
Sebulan berlalu, Jemima masih disibukkan dengan bayi kecilnya. Hari-harinya hanya berkutat dengan bayi tampan yang sudah mulai menggemuk karna kuatnya menyusu ASI Jemima. Usahanya yang sempat terhenti mulai ia jalankan kembali kali ini ia mempekerjakan seorang Ibu-Ibu yang dulu pernah membersihkan rukonya saat pertama kali pindah. Jemima memanggilnya dengan nama Bude Wati.
"Mba Je, hari ini jualan kan?" ucap Bude Wati yang baru saja datang ke ruko Jemima pukul 5 pagi untuk mulai bersiap-siap. Karna biasanya jam 7 pagi Jemima sudah mulai usahanya.
"Iya Bude, bahan-bahan sudah disediakan"
"Wah siganteng sudah bangun, mau bantuin Bude opo" ucap Bude Wati menggoda Dira yang saat ini sedang dalam gendongan Jemima.
"Iya bude nih mau bantu Mamanya, anak pintar" ucap Jemima sambil menciumi pipi gembul anaknya, kemudian kembali kekamarnya ingin bersiap diri menanti kedatangan Abram.
Sejak pertemuan terakhir dengan Abram ia mulai rutin untuk saling berkomunikasi. Setiap beberapa hari Abram selalu menanyakan kabarnya dan Dira. Perasaan Jemima sungguh berbunga-bunga meskipun ia tahu nahwa Abram hanya mengganggapnya sebagai adik. Seperti tadi malam Abram menelepon dirinya dan menanyakan kabarnya kemudian mengatakan bahwa akan kerumahnya untuk bertemu. Jemima tidak tahu akan maksud Abram yang sangat perhatian ini ia hanya menikmatinya tanpa berharap banyak karna Ia hanya ingin fokus dengan anak laki-lakinya dulu, tetapi namanya wanita terkadang tidak tahan dengan perhatian yang seseorang berikan kedirinya apalagi dengan kondisi Jemima saat ini. Sambil bermain dengan anaknya ia menunggu kedatangan laki-laki yang mengisi harinya sebulan ini.
Satu Hari sebelumnya......
"Mau kemana lagi sih lu Bram, pergi terus" ujar Darwin kesal karna ditolak Abram untuk menemaninya bermain golf dengan klien.
"Ada urusan, ajak aja Mr Ken main sama lu Pak" Abram meminta Darwin untuk mengajak salah satu direksi perusahaan dikantornya yang berasal dari Jepang.
__ADS_1
"Males gue sama dia, ujung-ujungnya selalu bawa cewe gak jelas" Darwin berdengus kesal.
"Bukannya Bos seneng yang kaya gitu"
"Sori Bro gue udah tobat, I'm married now" sambil menunjukkan cincin ditangan kirinya.
"Gue ikut lu aja lah" muka Darwin berubah penuh harap agar diperbolehkan ikut Abram yang ia tahu akan keluar kota.
"Ehh enggak enggak, pergi sama istri lu aja Bos, masa ikut gue kemana-mana" Abram menolak permintaan Darwin
"Gue malas sama Cindy Bram dia pergi terus, party-party sama temennya" Darwin menyandarkan dirinya pada sofa di ruangannya, tampak muka kecewa dan kesal di wajah laki-laki tampan yang baru berusia 28 tahun ini.
"Sudah, tapi jawabannya selalu ngeselin kan uang ku dan papi sudah diinvestasikan buat perusahaan kamu, jadi kamu yang kerja dong" ucap Darwin sambil menirukan suara Cindy dengan bibir di monyong-monyongkan.
"Hahaha jadi lu pegawai nya sekarang nih, sabar lah bos, pelan-pelan aja kasih tahu nya, apa lu buat hamil aja Cindy, emang lu gak mau punya anak lagi, cewe biar pas sepasang?" ucap Abram sambil memeriksa dokumen yang baru saja di tandatangan.
"Hah punya anak lagi yang cewe biar pas sepasang gimana maksudnya, 1 saja belum?" Darwin bingung dengan ucapan Abram barusan dan melirikan matanya ke Abram butuh penjelasan.
__ADS_1
"Eh maksud saya lu punya anak kembar cowo cewe sepasang ,pas kan istri lu gak akan kemana-mana tuh" Abram cepat-cepat memperbaiki perkataannya dan dalam hati ia merutuki dirinya karna salah ucap.
"Belum mau dia, katanya nanti body nya rusak" ucap Darwin sambil menggelengkan kepalanya ,pusing dengan ucapan Cindy. Semenjak menikah dan bermasalah dengan Jemima ia sudah tidak pernah lagi pergi ke club, bahkan sudah jarang minum minuman keras, ia trauma akan terulang kembali kejadian itu. Dilubuk hatinya ia menyesal akan perbuatan bodohnya ke Jemima, tetapi ia tidak tahu juga bagaimana untuk memperbaikinya. Sedangkan ia tidak bisa melarang Cindy istrinya yang memang dari segi kekayaan keluarganya lebih kaya dari dirinya. Cindy anak manja yang segala keinginannya dituruti orang tuanya tidak bisa dilarang dan selalu bersenang-senang tanpa memikirkan suaminya. Saat pacaran dulu Darwin senang-senang saja dengan sikapnya, mereka sering menghabiskan waktu di club hingga mabuk kemudian kembali ke apartemen Darwin dan melakukan hubungan hingga mereka lelah, tidak diragukan dengan kemampuan Cindy untuk memberikannya service terbaik dalam setiap pergulatan mereka. Tidak terbayang jika kehidupan pernikahan sungguh berbeda dengan masa-masa itu, menikah bukan hanya soal melegalkan hubungan intim tersebut tetapi banyak hal yang harus dijalankan, semenjak menikah justru dirinya dan Cindy jarang melakukannya dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Abram kemudian kembali ke meja kerjanya, besok pagi-pagi sekali ia akan terbang ke Semarang bertemu Jemima dan Dira. Ia senang sekali, perlahan perasaan yang tadinya iba dan kasihan melihat Jemima dan menganggapnya sebagai adik perempuan, berubah menjadi perhatian ke lawan jenis. Ia terkadang rindu akan bayi kecil anak bosnya itu. Seperti saat ini ia membuka ponselnya kemudian membuka video Dira yang dikirimkan Jemima. Ia senyum-senyum menatap bayi itu
"Bram lihat apaan lu, video bokep ya" Darwin tiba-tiba saja keluar dari ruangan dan menganggetkan dirinya.
"Bukan lah" cepat-cepat ia menutup video itu dan meletakkan ponselnya jangan sampai dilihat Darwin.
Jemima sudah mandi dan sedikit memoleskan bedak serta lipglos ke bibirnya. Ia tidak ingin terlalu nyata menunjukkan dirinya menghias wajahnya untuk menyambut Abram. Dira juga sudah ia mandikan dan sudah pasti bayi itu semakin terlihat tampan. Abram datang tak lama kemudian, sepertinya ia menggunakan penerbangan paling pagi untuk sampai kesana.
Jemima sedang berdiri didepan rumahnya sambil menggendong Dira, sebuah taxi biru berhenti didepan rumahnya. Iya tahu itu Abram yang datang. Abram membuka pintu taxi dan langsung memandangnya dengan senyum yang merekah. Abram tampak tampan saat ini tingginya mungkin sekitar 175 cm badannya tidak terlalu gemuk dengan lesung pipi di pipi kirinya menambah manis saat ia tersenyum.
"Hai Je, apa kabar sehat kan? Dira juga sehat kan?" tanya Abram saat berdiri didepan Jemima, yang ditanya hatinya sangat berdebar-debar.
"Sehat Mas, Dira juga sehat Om" jawab Jemima dengan menampilkan senyum manisnya.
__ADS_1
"Aku bawain mainan untuk Dira" Abram menunjukkan paperbag dari sebuah toko mainan terkenal di sebuah mall.
"Makasih ya Om, koq jadi ngerepotin terus sih" perbincangan mereka berdua teralihkan dengan sebuah mobil yang berhenti depan mereka. Jemima penasaran siapa yang datang karna kaca jendela yang gelap menghalangi pandangan mereka akan siapa penumpang yang ada didalam mobil itu dan perlahan pintu mobil dibuka. Jemima dan Abram terkejut dengan orang yang baru saja keluar dari mobil tersebut..