
Setelah menyelesaikan pekerjaannya dikantor Jemima dan Gerry menuju kediaman orang tua Gerry. Ia sudah menghubungi Ibunya bahwa ia akan berkunjung di sore hari itu. Jantung Jemima berdetak kencang setiap teringat bahwa hari ini ia akan dikenalkan sebagai kekasih oleh bosnya yang tampan. Perasaan tidak enak selalu menyelimuti, kejadian dulu dengan Abram sungguh membuatnya trauma. Ia takut Gerry akan meninggalkannya seperti Abram dulu, rasa kecewa, patah hati selalu muncul ketika ia teringat Abram. Gerry bisa melihat rasa ke khawatiran Jemima dan ia memegang tangan Jemima yang diletakkan diatas pahanya.
"Percaya sama aku" ucap Gerry sambil memandang Jemima penuh keyakinan dan Jemima hanya bisa tersenyum dan berdoa sekeras mungkin bahwa itu akan benar.
Sudah beberapa kali ia datang kekediaman Gerry untuk mengantarkan dokumen. Rumah megah berwarna putih dengan design klasik terpampang jelas didepannya. Gerry turun lebih dulu dari mobilnya dan berjalan membukakan pintu untuk Jemima.
"Kedepan rumah ini akan menjadi rumah kamu juga, senyum dong sayang jangan khawatir gitu" Gerry mengusap kepala Jemima lembut. Mereka berjalan beriringan, Gerry sempat menggandeng tangan Jemima tapi perempuan itu minta dilepaskan. Mereka masuk keruang tamu yang bergaya American Classic, dan Jemima duduk disalah satu sofa berwarna putih.
"Tunggu sini, aku panggil Mami" dikecup bibir Jemima sekilas demi menenangkan hati kekasihnya.
Jemima menghabiskan waktu menunggu dengan membuka ponselnya dilihatnya ada pesan terkirim dari Mama Darwin.
✉️ Magda : Kalian pindah kemana kenapa tidak kasih tahu Mama. Tadi Mama mampir kerumah kamu ternyata kosong.
✉️ Jemima : Sekarang kami tinggal di Bogor Ma, dirumah orang tuaku dulu.
✉️ Magda : Kenapa kamu gak bilang, kenapa harus pindah kesana. Besok Mama dan Papa akan kerumah kamu.
✉️ Jemima : Baik Ma
Gerry memasuki kamar tidur orangtuanya, dilihatnya Maminya sedang menonton televisi.
"Loh Abang, tumben kamu kesini, kangen Mami ya" ucap Sela
"Iya kangen banget Mi" ucap Gerry kemudian mengecup pipi Maminya.
"Papi belum pulang?" tanya Gerry
"Belum Papi mu sedang diluar kota, kamu menginap disini kan, sekali-kali temani Mami mu yang sudah tua ini. Mumpung kamu belum berkeluarga, anak-anak Mami pergi semua, Papi sibuk kerja. Mami sendirian" keluh Sela karna merasa sepi dengan rumah besarnya.
__ADS_1
"Gak bisa Mi, Abang kesini mau kenalin seseorang?" Sela seketika mengalihkan pandangannya ke anak laki-lakinya itu.
"Siapa? Perempuan seperti apa, sampai kamu menolak Mira?" Sela bersemangat sekali karna tahu anak sulungnya sudah memiliki kekasih.
"Kedepan yuk Mi, sini aku kenalkan" Gerry mengandeng tangan Maminya menuntun Sela menuju dimana Jemima duduk.
Jemima masih duduk menunggu Gerry, tangannya dingin, jantungnya berdetak semakin kencang saat melihat Sela dan Gerry datang bersama.
"Eh koq ada Jemima juga, kasian Bang, kamu bawa-bawa terus. Mentang-mentang kamu gaji, kalau urusan pribadi Jemima gak usah kamu bawa-bawalah. Apalagi kalau kamu sudah punya calon, biar urusan pribadi kamu dia saja yang mengurus" ucap Sela sambil mencari dimana gadis yang dibawa oleh anaknya.
"Mana Ger, pacar kamu" tanya Sela
"Itu Mi" ucap Gerry
"Mana? Orang cuma ada Jemima" Sela tampak bingung gadis mana yang dimaksud.
"Ya itu, Jemima Mi yang mau aku kenalkan sebagai pacar Abang" Gerry meminta tangan Jemima dan membawanya menuju depan Sela.
"Kami disini cuma mau menginfokan mungkin dalam tahun ini kami akan segera menikah" apa yang diucapkan Gerry tidak hanya membuat Sela terkejut tetapi Jemima juga. Ia tidak menyangka Gerry akan membahas mengenai pernikahan.
"Bang, kamu gak kecepatan untuk menikah? Kalian masih bisa mengenal satu sama lain" ucap Sela yang masih menahan kagetnya senormal mungkin.
"Mi kan Mami sendiri yang bilang sudah waktunya abang menikah, umur ku sudah mau 30 tahun depan. Dan aku sudah meyakinkan diri dengan Jemima." ucap Gerry meyakinkan maminya.
"Ooh iya Ger nanti kamu bicarakan dengan Papi kamu ya" muka Sela berubah tidak enak dan memandang Jemima tanpa senyuman.
"Iya Mi. Makasih atas support Mami" tak ada kata yang keluar dari Jemima ia hanya diam saja, ia takut untuk berucap.
"Ya sudah kalian makan dulu saja, Mami mau mandi dulu" kemudian Sela meninggalkan kedua orang itu. Gerry ikut duduk disamping Jemima meletakkan tanganya di bahu Jemima dan mengeratkan jeda diantara mereka.
"Gimana Yang, gampang kan. Mami sudah setuju, tinggal kita rencanakan mengenai pernikahan kita. Kamu yang pilih mau konsep seperti apa" Gerry mengecup pipi Jemima yang masih belum percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia belum yakin Sela setuju dengan hubungan mereka.
__ADS_1
"Ger kamu yakin Mami kamu setuju dengan hubungan kita?" tanya Jemima meyakinkan.
"Yakin Yang sudah jangan dipikirkan, makan dulu yuk, setelah itu kita pulang. Aku antar kamu pulang"
Jemima dan Gerry menikmati makan sore berdua, Sela tidak ikut bergabung. Mereka berdua menikmati hubungan mereka saat ini.
"Ger, nanti jangan pulang ya Mami gak enak badan temani Mami dirumah, Papi kamu kan sedang tidak ada" ucap Sela yang muncul dari dalam kamarnya.
"Okey Mi, nanti aku kesini lagi setelah antar Jemima pulang"
"Bang, jangan tinggalin Mami, sekali-kali gitu loh, jarang-jarang Mami minta ditemani" Jemima tahu ini merupakan pertanda yang tidak baik karna Sela tidak mau memandang wajahnya dari tadi.
"Sudah Ger, aku pulang sendiri saja. Kamu temani Bu Sela yang sedang sakit. Kalau kamu antar aku kemalaman balik kesini"
"Jangan rumah kamu jauh, aku gak tega kamu pulang sendiri" tolak Gerry
"Ger, aku sudah biasa pulang sendiri. Jangan tinggalin Mami kamu" ucap jemima sedikit memaksa.
"Okey-okey tapi kamu diantar sama supir, nanti aku minta supir Mami anterin kamu. Deal gak ada tolakan" Jemima menerima usul Gerry daripada berlama-lama berdebat.
Jemima mencium tangan Sela berpamitan kepada wanita cantik yang sangat menjaga penampilannya.
"Bu Sela , saya pulang dulu. Semoga lekas sembuh. Banyak istirahat ya Bu" ucap Jemima saat berpamitan.
"Iya terimakasih" ucap Sela
"Hati-hati Yang, nanti info kalau sudah sampai" ucap Gerry kemudian mengecup bibir Jemima didepan Sela dan seketika mengalihkan pandangannya dari dua orang itu. Jemima mencubit Gerry atas tindakannya barusan.
"Gerr, gak sopan ada Bu Sela" tegur Jemima dan Gerry hanya terkekek mendapat teguran dari kekasihnya.
Setelah memberi pesan kepada supir Maminya untuk berhati-hati dalam berkendara, Gerry segera menyusul Maminya yang memang tampak lelah dan pusing.
__ADS_1
"Bang, Mami gak setuju sama hubungan kamu" ucap Sela saat anaknya menghampirinya yang duduk di ruang keluarga. Gerry memandang wajah wanita yang telah melahirkannya dengan terkejut.