sebuah cafe di lembang dengan tema Angkasa yang saat ini sedang digandrungi oleh kaum muda-mudi.
"Iya bagus, nanti kamu keliling aja,lihat suasana yang lain" jawab Gerry.
"Boleh ya Pak setelah pertemuan nanti saya menikmati suasana disini" Jemima meminta kepada Gerry dengan muka yang tampak polos bak anak kecil.
"Iya iya" jawab Gerry cepat dan singkat tidak ingin berlama-lama memandang wajah Jemima yang sedari tadi sudah ia tahan untuk tidak menciumnya.
Mereka berdua turun dari mobil, berjalan berdampingan layaknya pasangan yang ingin menghabiskan malam bersama sambil menikmati suasana malam yang indah. Gerry menghubungi Harmoko dan mencari tahu keberadaannya.
"Mereka ada diluar ,kita kesana" tunjuk Gerry pada ruangan kaca yang ada dipinggir tebing. Dari jauh Jemima melihat sekitar 5 orang dan salah satunya Harmoko sedang berbincang dengan yang lain. Tampak salah satunya yang ia kenal, Jemima sejenak menghentikan langkahnya saat bertatapan muka dengan orang yang sedang duduk disebelah Harmoko.
"Gerr duduk sini" ucap Harmoko saat melihat Gerry dan Jemima berjalan menuju tempat mereka.
Harmoko mengenalkan orang-orang yang ada disana kepada Gerry dan Jemima. Satu persatu orang tersebut menyalami tangan Gerry dan Jemima. Orang terakhir yang menyalami Jemima membuat kakinya lemas dan jantungnya berdegup kencang.
"Apakabar Je?" tanya laki-laki tersebut ,"Baik Mas Abram, Mas gimana kabarnya ?" tanya Jemima kembali. Sudah beberapa tahun ia tidak bertemu dengan Abram, laki-laki yang dulu ada dihatinya, memberikan harapan bagi dia dan Dira tetapi harus ia lepaskan itu semua karna restu dari Ibu Abram yang tidak diberikan.
"Aku baik juga Je" jawab Abram dengan senyumnya yang merekah. "Wah Bram tahu aja cewe cakep, inget istri dirumah" ledek Anwar salah satu laki-laki disana.
"Mantan An" Abram memandang Jemima " Mantan teman kerja" tegasnya lagi dengan senyum kecil diwajahnya. Jemima duduk berhadapan dengan Arbam, sedang Gerry disampingnya memperhatikan keakraban yang ditujukkan oleh Abram dan Jemima.
__ADS_1
"Gerry ini bisa-bisanya bawa sekretaris, takut banget diambil orang sampai dibawa terus" ledek Harmoko yang menyadari kecemburuan dimata Gerry.
"Bukan Pak ini bagian dari pekerjaannya" Gerry mencoba bersikap santai.
"Baiklah kita langsung bicarakan bisnis ya" para lelaki tersebut dengan serius mendengarkan Harmoko dalam menerangan bisnis plan yang akan dia kembangkan bersama para pengusaha-pengusaha muda di depannya. Gerry terlihat amat serius mendengarkan rencanan Harmoko untuk membuat perusahaan baru yang dimodali oleh para lelaki itu. Jemima mencoba fokus akan pembicaraan itu tapi sedikit terganggu dengan Abram yang menatapnya sedari tadi. Jemima tidak kuasa melihat tatapan Abram, teringat semua kenangan indah dimasa lalu, dimana Abram dengan setia membantunya melewati masa-masa sulit ketika baru melahirkan Dira. Suasana dicafe tersebut semakin malam semakin ramai, banyak anak-anak muda yang datang menikmati minumnya sambil mendengarkan live band.
Seorang pelayan menghantarkan minuman beralkohol dan disajikan dimeja mereka. Harmoko menuangkan minuman berwarna ungu itu kepada gelas mereka masing-masing
"Maaf Pak saya tidak usah" tolak Jemima yang sedikit trauma dengan minuman beralkohol.
"Sedikit lah" ucap Harmoko memaksa, Jemima tidak berani menolak diambilnya gelas itu dan tiba-tiba Abram merebut gelas berisikan wine itu ia teguk hingga habis.
"Kamu kan ada alergi" ucap Abram mencoba menolong Jemima.
"Ii ya Pak" tepatnya trauma bukan alergi ucap Jemima dalam hati.
"Saya kebelakang dulu ya" Jemima bangkit berdiri berjalan menjauh menuju toilet, setelah menyelesaikan urusannya ia ingin kembali kemejanya, tetapi tertahan dengan keindahan akan suasana disekitarnya. Lampu-lampu dibawah sana seperti bintang-bintang dilangit. Ia memfoto beberapa untuk ia tunjukkan ke Dira dan suatu saat akan mengajaknya kesini.
"Aku fotoin" suara Abram muncul dari belakang tubuhnya.
"Eh ,gak usah Mas aku cuma mau fotoin suasana disini aja koq" ucap Jemima yang merasa lemah karna berdegup terlalu kencang
"Gak apa-apa, kamu cantik pakai pakaian itu" Abram merebut ponsel di tangan Jemima
__ADS_1
"Ya udah deh" akhirnya Jemima menurut dan mengambil gaya sambil menyandarkan dirinya di pagar pembatas dan tersenyum ke arah Abram.
"Bagaimana kabar Dira" ucap Abram yang menuliskan sesuatu di ponsel Jemima dan tak lama ponselnya berdering.
"Itu nomor ku, simpan ya" ucap Abram dan menyerahkan ponsel Jemima kembali.
"Iya Mas. Dira baik-baik saja, sudah besar, sudah 1 bulan ini masuk SD" jelas Jemima
"Kalau aku bertemu Dira ,kira-kira dia masih ingat aku tidak ya?" tanya Abram dan mencuri pandang ke Jemima.
"Mungkin sudah lupa Mas hehe, waktu terakhir bertemu dia kan masih kecil" ujar Jemima yang hanya menunduk dan memandang kekakinya saja, karna merasa malu menatap muka Abram. Masih ada sedikit rasa dihati Jemima akan Abram.
"Mas aku mau minta tolong"
"Iya Je minta tolong apa, semoga aku bisa membantu" Abram menatap Jemima yang sedari tadi tidak berani memandangnya.
"Jangan beritahu tentang Dira kesiapapun terutama ke atasan aku Pak Gerry. Karna aku mengaku masih single dan belum memiliki anak, karna memang kebetulan syarat untuk bekerja diperusahaannya seperti itu, jadi aku sengaja merahasiakan Dira" ucap Jemima yang masih memandang ke lain arah.
Abram terdiam memikirkan ucapan Jemima, ia penasaran dengan wanita yang dulu juga sangat ia cintai. Bagaimana dengan hidupnya selama ini, rasanya rindu dan getir-getir di hatinya mulai merasuk dan muncul kembali.
"Baik Je aku tidak akan beritahu siapapun" ucap Abram sambil memandang Jemima.
"Je pulang sekarang" suara Gerry mengagetkan Jemima dan Abram.
__ADS_1
"Baik Pak, saya pulang dulu Mas" ucap Jemima akhirnya berani memandang wajah Abram beberapa detik kemudian berjalan menyusul Gerry yang telah meninggalkan dirinya.