Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Bday Boy


__ADS_3

Sudah setahun ini Abram selalu bolak balik ke Semarang menemui Jemima dan Dira, bisa dalam satu bulan Abram mengunjungi mereka lebih dari 1 kali. Hubungan mereka juga semakin dekat meskipun sampai saat ini tidak ada pernyataan dari Abram mengenai status hubungan mereka. Tetapi Jemima tidak ambil pusing, pikirnya diusia mereka apakah penting sebuah status, yang pasti saat ini dia tahu hati Abram hanya milik dirinya dan anaknya. Hari ini tepat ulangtahun pertama Dira, tidak ada perayaan mewah di kediaman Jemima. Ia hanya merayakan secara sederhana dengan Abram, Ibunya dan Bude Wati. Kue ulang tahun dengan design tokoh kartun Cars sudah datang, sesuai dengan kesukaan Dira akan bentuk-bentuk mobil. Jemima menghias rumahnya dengan dekorasi tokoh Cars juga lengkap dengan balon dan angka 1.



Dira sangat tampan dengan setelan baju tuxedo anak-anak berwarna coklat muda sedangkan Jemima dan Abram menggunakan kaos berwarna putih dengan tulisa "Dira 1st bday". Jemima sangat antusias sekali merayakan ulang tahun anak semata wayangnya sejak semalam tidak hentinya ia mendekor ruang tamu nya serta menyiapkan bingkisan untuk para tetangga. Jemima tidak pernah mengganggap kehadiran Dira sebagai musibah dihidupnya justru ia mensyukurinya.


Lagu Happy birthday tou you menggema sedari pagi dirumahnya. Dira juga ikut semangat merayakan ulang tahunnya. Dira menari-nari dengan gemasnya setiap lagu ulang tahun diputar. Sambil berputar - putar kesemua ruangan dari kamar Jemima, ruang tamu dan kamar Utinya.


"Halo birthday boy" ucap Abram saat baru sampai kerumahnya dengan membawa kado yang ukurannya cukup besar. Dira yang belum lancar berjalan dan hanya bisa merangkak langsung menghampiri Abram. Abram dengan sigap menggendong Dira dan menciumi pipinya. Dira tertawa geli saat Abram menciumi perutnya.


"Pa pa pa pa" ucap Dira


"Loh Dira manggil aku Papa Je" Abram kaget dengan ucapan Dira barusan.


"Masa Mas" Jemima menghampiri mereka berdua.


"Mama mama" ucap Jemima tidak mau kalah tetapi bayi gemes itu kembali mengucapkan " Pa pa pa" Jemia ikut terkejut dengan ucapan Dira.


"Dira kan tiap hari sama Mama, kenapa gak manggil Mama sih" Jemima kesal dengan Dira karna sampai saat ini Dira belum bisa memanggilnya Mama. Abram mengusap kepala Jemima "Sama anak sendiri koq ngambek" Abram meledek Jemima kemudian mencium pipi Jemima.


"Apa kabar kangen aku gak?" ucap Abram

__ADS_1


"Kangen gak ya tadinya sih iya tapi sekarang jadi enggak deh" Jemima memberikan duck face karna masih kesal dengan panggilan Dira ke Abram


"Koq ngambeknya ke aku sih, lagian aku gak ajarin Dira panggil aku papa loh" iya juga siapa yang ajari Dira memanggil Abram dengan Papa selama ini Jemima selalu memanggilnya dengan Om.


" Terus siaoa dong" ucap Jemima heran.


"Ini kado titipan Alya dan Bu Retno" Abram mengangkat 3 kado dan menyerahkannya ke Jemima.


"Ya ampun banyak banget kadonya, nanti aku mau telpon mereka untuk ucapkan terimakasih" Jemima sangat senang dengan perhatian Bu Retno dan Alya ke Dira.


Karna merasa tidak ada yang ditunggu lagi acara ulang tahun Dira dimulai, kue ulang tahu yang ditengahnya sudah ditancapkan lilin dengan angka 1 dinyalakan.


"Mas bagus banget kadonya, kamu koq buang-buang uang banget buat Dira, beli yang biasa saja kan bisa" Jemima merasa tidak enak dengan perhatian Abram. Saat ini mereka sedang duduk berdua di ruang tamu, Ibu sudah masuk kekamarnya untuk beristirahat karna kecapaian memasak daripagi, Bude Wati sudah pulang dan birthday boy sedang tertidur dikamarnya.


"Gak apa-apa Je, biar Dira bisa muter-muter sambil kamu dorong-dorong" tangan kiri Abram meraih tangan kanan Jemima dan menyatukannya, Jemima menyenderkan kepalanya di bahu Abram. Nyaman hanya itu yang dia rasakan saat ini, ia selalu bersyukur akan kehadiran Abram dalam hidupnya.


"Mas, Dira kan sudah 1 tahun, aku mau kembali kerja saja"


"Kalau kamu kerja Dira bagaimana?"


"Kan ada Ibu yang jagain, karna pengeluaran semakin banyak sedangkan usaha ku sedang sepi" Jemima menghela nafas.

__ADS_1


"Ibu kan kesehatannya tidak begitu baik Je, apalagi Dira sedang aktif-aktifnya. Oh ya aku mau pasangin pintu dibatas tangga itu agar tidak bahaya untuk Dira" Abram teringat akan janjinya untuk memasangkan pintu dilantai 2 yang berbatasan dengan tangga ,saat ini hanya ditutupi dengan kardus saja.


"Ehmm gimana ya Mas aku jadi bingung kalau aku cari baby sitter gaji ku juga tidak akan cukup disini" Jemima sekali lagi menghela nafas.


"Kamu pikirkan lagi ya, kalau kamu ada kebutuhan apa bisa bilang aku, mungkin aku bisa bantu" Abram bingung ia tidak punya hak untuk memutuskan Jemima bekerja atau tidak karna Ia belum menjadi suaminya. Niatnya kedepan untuk menikahi Jemima semakin teryakinkan, ia ingin mengurusi Jemima serta Dira hanya ada 1 masalah yang harus dia pikirkan.


"Jangan Mas nanti uang kamu habis, kamu kan masih ada Bunda dan adik-adik yang harus diurusi" tolak Jemima


"Bulan depan atau 2 minggu lagi, ketemu Bunda mau gak?" ucap Abram sambil memandang wajah Jemima yang sama-sama menatap.


"Aku ke Jakarta sama Dira?"


"Iyak kalau kamu gak repot"


"Ehmmm" Jemima merasa tidak yakin akan ajakan mendadak Abram, ia takut Bunda Abram akan menolaknya. Tapi disisi lain hatinya sangat senang tandanya Abram sangat serius dengan hubungan mereka.


"Iya aku mau Mas" Jemima menatap Abram sembari tersenyum dan kemudian Abram mencium bibir Jemima dengan lembut dan lama-lama ********** dengan penuh ***** suara kecapan antara Jemima dan Abram bergema diruangan, hingga ciuman itu terhenti karna suara Dira yang tiba-tiba menangis. Jemima segera melepaskan bibirnya yang masih saja di kulum oleh Abram.


"Masss" Jemima mendorong Abram.


"Dira nangis" kemudian Jemima bangun dari posisinya sekarang dan Abram mengusap-usap tengkuk lehernya. Nafsunya tiba-tiba memuncak,padahal ini bukan ciuman pertama mereka. Ia ingin memiliki Jemima seutuhnya , ia harus bicarakan dengan Bundanya mengenai keputusannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2