Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Bab 80


__ADS_3

"Diraaa Oma datang" ucap Magda dari pintu depan rumah Jemima. Dengan girangnya Dira membukakan untuk Kakek Neneknya yang datang membawakan beberapa paperbag berisikan peralatan sekolah dan mainan baru.


"Oma Opa, Dira kangen" Dira memeluk kakek neneknya dengan tulus, melepas kerinduan yang sudah beberapa saat tidak bertemu.


"Ini mainan buat Dira" Bagus memberikan paper yang dibawanya kepada Dira.


"Banyak banget Ma Pa, yang dulu dikasih saja baru aku sempat buka. Gak usah repot-repot Ma Pa" ujar Jemima dari balik kamarnya.


"Gak apa-apa Je, buat cucu Oma yang pintar. Ya ampun rumah kalian jauh juga." ucap Magda kemudian duduk disalah satu bangku.


Jemima tersenyum mendengar ucapan Magda.


"Iya Ma, Mama Papa sebentar ya aku siapin minum" tak lama Jemima kedapur membawakan sebotol air putih mineral merk tertentu untuk Magda dan teh hangat tanpa gula untuk Bagus.


"Je, kenapa kamu tidak bilang mengenai kepindahan kalian. Ada masalah apa kamu dengan Darwin" ucap Bagus sambil melihat kondisi rumah Jemima yang sudah tampak tua, ia sedikit khawatir dengan kondisi rumah itu.


"Aku sudah bilang sama Cindy dan Darwin Pa. Maaf aku lupa memberi tahu kalian, aku hanya tidak ingin merepotkan kalian saja" ucap Jemima merasa tidak enak hati kepada kedua orang tua tersebut.


"Aku hanya ingin mandiri tidak ingin merepotkan Darwin lagi Pa" lanjut Jemima dan duduk bersama dengan kedua pasangan itu.


"Merepotkan bagaimana. Itu memang kewajiban Darwin sebagai ayahnya Dira. Bukankah itu rumah yang diberikan Darwin untuk Dira?" tanya Bagus penasaran.


"Tadinya aku pikir seperti itu Pa. Bukannya aku ingin meminta sesuatu dari Darwin tapi aku hanya memikirkan Dira. Yang selama ini aku pikir rumah itu merupakan milik Dira yang diberikan Darwin ternyata bukan. Rumah itu hanya rumah sewaan dan beberapa kali pemilik rumah menagih uang sewa ke aku Pa"


"Hah!! Bdoh Darwin, bisa-bisanya dia memperlakukan kalian seenaknya saja." ucap Bagus kesal rasanya ia ingin memarahi anaknya.


"Aku mau marah juga tidak bisa Pa. Aku hanya mengharapkan kerelaan hati Darwin sebagai ayahnya Dira, namun sepertinya ia tidak bisa. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menjalani hari selanjutnya tanpa persetujuan Darwin" ucap Jemima dengan hati yang sakit karna Darwin melupakan ucapannya dulu yang akan bertanggung jawab kepada Dira tetapi ia ingkari secepat itu.


Kedua orang tua Darwin tidak bisa berkata apapun, mereka juga tampak kesal kepada Darwin dan mereka merasa malu atas sikap Darwin.

__ADS_1


"Sudah Je, kalau kamu ada perlu apapun hubungi Papa, jangan harapkan laki-laki payah itu" ujar Bagus kesal dengan Darwin.


"Siang" suara Gerry memecah perbincangan mereka yang sedikit panas. Gerry menghampiri Jemima dan mencium pipinya.


"Pa Ma kenalin ini Gerry" ucap Jemima


"Loh kamu kan anaknya Sela?" ujar Magda heran.


"Iya Tante, saya bos nya Jemima juga dikantor" ucap Gerry dan ikut duduk bergabung dengan mereka.


"Mama pikir kalian gak pacaran, ternyata kalian ada hubungan toh. Syukurlah Jemima mendapatkan laki-laki yang baik" Magda tersenyum senang dengan hubungan mereka berdua.


"Hari ini Tante mau ketemu Mama mu loh ada reunian di salah satu restoran teman tante yang baru buka, Mama kamu ikut gak?" tanya Magda.


"Saya tidak tahu Tante. Mungkin ikut, dia kan senang kalau ketemu teman-temannya" ucap Gerry


"Tante berharap hubungan kalian bisa sampai pernikahan. Tante yakin kamu bisa jadi ayah yang baik untuk Dira, Tante titip cucu dan anak Tante Nak Gerry" ucap Magda sedikit terharu, ia merasa bersalah akan kelakuan Darwin kepada Jemima.


"Ger, Bu Sela bagaimana? Setuju tidak dengan aku" tanya Jemima penasaran, ia yakin pasti ada perbincangan serius antara ibu dan anak itu.


"Jangan dipikirkan sayang, apapun yang diucapkan Mami. Aku tetap sama kamu" Gerry mengecup pipi kekasihnya itu.


"Aku ajak Dira pergi ke supermarket dulu, mau aku belikan ice cream" Gerry bangkit dari duduknya berjalan menuju Dira yang sedang bermain mainan barunya


Ditempat lain


Suasana ramai disalah satu restoran masakan khas Palembang. Beberapa wanita-wanita yang sudah berumur dengan pakaian putihnya berkumpul saling berbincang dan mengingat masa lalu ketika dibangku SMP. Suara tawa terhias disana, tak henti-hentinya mereka saling saut menyaut bersuara.


"Sellll, sendiri saja?" Magda menepuk bahu Sela yang dilihatnya sedang menikmati makananya.

__ADS_1


"Iya sendiri, suami lagi keluar kota, anak cewe gak tahu kemana, yang cowo lagi kasmaran dan pacaran terus" ucap Sela kesal karna dia merasa kesepian dirumahnya.


"Ih tenang saja. Nanti kalau mereka sudah resmi kita jadi besanan, aku temenin kalau kamu sendiri." ucap Magda.


"Besanan gimana?" tanya Sela bingung


"Tadi aku kerumah cucuku. Ketemu anak kamu Gerry lagi kerumah anakku. Dia bilang mereka mau menikah. Gak menyangka kalau mereka berdua berkencan. Syukurlah Jemima bisa bersama Gerry. Doaku terkabul anak itu mendapatkan laki-laki yang baik." ucap Magda dengan muka bahagia dan penuh harap.


"Jemima itu kan bukan anakmu Magda. Kenapa koq kamu yang senang" ucap Sela kesal karna ucapan Magda.


"Iya memang dia bukan anak kandungku. Tetapi sudah ku anggap anakku. Dia anak yang baik, tidak pernah merepotkan kami, selalu berusaha mandiri, ketika ia tahu hamil ia malah pergi tidak ingin mengganggu Darwin, dan mengurus anaknya sendiri. Yang bodoh itu anak Kami Darwin. Bisa-bisanya dia kembali dengan mantan istrinya yang sudah selingkuh, kalau aku punya anak laki-laki lain akan kujodohkan dengan Jemima." ujar Magda berapi-api dan sambil ikut memakan sepotong pempek yang tersaji di mejanya.


Sela masih tidak percaya dengan ucapan Magda, alisnya bertautan tanda tidak percaya.


"Masa dia sebaik itu, jangan-jangan dia ingin mengeruk harta kalian diam-diam. Coba kamu cek lagi deh Magda. Maaf tapi dari yang aku dengar seperti itu, Jemima memanfaatkan anaknya demi harta Darwin" kata Sela tidak percaya.


"Eh ngawur. Sampai detik ini tidak ada harta kami yang dia ambil dan manfaatkan untuk kepentingn sendiri. Bahkan kami memaksa untuk memberikannya. Pokoknya kamu harus setuju dengan hubungan mereka. Kamu tidak usah khawatir Jemima akan mengambil harta anakmu. Aku dan suami ku sedang mengurus pemindahan harta dan saham ke Jemima dan anaknya" Magda sedikit kesal dengan ucapan Sela dan berusaha meyakinkan Sela bahwa Jemima bukan orang yang berambisi dengan harta kekayaan.


"Iya nanti aku coba pikirkan, sudah ah kita disinikan mau reunian malah bahas masalah anak-anak"


"Iya bener. Udah pokoknya kamu setuju aja sama anakku Itu" akhirnya 2 orang itu ikut bergabung dengan teman-teman lainnya, mengenang masa indah mereka saat masih dibangku sekolah hingga waktu malam.


Sela kembali kerumahnya, masih merasakan sepi dirumah itu. Didengarnya April sedang berada didalam kamarnya dan menelepon seseorang.


'sepertinya anak itu sudah punya pacar lagi, sedari tadi ia memanggil seseorang dengan sebubat baby' ucap Sela dalam hati saat tak sengaja lewat depan kamar April yang tidak tertutup sempurna.


Ia juga masih memikirkan ucapan Magda apakah yang dia katakan tentang Jemima benar adanya. Sebagai seorang Ibu ia hanya ingin yang terbaik untuk anak laki-lakinya. Berusaha menjadi ibu yang bijaksana dan mengenyampingkan egonya. Ia kemudian mengambil ponselnya yang maish berada dalam tas mahal berkulit buaya dan mengetik nama anaknya dalam pesan whatsapp.


"Bang, setelah mami pikirkan, mami setuju dengan hubungan kamu, semoga ia yang terbaik buat kamu" tulisnya pada pesan itu dan berdoa semoga keputusannya benar.

__ADS_1


----


Jangan lupa like dan komen ya


__ADS_2