
"Jadi selama ini kamu tinggal di kota ini?" tanya Abram kembali masih dengan lekat memandang wajah Jemima.
"Iya Pak"
"Saya kerumah kamu loh beberapa kali, saya khawtir dengan kondisi kamu"
"Kenapa Bapak khawatir takut kalau saya gak jadi gugurin terus minta pertanggung jawaban ke bos Bapak padahal uang saya sudah terima?" jelas Jemima berusaha tegar dan kuat depan Abram.
"Eh bukan gitu maksud saya, ya saya mau tau aja kabar kamu gimana" Abram bingung entah kenapa ia saat ini merasa tertarik dengan kehidupan Jemima, dan ketika melihat muka Jemima saat ini ia merasa ada sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Ya udah Pak saya mau istirahat dulu nanti malam pasti anak saya akan bangun untuk minum susu" Jemima pelan-pelan bangkit dari duduknya kemudian Abram coba membantunya.
"Saya antar" Abram menemani Jemima hingga keruang inapnya.
"Sampai sini saja Pak" saat mereka sudah sampai didepan pintu.
"Kamu pulang hari apa saya antar?" ucap Abram
"Enggak perlu Pak" tolak Jemima
"Gak apa-apa saya antar, atau saya kasih tahu Darwin biar dia yang jemput kamu" ucap Abram kembali mengancam dan menatap tajam mata Jemima.
Muka Jemima berubah menjadi kesal "Besok sore" kemudian masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan Abram sendiri.
Abram kembali menuju kamar inap sepupunya. "Kemana aja Mas, Bunda cariin" tanya Bunda Abram. "Tadi ketemu teman Bu ternyata lahiran disini juga" Abram kemudian berbincang-bincang dengan saudara-saudaranya yang lain dan melupakan sejenak pertemuannya dengan Jemima.
Diruang lain, hati Jemima tidak tenang akan pertemuannya dengan Abram akankah laki-laki ini benar-benar berjanji untuk tidak memberitahu Darwin akan keberadaan dirinya dan anak itu. Ia takut akan sesuatu hal buruk terjadi.
"Kenapa Je ,koq melamun saja" Ibu memandanganya heran karna semenjak masuk kekamarnya Jemima hanya diam saja.
"Gak apa-apa koq Bu cuma agak nyeri saja" ucap Jemima
__ADS_1
Malam harinya Dira benar-benar membuatnya sangat kecapaian, ia tidak henti-hentinya menangis. Padahal Jemima sudah berusaha memberinya susu.
"Kenapa ya Bu, koq Dira nangis terus" ucap Jemima bingung ia belum mengerti tentang keinginan bayinya apalagi pergerakannya yang terbatas membuatnya sulit menenangkan anaknya.
"Sini Ibu aja yang gendong, biasa ini Je, namanya juga baru lahir, tadinya nyaman diperut Ibunya sekarang diluar mungkin berasa dingin dan tidak nyaman" malam itu Ibu dan Jemima menimang-nimang bayi mungil itu, dadanya bergejelok jika saja ada suami pasti ia akan saling membantu ketika bayinya sedang menangis.
Siang hari setelah dokter memeriksa kondisi mereka berdua dan mengatakan semua kondisi baik, Jemima dan bayinya diperbolehkan pulang. Ia sudah membereskan barang-barangnya, dan teringat akan perkataan Abram yang katanya akan mengantarkan dirinya. Tapi sampai saat ini dia belum muncul, apakah ini kesempatannya untuk kabur dan menghilang lagi, toh Abram tidak tahu dimana ia tinggal,kota ini juga besar tidak mungkin ia langsung tahu.
"Ayok Bu, udah siap? Adek juga sudah siap" ucap Jemima sembari mengusel-ngusel bayinya yang tertidur lelap dipelukannya.
"Ibu gak apa-apa bawa tas nya, berat loh, sini aku aja yang bawa, Ibu gendong dedek" dirinya tidak tega ketika melihat Ibunya membawa tas besar berisi baju-baju mereka.
"Kuat Je, gak usah khawatir, nanti jahitan kamu kenapa-napa" jawab Ibu, kemudian pandangan mereka mengarah ke pintu yang terbuka, Abram muncul dari balik pintu. Jemima merasa kecewa, artinya Abram akan tahu dimana ia tinggal dan ia merasa tidak aman dan nyaman.
"Loh sudah mau pergi sekaranga" ucapnya kaget
"Iya Pak sudah boleh pulang" kemudian Ibu melihat dirinya seakan mengatakan siapa laki-laki ini
"Panggil Abram saja Bu, saya teman dari Jakarta kebetulan kemarin bertemu" Abram menjelaskan
"Oh iya Nak " kemudian Abram mengambil tas besar yang ada ditangan Ibu Jemima.
"Biar saya saja yang bawa Bu, saya janji sama Jemima untuk mengantarkan pulang" dan tas itu sekarang sudah berpindah tangan
"Oh iya Nak makasih sebelumnya, Je sini Dira biar Ibu yang gendong" Ibu mengambil bayi gemas itu dari pelukan Jemima. Ini pertama kali Abram secara jelas melihat bayi Jemima, lucu dan tampan. Darwin pasti menyesal telah menolaknya jika melihat bayi ini sekarang.
Mereka berjalan bersama-sama menuju Lobby rumah sakit. Jemima masih berjalan pelan-pelan dan didampingi Abram disebelahnya sedangkan Ibu sudah berjalan didepan.
"Je, jangan panggil saya Pak dong ,saya kan bukan atasan kamu, lagian kita sudah bukan rekan kerja" Abram berucap disebelah Jemima dan seketika Jemima memandang kearahnya bingung.
"Terus apa? Saya mau panggil nama, kayaknya gak sopan, Bapak lebih tua dari saya"
__ADS_1
"Ya terserah kamu panggil Abram juga gak apa-apa"
"Ya udah aku panggil Mas Abram aja ya, gak apa-apa kan" Abram tersenyum ketika Jemima mengatakan hal tersebut dan itu membuatnya bingung.
"Boleh mantaap tuh, orang rumah juga manggil aku Mas koq"
"Iya pak... eh mas" Jemima mengiyakan ucapan Abram dan mereka sampai dilobby.
"Tunggu sebentar ya saya ambil mobil dulu disana" tunjuknya pada salah satu mobil Kijang Innova berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari lobby.
"Teman apa Je?" tanya Ibu penasaran
"Orang kantor lama Bu"
"Terus gimana jadi ketahuan dong kamu" muka ibu berubah khawatir
"Gak apa-apa Bu, dia janji akan merahasiakan ini"
"Moga-moga saja ya Je" Ibu jangan sampai tahu jika Abram adalah assiten Darwin bisa-bisa nanti kepikiran dan sakit.
Mobil Abram berhenti tepat didepan mereka, kemudian ia keluar dari mobil membukakan pintu tengah untuk Ibu yang menggendong Dira agar bisa masuk, kemudian ia membukakan pintu depan untuk Jemima. Ia menolong wanita yang baru saja melahirkan itu masuk kedalam mobil dengan hati-hati.
"Pelan-pelan Je, gak usah buru-buru" Jemima sudah duduk dibangku depan dan dasternya yang pendek terangkat sedikit membuat pahanya terlihat didepan Abram dan ia cepat-cepat menutupnya. Abram masih disampingnya memastikan Jemima duduk dengan aman.
"Kayaknya kalau kamu pakai sit belt nanti sakit kena perut kamu, diginiin aja ya" kemudian Abram memasangkan sitbelt dibelakang tubuh Jemima dan menarik talinya kedepan tubuh Jemima. Jemima merasa kikuk dengan perlakuan Abram.
"Nyaman?? Sakit gak?" tanya Abram lagi
"Gak Mas, gak sakit" Jemima ingin menyudahi kedekatan mereka ini, tapi sepertinya Abram tidak berpengaruh sedangkan jantungnya berdetak kencang. Ah pikiran macam apa ini pikir Jemima.
"Okey kita pulang ya" ucap Abram sambil menutup pintu. Dalam hati Jemima memikirkan ucapan Abram barusan "Kita" seakan-akan dia bagian dari keluarga ini. Ah biarlah saat ini Jemima menikmati sedikit perhatian dari laki-laki yang duduk di sisi pengemudi itu.
__ADS_1