
Ucapan Abram barusan membuat jantungnya berdetak kencang.
"Istirahat dulu nanti malam kita makan bersama Bunda ya" ucapnya lagi. Kami menghabiskan waktu dengan bersantai bersama. Dira yang mulai belajar berjalan, tak hentinya mengeksplore setiap sudut rumah.
"Pintarnya Dira" puji Bunda. Jemima senang karna Bunda Abram memberikan respon positif terhadap dirinya dan Dira. Bunda mengajak bicara berbagai hal tidak tampak penolakan terhadap Jemima.
"Je kamu makan dulu saja aku ajak Dira melihat ikan keluar" ucap Abram saat kami sudah berada disalah satu restoran di mall.
"Iya Mas aku gak lama koq makannya"
"Pelan-pelan saja nanti keselek" Abram mengambil Dira dari gendongannya.
"Abram sering kerumah kamu?" tanya Bunda Abram yang saat ini sama-sama menikmati nasi goreng.
"1 bulan sekali Bu" ucap Jemima
"Terus menginap dirumah kamu?" entah kenapa Jemima merasa Bunda Tika seperti mengintrogasi dirinya.
"Oh enggak Bu, Mas Abram biasa menginap di hotel"
"Oohh" kemudian hening sampai makanan mereka habis.
"Aku ambil Dira sebentar ya Bu, biar mas Abram bisa makan" Jemima bangkit berdiri
"Iya Abram suruh makan cepetan nanti kalau telat maag nya kambuh" ucap Bunda seperti menyindir dirinya.
Buru-buru Jemima mencari Abram di antara keramaian, dia yang baru pertama kali ke mall ini agak kesulitan mencari Abram apalagi ponsel Abram dia pegang sehingga Jemima tidak bisa menghubunginya. Dari jauh Jemima melihat Abram sedang menggendong Dira sambil menunjukkan ikan-ikan yang ada dikolam. Hatinya terenyuh melihat bagaimana Abram begitu perhatian dengan anaknya, ia sungguh bersyukur ada Abram yang bisa menggantikan sosok seorang ayah keanaknya.
"Itu Mama" ucap Abram saat melihat Jemima sedang memandangi kedekatan mereka berdua.
"Sudah makannya Ma?" tanya Abram
"Sudah Mas, sini aku gendong Dira kamu gantian makan dulu ,Bunda sendirian kamu temani sana"
"Tunggu sebentar ya" Jemima menganggukan kepalanya kemudian bermain kembali bersama Dira, anaknya sangat senang sekali dengan ikan-ikan yang ada dikolam tersebut.
"Sudah puas lihat ikannya Dira?" tanya Abram
"Sudah Om" jawab Jemima
"Bram pulang sekarang kasihan Dira malam-malam masih diluar" ajak Bunda pulang kepada Abram dan Jemima.
Diperjalanan tidak banyak pembicaraan, Dira yang awalnya mengoceh dengan riangngnya akhirnya tertidur pulas dalam pangkuan Jemima.
__ADS_1
"Aku yang gendong Dira kekamar" ucap Abram saat sudah sampai dirumahnya. Bunda segera keluar dari mobil dan masuk kedalam kamarnya, Abram menggendong Dira menuju kamar yang ditempati Jemima. Abram meletakkan Dira pelan-pelan agar bayi berusia 1 tahun itu tidak terbangun sedangkan Jemima merapikan barang-barang yang dia bawa tadi, dan ia terkejut karna Abram memeluknya dari belakang, kemudian mencium leher Jemima. Perlakukan Abram membuat kakinya terasa lemas dan jantungnya berdetak kencang. Pelan-pelan Abram memutar badan Jemima kemudian mendekatkan bibir mereka berdua, Abram mencium Jemima dengan penuh nappsu, menggigit sedikit bibir Jemima agar ia mau membuka mulutnya dan Abram menjejalkan lidahnya kedalam mulut Jemima, mengeksplor semua yang ada didalamnya.
"Brammmmm" teriak Bunda dari luar kamar Frida dan Firli yang ditempati Jemima. Mereka berdua segera menghentikan kegiatan mereka, kemudian Abram mencium kening Jemima.
"Met malam sayang tidur yang nyenyak ya" kemudian ia mencium pipi Dira juga yang tidur dengan menggemaskan dan keluar dari kamar itu.
"Iya Bun"
"Kamu itu gangguin Jemima mau tidur saja " sebenarnya Bunda melihat apa yang sedang dilakukan oleh Abram dan Jemima barusan karna pintu tidak tertutup rapat.
"Malah cengengas cengenges" Bunda mencubit perut Abram yang merasa malu karna kepergok oleh Bundanya.
Pagi menjelang hari ini Abram melaksanakan kegiatan rutinnya, ia pergi kekantor, pagi-pagi benar ia sudah bangun dan bersiap. Paginya terasa indah karna ada wanita pujaannya dirumah, ia melihat Jemima sedang membantu Bundanya menyiapkan sarapan.
"Pagi Bun, Pagi Je" sapanya kepada dua wanita itu.
"Pagi Mas" Sapa Jemima kembali dengan senyuman manisnya.
"Dira belum bangun?" tanya Abram karna tidak melihat Dira
"Belum Mas masih tidur"
"Masak apa hari ini Bun?" tanya Abram ke Bundanya
"Bagus ini buat anak-anak dulu waktu kamu dan kembar kecil Bunda selalu masakin ini"
Samar terdengar suara tangisan Dira.
"Sebentar Bu, saya ambil Dira dulu sepertinya menangis" ucap Jemima yang saat ini sedang memotong wortel.
"Biar aku aja Ma" ucap Abram.
Abram berjalan menuju kamar Dira, balita itu sedang duduk dan menangis karna tidak menemukan siapapun disampingnya.
"Haii anak ganteng Papa sudah bangun " ucap Abram dan berjalan menuju Dira kemudian menggendongnya.
"Sini Papa gendong" diam-diam jika berdua dengan Dira , Abram selalu memanggil dirinya dengan sebutan Papa, karna itu Dira terbiasa memanggilnya Papa.
Kemudian Dira berhenti menangis dan menyenderkan kepalanya di bahu Abram, masih mengantuk dan merasa nyaman dengan pelukan Abram. Abram menepuk-nepuk punggung Dira dan membawanya ke teras rumah, memberikan udara sejuk diluar rumah. Abram tampak fasih menggendong bayi itu tidak ada kekakuan meskipun ia belum memiliki anak sendiri.
"Mas sarapannya sudah siap, sini Dira aku gendong dulu" Dira yang melihat Mamanya langsung meminta untuk digendong.
"Iya Ma, sarapan bareng ya" Abram mengusap kepala Jemima lembut.
__ADS_1
"Nanti saja Mas aku mandikan Dira terlebih dahulu" Jemima kemudian lantas kembali kekamarnya menyiapkan peralatan mandi serta air hangat untuk Dira. Tidak lama bayi itu sudah mandi dan semakin tampan menggunakan celana overal membuatnya juga tampak menggemaskan.
"Pa pa pa pa" Dira berjalan tertatih dan terkadang terjatuh mencoba mendekati Abram yang sedang sarapan.
"Dira pintar" puji Abram dan hendak menghampiri Dira
"Makan dulu Bram" omel Bunda karna Abram yang tengah makan ingin menghampiri Dira.
"Iya Mas kamu makan dulu saja" ucap Jemima merasa tidak enak.
"Mas hari ini aku mau bertemu dengan Alya dan Bu Retno saat makan siang" ucap Jemima yang ikut duduk disamping Abram.
"Ohh pas makan siang ya, aku gak bisa temani karna mau ke Bogor survey sama Darwin"
"Gak apa-apa koq Mas nanti aku naik taxi saja"
"Iya hati-hati , mau ketemu dimana?"
"Di mall dekat kantor supaya Alya dan Bu Retno tidak kelamaan istirahatnya" jelas Jemima
"Iya kabari aku saja"
"Bram kamu gak kekantor, telat loh udah jam segini,biasanya udah jalan daritadi" ucap Bunda dengan ketusnya.
"Iya habis ini Bun kan hari ini beda" Abram tersenyum ke arah Jemima dan mengedipkan matanya, ia jadi malas untuk kekantor dan ingin berada dirumah saja. Tapi karna jatah cutinya yang hampir habis dia terpaksa harus kekantor.
Abram sudah membawa tas kerjanya, kemudian ia mencium punggung tangan Bundanya dan mencium kening Jemima serta pipi Dira. Abram mengambil dompetnya dari saku celana dan mengeluarkan kartunya.
"Ini pegang buat kamu jalan-jalan nanti" Abram menyerahkan kartu debitnya ke Jemima.
"Gak Mas aku ada uang koq" tolak Jemima karna ia mendapat tatapan sinis dari Bunda Abram.
"Gak apa-apa Je" paksa Abram tetapi Bunda mendorong Abram agar segera masuk kemobilnya.
"Cepet Bram nanti macet"
"Iya Bun sabar, ya udah Je nanti aku transfer saja" Abram kemudian masuk kemobil dan segera pergi dari rumahnya.
"Sering Abram kirim uang kekamu?" tanya Bunda dengan tatapan tajam.
"Oh gak Bu, tidak pernah" Jemima berbohong,setiap Abram mengunjunginya Abram akan meninggalkan beberapa lembar ratusan ribu didalam amplop, tetapi ia tidak pernah memakainya, karna ia merasa tidak layak.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen