
Hati Gerry sedikit cemburu akan kedekatan Jemima dan Dani, padahal itu hanya sebatas jalan bersama saja. Jemima yang dicemburui oleh Bosnya tidak merasakan apapun, bahkan berjalan berdua bersama Dani saja dia tidak punya maksud dan rasa apapun, Jemima benar-benar mati rasa akan sosok laki-laki. Kecemburuan Gerry berbuah kemarahan atas apapun yang dilakukan oleh Jemima, Gerry menjadi uring-uringan karna takut Jemima akan dekat dengan laki-laki lain, ia belum menemukan waktu yang tepat untuk mengemukakan perasaannya kepada Jemima, ia takut nantinya Jemima malah pergi dan meninggalkan dirinya.
"Je cepetan pesenin saya kopi, kepala saya pusing" ucap Gerry dengan galaknya
"Loh pusing koq minum kopi sih Pak, minum obat dan istirahat dong, lagian pusing kenapa sih Pak abis kencan koq pusing" goda Jemima yang semakin hari semakin berani dengan bosnya.
"Pusing mikirin kamu ini" jawab Gerry kesal.
"Lah kenapa saya dipikirin Pak, pikirin Bu Mira saja yang cantik jelita Pak"
"Udah sana pergi beliin saya kopi"
"Gak Pak, kalau Bapak pusing saya bawakan teh hangat dan tolak angin saja ya" kemudian Jemima pergi kepantry menyiapkan teh hangat dengan tanpa gula untuk bosnya. Tidak membutuhkan waktu lama, teh hangat tersebut tersaji diatas meja Gerry dengan sebungkus tolak angin.
"Kalau Bapak masih pusing batalkan saja pertemuan nanti malam" ucap Jemima dan berharap Gerry menyetujuinya karna dia ingin bertemu Darwin terlebih dahulu.
"Jangan saya pengen cepat beres tender proyek ini" ucap Gerry membuka scahet tolak angin itu mencampurkannya kedalamm teh hangat dan meminumnya.
Jemima yang tidak mempunyai maksud apapun kepada bosnya menghampiri dan berdiri dibelakang Gerry."Maaf ya Pak" kedua tangan Jemima menyentuh pundak Gerry dan hal itu membuat Gerry terkejut tetapi lama-lama ia menikmati pijatan yang diberikan Jemima, dengan gerakan pelan dan sedikit tenaga Jemima memberikan pijatan ke bosnya untuk mengurangi rasa pusing dikepalanya. Gerry memejamkan matanya sebentar menikmati dan merasakan tangan Jemima dipundak dan beralih kekepalanya. Rasanya ingin sekali ia mencium tangan yang sedang memijat pundaknya.
"Semoga bisa mengurangi pusing dikepala Bapak" Jemima mengakhiri tugasnya dan meninggalkan Gerry sendiri.
"Saya tinggal ya Pak, biar Bapak bisa istirahat sebentar" Gerry terpaku dengan perhatian Jemima, jantungnya berdetak sangat cepat haruskah sekarang ia mengungkapkan perasaannya.
Sore menjelang Gerry mengajak Jemima untuk ikut bertemu dengan Darwin di salah satu restororan country club karna Darwin baru saja selesai bermain golf didekat sana.
"Sekarang Je" ucap Gerry ketika keluar dari ruangannya. Jemima segera mematikan laptopnya dan menyusul Gerry yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya.
Jalanan menuju restoran tersebut mulai macet, Gerry menatap Jemima yang hanya terdiam saja. " Diem aja, kenapa lapar?" tanya Gerry
" Gak apa-apa Pak" keheningan pecah karena panggilan masuk dari ponsel Jemima.
__ADS_1
"Bu Sela Pak" ucap Jemima kepada Gerry menunjukkan ponselnya kepada Gerry
"Angkat saja"
"Sore Bu Sela" sapa Jemima
"Sore Je, kamu dimana sama Gerry gak?" ucap Sela
"Iya Bu ini kami perjalanan menuju meeting didaerah senayan, Pak Gerry sedang menyetir" jelas Jemima
"Je bilang Gerry, hari Sabtu ikut ke Bali sekeluarga, kamu pesankan tiketnya ya, karna saya, Pak Niko dan April sudah berangkat hari Jumat" ucap Sela dan Jemima menyanggupi permintaan Ibu dari bosnya.
"Baik Bu saya pesankan" kemudian telepon itu diakhiri.
"Pak , hari sabtu di minta Ibu ikut ke Bali"
"Ckk Mami kan aku bilang aku gak ikut"
"Je pesankan tiket 2 orang , Gerry dan Mira, ini KTP nya, Mira duduk disebelah Gerry ya, jangan kasih tahu Gerry ini kejutan" Jemima tersenyum membaca pesan dari Sela dan merasa lucu dengan perjodohan bosnya.
"Kenapa ketawa? Pesankan buat kamu juga" perintah Gerry
"Saya pak? buat apa? Ini kan family time bukan urusan kantor" Jemima menolak permintaan Gerry
"Udah pesankan saja" Gerry meminta Jemima untuk melaksanakan perintahnya.
Jemima tidak menuruti ucapan Gerry dan tetap memesankan tiket sesuai perintah dari Sela, Jemima ingin sekali perjodohan mereka berhasil. 'Ah so sweet , kapan aku ketemu jodoh" Jemima sedikit meratapi dirinya. Setelah sukses memesankan tiket Gerry ia langsung mengirimkan etiket tersebut ke email Gerry dan bertepatan dengan tibanya mereka di Country Club itu.
Gerry menyerahkan kunci mobil kepada petugas Vallet disana dan berjalan menuju receptionist menginfokan kedatangannya untuk bertemu dengan Darwin. Gerry dan Jemima berjalan bersama menuju meja outdoor disamping kolam renang dimana Darwin sedang duduk sendiri sambil menyeruput gelas berisi wine.
"Darwin, long time no see" ucap Gerry menyapa Darwin yang sedikit terkejut melihat Jemima.
__ADS_1
"Hai Bro, nice to see you" Darwin menyambut uluran tangan Gerry dan Jemima, ia tersenyum menatap Jemima.
"Dah kenal kan sebelah gue, you're ex right?" ucap Gerry dan itu membuat Darwin terkejut
"Ex secretary maksud gue" Gerry tertawa dan muka tegang Darwin serta Jemima hilang seketika.
"Pak Darwin apa kabar" sapa Jemima
"Hai Je, sekarang kalian berdua??" Darwin menunjuk Gerry dan Jemima bergantian
"Dia PA gue sekarang" jelas Gerry
"Oh kirain kalian couple" ucap Darwin
"Not now" balas Gerry dan membuat Jemima menahan nafasnya sebentar.
Setelah cukup berbasa basi Gerry segera melancarkan tujuan utamanya untuk menjelaskan portofolio perusahaannya dimana Darwin akan membangun sebuah perumahan dengan konsep all in one dan merupakan proejct yang cukup besar. Ditengah-tengah perbincangan pekerjaan , menjelaskan rencana-rencana kedepannya Gerry ijin kekamar mandi dan meninggalkan Darwin dan Jemima beruda.
"Pak aku mohon jangan bilang Pak Gerry mengenai hubungan kita dan Dira, karena dia tidak tahu apapun, kalau ada waktu aku akan cerita" ucap Jemima seketika saat Gerry cukup jauh dari tempat duduknya.
"Okey" ucap Darwin setuju, karna ia pun enggan jika orang banyak tahu mengenai skandal yang telah mereka lakukan berdua.
"Satu lagi Pak, sorry mau tanya kenapa uang sekolah Dira sudah beberapa bulan tidak dibayarkan?" tanya Jemima langsung seketika karna tahu ini merupakan kesempatannya.
"Are you sure? Sekolah anak-anak Cindy yang atur, nanti aku akan confirm ke dia lagi" Darwin tampak bingung dengan ucapan Jemima dan ia merasa tidak yakin dengan ucapannya karna merasa hal itu tidak mungkin mengingat CIndy selalu melaporkan urusan biaay Dira tidak pernah terkendala.
"Kalau memang Bapak sudah tidak mau membiayai Dira, it's fine Pak, aku masih bisa urus DIra, tapi maaf mungkin aku akan memindahkan sekolahnya sesuai dengan kemampuan ku" Darwin tidak bisa menjawab ucapan Jemima karna Gerry sudah dekat dengan tempat duduknya saat ini.
" Okey kita lanjut sambil makan" ucap Gerry lagi saat duduk disebelah Jemima.
-----------------------------------------------
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya