
Abram sudah ada di lobby hotel Jemima untuk berbicara berdua dikamar. Awalnya Abram hanya ingin berdua saja dengan jemima tapi Alya memaksa untuk ikut dan hanya sebagai pendengar.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Abram ke Jemima
"Baik koq, gak ada masalah" Jawab Jemima
"Ehmm saya sudah tahu kondisi kamu, saya belum bilang ke bos karna dia sudah berangkat honeymoon ke Paris, hal ini gak bisa saya bicarakan via telepon dengan dia" jelas Abram yang saat ini tampilannya tampak santai mengenakan celana chinos coklat dan polo shirt coklat tua.
"Tunggu 2 minggu lagi, kamu gak apa-apa kan, jujur saya tidak bisa memutuskan hal ini" Abram tampak bingung menjelaskan maksudnya.
"Iya Pak"
"Kalau dari kamu harapannya apa biar saya sampaikan ke Bos"
"Bisa saya sampaikan sendiri ke Bos kamu, saya gak mau nanti ada salah penyampaian dan ini biar menjadi urusan saya dengan pak Darwin" ucap Jemima ia merasa takut dan bingung akan kedepannya jadi ia membutuhkan waktu untuk memikirkannya selama belum bertemu Darwin.
Selama 2 minggu ini Jemima sering tidak masuk ia merasa tidak enak badan, Ibu nya sudah memperhatikannya.
"Kamu kenapa Je? Koq sering tidak masuk?"
tanya Ibu yang menghampiri Jemima dikasurnya.
"Bu...." ia duduk dan memeluk Ibunya sambil berurai airmata. Ia tidak bisa menahan lebih lama lagi akan kehamilannya.
"Bu aku sudah melakukan kesalahan besar" Ibunya hanya diam tidak berbicara dan menunggu Jemima.
"Aku hamil Bu" ucapnya dengan suara parau
"Hamil???" ucap Ibu terkejut
"Sama siapa Je, coba kamu jelaskan ke Ibu dulu" Ibu masih mencoba tenang mendengar berita kehamilan Jemima.
"Bu waktu di Bali kemarin aku tidak sengaja mabuk dan aku melakukan hubungan dengan Bos ku Pak Darwin . Kami tidak berpacaran sama sekali karna waktu itu kondisi kami berdua mabuk kami melakukan hubungan itu dan sekarang aku hamil. Tapi aku bingung Bu, karna Pak Darwin sudah menikah aku harus bagaimana Bu" Ibu yang mendengar begitu syok dan terdiam, air matanya ikut mengalir deras di pipinya.
"Ya ampun Nak, sabar ya, kamu sudah bicara dengan bos kamu?" Jemima menggelengkan kepalanya.
"Bicara Nak kamu harus kasih tau ke dia bahwa kamu hamil"
"Aku ingin gugurkan saja Bu, karna tidak mungkin Pak Darwin akan mau bertanggung jawab"
"Jangan Nak, dosaaa, kamu sudah berbuat salah jangan menambah dosa lagi, anak itu tidak salah" Ibu memelukku erat sedikit membuatku nyaman.
"Tapi bagaimana Bu, aku tidak mungkin punya anak tanpa suami, kasihan anak ini"
"Lebih kasihan lagi jika kamu gugurkan, apa kamu tega membunuh anak kamu sendiri. Nanti kita lihat hasil pembicaraan kamu dengan Pak Darwin bagaimana, ibu harap kamu tidak bertindak bodoh" mereka menangis berdua, bersyukur bagi Jemima karena ibunya tidak memojokkan dirinya.
__ADS_1
Besoknya ia datang kekantor,tampak lemas seperti biasa akibat mabuk dan berdesakan dikereta. Ia tidak berani meminta kursi khusus prioritas karna takut ada yang mengenali dan mengetahui tentang kehamilannya.
"Je lu gak apa-apa, ini minum susu sama kue nya dlu" Alya menyerahkan 1 plastik kresek susu kedelai dan kue bolu kukus.
"Makasih ya Al"
"Iya lu yang sehat ya, kasihan keponakan gue" Jemima menatapnya miris, dari kemarin ia memikirkan apa harus digugurkan saja kandungannya karna masih kecil, tetapi perkataan ibunya membuat ia berfikir ulang.
Telepon di mejanya berbunyi.
"Je nanti keruangan Pak Darwin ya, saya sudah infokan kemarin sekarang kamu bisa bicara langsung dengan dirinya" ucap Abram di seberang telepon sana.
"Iya Pak saya sekarang kesana" Alya menghabiskan susunya dan kue yang di berikan Alya, ia harus mempunyai tenaga untuk menghadapi masalah ini.
Jemima berjalan lemas dan Abram menyambutnya dari meja kerjanya.
"Kamu mau sendiri masuknya?" tanya Abram
"Iya Pak saya sendiri saja"
Tok tok tok Jemima mengetuk pintu ruang kerja Darwin. Kemudian ia membuka dan melihat Darwin sudah ada di sofa sepertinya memang menunggu kedatangannya, ia melihat ke arah Jemima
"Masuk Je, take a seat" ucapnya
Jemima masuk dan memilih duduk disoga single samping Darwin, ia dapat melihat muka tidak nyaman Darwin.
"Lemas dan masih mabuk Pak"
"Ehmmm sorry selama ini saya belum minta maaf secara langsung akan kejadian waktu itu, saya benar-benar khilaf"
"Saya sudah dengar info dari Abram mengenai kehamilan kamu, sorry malah jadi seperti ini" Jemima hanya diam saja, karna jujur ia juga bingung harus bagaimana menanggapinyam
"Kamu tahu kan saya sudah menikah dan saya tidak bisa menikahi kamu apalagi saya gak ada perasaan dengan kamu" ucapnya dengan pelan dan hati-hati. Jemima menatap Darwin.
"Saya akan bantu kamu untuk menggugurkan kandungan ini, saya juga gak mau kamu repot karna kehamilan yang tidak diinginkan dan nantinya harus urus anak ini" Jantung Jemima berdetak kencang, ia tahu bahwa Darwin akan memintanya seperti ini tetapi hatinya seperti menolak.
"Pak maaf saya tidak bisa, saya tidak mau menggugurkannya" ucap Jemima
"Terus kamu mau bagaimana, saya gak mungkin mengakui anak itu dan bertanggung jawab, istri dan keluarga saya akan marah"
"Bapak pikir keluarga saya tidak marah, Bapak enak tidak berdampak apapun, bagaimana saya Pak perut saya akan semakin besar"
"Ya makannya saya minta kamu untuk gugurkan, saya akan beri kamu kompensasi yang banyak jika kamu gugurkan." Ucap Darwin meninggi.
Ia kemudian mengambil cek yang ada di mejanya dan menyerahkan ke Jemima.
__ADS_1
"500 juta" ucap Jemima yang membaca nominal di cek tersebut.
"Itu kompensasi kamu, diluar biaya menggugurkan biar saya saja yang urus" Jemima menunduk memikirkan ucapan Darwin.
"Saya pikirkan lagi Pak" ia menaruh cek itu di meja Darwin dan melangkah keluar.
Jemima pergi kekamar mandi dan masuk disalah satu bilik toilet kemudian ia menangis. Ia tahu bahwa Darwin tidak akan mau bertanggung jawab, tapi ia juga tidak mau jadi pembunuh apalagi itu darah dagingnya sendiri. Semalaman juga sudah ia pikirkan berbagai cara atas kemungkinan-kemungkinan jawaban Darwin. Dan telah memutuskan tindakan kedepan yang akan dia pilih.
Ia kembali ke mejanya dan memprint surat yang telah ia buat sebelumnya dirumah. Kemudian membawa surat tersebut dan berjalan kembali ke ruangan Darwin. Abram tidak ada dimejanya sehingga ia langsung masuk keruangan Darwin. Ia mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk.
"Permisi Pak" Jemima masuk dan ternyata Abram ada didalam bersama Darwin. Muka mereka menegang akan kedatangan Jemima.
"Iya Je?" tanya Darwin
"Ini Pak" ia menyerahkan surat pengunduran dirinya ke Darwin
"Saya terima kompensasi cek dari Bapak tapi saya sendiri yang akan memilih tempat aborsinya" ia berucap sambil menahan air mata yang keluar sedikit-sedikit dan jatuh pipinya. Darwin membaca surat yang diberikan Jemima sedang Abram menatap Jemima dengan tajam.
"Bram ambil cek yang dimeja" perintah Darwin
"Kamu yakin mau mengundurkan diri? Kamu masih bisa kerja disini, saya akan naikan posisi kamu dan gaji kamu sebagai gantinya" ucapa Darwin lagi.
"Gak Pak, saya rasa sudah cukup berkarir di tempat ini" jawabnya
"Saya akan carikan tempat yang aman untuk menggugurkan kandungan kamu yang pasti tidak akan membahayakan kamu" ucap Darwin lagi.
"Gak perlu Pak, saya bisa cari sendiri, saya bisa terima ceknya sekarang?" Jemima memberikan tangannya ke Darwin seraya meminta cek tersebut. Darwin mengkode Abram untuk menyerahkan cek tersebut ke Jemima dan ia menerimanya.
"Saya terima Pak cek nya. Untuk kedepannya semoga kita tidak ada urusan lagi dan saya tidak akan meminta pertanggung jawab apapun dari Bapak, terimakasih" ucap Jemima lantang dan segera keluar dari ruangan itu. Disusul dengan Abram juga.
Saat sudah diluar ruangan Abram menarik tangan Jemima.
"Kamu yakin???" tanya nya pelan
"Iya Pak, sangat" jawab Jemima tanpa memandang Abram
"Saya bisa bantu apa?" tanya nya lagi, ia merasa kasihan dengan Jemima, ia mempunyai 2 adik perempuan yang tidak ingin nasipnya sama seperti Jemima.
"Gak ada Pak, permisi" jemima berjalan kembali ke mejanya.
Didalam ruangan Darwin merasa menyesal dengan keputusan yang ia tawarkan ke Jemima. Ia bukan laki-laki brengsek yang hobi mempermainkan wanita. Dalam menjalani hubungan pun selalu dilandaskan suka dengan suka, tanpa paksaan sehingga tidak pernah terjadi hal buruk. Ia kembali teringat akan ucapan Jemima yang tadinya tidak tega membunuh darah dagingnya, bukan kan itu darah dagingnya juga. Tapi ia tidak mungkin bertanggung jawab dan menikahinya karna tidak adanya poligami dalam keyakinan yang dianutnya.
"Argghh apa gue sekarang jadi pembunuh anak gue sendiri, brengsek" Darwin menonjok dinding ruang kerjanya melampiaskan kemarahannya.
------
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya