Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Siapa Aku Ini


__ADS_3

Bunda Abram terkejut tidak menyangka jika wanita yang sedang ia gunjingkan mendengar semua perkataanya.


"Ibu boleh menghina saya, mengatai saya tidak apa-apa, tapi tidak dengan Dira, dia tidak mengetahui apapun, bukan pilihan dia untuk lahir dari Ibu seperti saya" Jemima menangis tersedu-sedu.


"Memang dia lahir dari bukan hubungan pernikahan, tetapi dia mempunyai ayah yang jelas dan masih ada sampai hari ini. Kalau memang Ibu tidak suka dengan saya cukup hina saya saja tidak dengan Dira"


"Mbak, biar Ibu bicara sekarang, saya memang tidak setuju dengan hubungan kalian, saya sebagai seorang Ibu seperti kamu juga pasti menginginkan yang terbaik. Saya berharap dia menikah dengan wanita terhormat setidaknya dia masih sama-sama single. Saya juga sudah mengatakan ke Abram untuk sudahi hubungan kalian tapi ia memaksa untuk mengenalkan kalian berdua ke saya, karna sayangnya saya dengan Abram saya coba turuti kemauannya." Ibu Tika tidak mau kalah .


"Sekarang kamu tega kalau gara-gara kamu saya jadi bertengkar dengan anak saya, bayangkan kalau itu terjadi kekamu. Jadi saya minta kamu yang putuskan hubungan itu, karna kalau saya yang minta kami akan bertengkar" lanjut penjelasan Bu Tika dan segera meninggalkan Jemima yang masih berdiri dengan tangisannya.


Suara tangis Dira terdengar dari dalam kamar, ia langsung mengelap air matanya dan bergegas menggendong Dira.


"Sayang sayang ini Mama" ucap Jemima menenangkan Dira yang menangis, hatinya masih sakit jika ada yang mengatai anaknya. Sambil menggendong Dira ia mengambil ponselnya dan memesan tiket kepulangan untuk besok, ia belum memikirkan alasan ke Abram untuk kepergiannya besok. Ia sudah tidak tahan berada dirumah ini lebih lama, ia juga ingin mengakhiri hubungan dengan Abram.


Malam hari ia hanya berdiam dikamar hanya sebentar membuatkan makanan untuk anaknya dan tidak untuk dirinya karna tidak selera makan.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Suara ketukan dipintu membuyarkan lamunannya.


"Yang sayang sudah tidur" suara Abram dari balik pintu memanggil Jemima didalam kamar, pintu terbuka pelan-pelan. Senyum manis nya yang selalu dirindukan Jemima mulai terasa hampa, Abram masih mengenakan kemeja kerjanya, tampak gagah seperti biasa.


"Koq duduk dibawah" Abram melihat Jemima yang duduk dibawah sambil mengamati Dira yang sedang bermain dan ikut bergabung disana.


"Mas aku besok pagi pulang ke Semarang" wajah Abram yang meski lelah tetapi berusaha tampak senang berubah menjadi lesu mendengar perkataan Jemima.


"Loh kan Hari Sabtu nanti aku antarkan ,koq besok"


"Ibu sakit, aku tidak tega meninggalkan sendirian, aku sudah beli tiketnya juga, Mas kerja saja gak apa-apa aku naik taxi" Jemima berbohong tentang alasannya.


"Aku antar pulang, kamu naik pesawat apa jam berapa?" Abram membuka ponselnya ingin memesan pesawat yang sama dengan Jemima.


"Gak Mas aku pulang sendiri, aku gak mau ganggu waktu kerja kamu" muka Jemima memelas memohon dan menahan ponselnya agar tidak memesan tiket.


"Ya udah aku kesana hari sabtu okey" Abram mengecup kening Jemima.


"Aku mandi sebentar ya, jangan tidur dulu" Abram keluar dari kamar dan Jemima hanya bisa menandangnya tanpa banyak bicara. Ia segera merapikan segala barang-barangnya yang akan dibawa besok.


Setelah Abram selesai mandi dan tampak lebih segar ia kembali ke kamar Jemima. Saat ini Dira sudah tertidur di pelukan Jemima.

__ADS_1


"Yah Dira sudah tidur mau aku ajak kekamarku" Abram tampak kecewa kemudia n duduk disebelah Jemima.


"Mas gak ada yang mau diceritakan ke aku?" pancing Jemima agar Abram mau berterus terang dengan hubungannya selama ini, Jemima merasa amat sakit hati karna Abram membohonginya dan bukan menjadikannya prioritas.


"Ehm apa ya, oh tadi aku lihat kalian saat di lobby untung saja Darwin aku alihkan perhatiannya" Abram tertawa teringat kejadian tidak siang dan belum paham permintaan Jemima barusan dan itu membuat Jemima kecewa.


"Menurut Mas kalau aku bawa Dira kedepan Darwin apa yang akan terjadi? Aku ingin Darwin mengakui Dira sebagai anaknya, Dira berhak mengetahui siapa Ayahnya Mas, orang-orang berfikir dia anak haram yang tidak memiliki Ayah, padahal ada" Abram terdiam dengan ucapan Jemima barusan, ia juga bingung karna sebenarnya bukan haknya melarang jika Jemima ingin memberitahu anaknya ke Darwin.


"Mungkin dia akan bingung dan marah, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya" Abram tahu sebenarnya Darwin beberapa kali pernah mengatakan jika Darwin akan menerima anaknya jika memang anak itu ada ,tapi ia tidak mau berbagi apalagi jika Jemima juga harus menjadi milik Darwin.


"Aku siap Mas"


"Kapan-kapan kalau kamu kesini lagi ya, tidur sekarang sudah malam besok kan pulang" Abram segera menyudahi pembicaraan itu dan mencium bibir Jemima cukup lama.


"Met bobo kalian berdua" kemudian ia meninggalkan kamar Jemima. Abram kembali merenung dikamarnya. Berfikir apakah ia harus mengatakan ke Darwin sekarang atau biar Jemima saja, apalagi selama ini ia telah membohongi Darwin atas keberadaan Jemima dan anaknya.


Ia kekamar Bundanya.


"Bun bunda" ucapnya


"Iya Mas masuk" ucap Ibu dari dalam kamar


"Aku tidur sini ya Bun"


"Tumben sini Mas"


"Bun giman pendapatnya tentang Jemima?"


"Baik anaknya, dia sangat rawat dengan Dira" ucap Bunda


"Jadi aku bisa menikah dengannya Bun?" Abrm berucap dengan semangatnya.


"Jangan buru-buru Mas, dipikirkan lagi" Bunda mencoba menolaknya secara halus agar Abram tidak marah


"Yah Bu sudah pengen banget nih ,Mas kan sudah mau 30 kata Bunda, ini jodohnya sepaket didepan mata"


"Memang kamu siap? kamu bukan hanya jadi suami loh tapi jadi seorang ayah juga"


"Siap Bun, Dira sudah seperti anakku sendiri dari baru lahir aku sudah mengikuti perkembangannya. Bunda nanti bantu bicara dengan Pak Atma ya"

__ADS_1


"Ehm iya Mas jangan buru-buru pokoknya ambil keputusan, ya udah tidur yuk" ajak Bundanya tidur agar Abram segera menghentikan permintannya.


Suasana pagi ini cukup ramai, Jemima sudah siap dengan segala perlengkapannya Dira masih tertidur dan ia biarkan tanpa mandi. Ia membantu Bunda Abram didapur dengan penuh keheningan.


"Je ingat ucapan saya kamu yang harus putuskan jangan jadikan Abram anak durhaka" ancam Bundanya


"Siapa yang durhaka Bun?" Abram baru saja selesai mandi masih menggosok-gosokkan rambutnya yang basah dengan handuk dibawanya.


"Itu malin kundang" ucap Bunda sekenanya Abram yang tidak paham segera kembali kekamarnya dan bersiap-siap mengenakan pakaian kerjanya.


"Makan dulu Je sebelum pergi" ucap Bunda Abram, dan mereka makan bertiga dalam 1 meja makan tidak banyak kata yang terucap dari mulut Jemima ia hanya menjadi pendengar diantara percakapan Ibu dan anak itu. Beberapa kali Bunda menyebutkan nama Amanda seolah menegaskan pilihan Bunda untuk tetap memilih menantunya kelak.


"Bu saya pamit dulu, terimakasih karna sudah diperbolehkan kesini" Jemima mencium punggung tangan Bunda Abram yang menunggui kepergiannya didepan pintu, Jemima yang mengendong Dira segera masuk ke dalam mobil dan Abram memasukkan kopernya kedalam bagasi. Tidak banyak pembicaraan dalam perjalanan ke Bandara, hanya suara Dira yang mengomentari setiap kendaraan yang dilihatnya.


Setelah memarkirkan mobilnya Abram bersama Jemima dan Dira berjalan menuju terminal 1 keberangkatan. Setelah memastikan semua barang berpindah ke tangan Jemima mereka berpamitan satu sama lain.


"Mas aku pulang dulu terimakasih sudah mengundang kami kerumah kamu" sorot mata Jemima tampak lesu ada kesedihan yang terpancar dimatanya. Semua harapan yang dia bawa telah menguap begitu saja.


"Hati-hati ya Sayang hari sabtu aku usahakan kerumah kamu" Arbam mengecup pipi Jemima dan Dira kanan kiri. Jemima menarik kopernya ia sampai pada antrian memasuki ruangan pemeriksaan ia memanggil Abram.


"Mas.." Abram kembali mendekati Jemima


"Iya kenap"


"Buat Mas, aku ini sebenarnya apa? Adik, pacar, calon istri atau selingkuhan" dihati Jemima masih terbesit pertanyaan besar mengenai huungan Abram dan Amanda .


Abram yang ditanya tiba-tiba seperti itu hanya terdiam.


"Ehh Je maksudnya apa?"


"Ya sudah gak usah dipikirkan mas aku pergi dulu" Jemima kembali menarik kopernya dan menghilang kedalam ruangan pemeriksaan.


"Brengssekk lu Bram" teriak seorang pria dan Abram segera menengok kesumber seraya. Darwin dengan muka merah tampak jika ia sedang marah seketika menonjok Abram.


Brukkk... Abram terjatuh ke lantai dari posisinya sekarang.


-----


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


__ADS_2