
Menunggu bayi laki-lakinya di ruang perawatan berdua dengan Ibunya membuatnya sangat tidak sabar padahal ia masih lemas sehabis operasi. Rasanya ia ingin segera memberikannya ASI eksklusif, bersyukurnya Jemima karna ASI nya sudah mulai keluar. Setelah yang dinanti datang ia segera memeluknya dan menciumi kepalanya yang masih lembut.
"Gantengnya cucu Uti" ucap Ibu saat pertama kali melihat bayi mungil itu dipelukan Jemima.
"Iya Bu, tolong fotoin dedek Bu" minta Jemima kepada Ibunya, kemudian foto tersebut ia share kepada Kakaknya, Alya dan Bu Retno. Ucapan selamat diterimanya setelah mengirimkan foto tersebut.
✉️ Alya: Selamat ya Je sumpah ganteng banget anak lu. Maaf nih je buka maksud gimana tapi ini bayi mirip banget sama Bapaknya 😂
✉️ Bu Retno: Selamat Atas kelahiran baby boy nya. Semoga proses pemulihannya berjalan lancar ya. Nanti kalau ada waktu saya main kesana
Iya tersenyum membaca pesan tersebut. Apalagi pesan dari Alya ia tidak bisa mengelak bahwa secara fisik Dira panggilan untuk anak laki-lakinya lebih mirip ke Darwin.
Pagi berikutnya di Jakarta
"Bos inget ya besok saya cuti 3 hari" ucap Abram pagi-pagi saat menerangkan jadwal Darwin diruangannya,sedangkan yang diajak bicara hanya diam saja.
"Kenapa sih Bos muka lu gak enak terus" Abram sedikit kesal melihat Bosnya kalau sudah begini biasanya moodnya akan jelek seharian.
"Lu nikah bukannya happy malah cemberut terus"
"Yah gitu lah, Cindy ternyata enakan jadi pacar bukan istri." ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Yah gimana udah sah jadi isri lu, ajarin lah mau lu gimana biar dia berubah" Abram mencoba memberi nasihat,ia saja belum menikah sampai saat ini meskipun usianya lebih tua 1 tahun dari Darwin.
"Perasaan gue dari kemarin gak enak terus kenapa ya" ia memijat-mijat keningnya.
"Banyak dosa kali" ucap Abram dalam hati
"Nih Bos permintaan udah saya ganti reportnya, pokoknya besok saya cuti gak ada ganggu-ganggu revisi lagi ya" ucap Abram mengingatkan karna kelakuan Darwin yang sering mengganggunya selama cuti.
"Mau kemana?" tanya Darwin
"Semarang antar Nyokap kerumah sodaranya yang baru punya cucu" ia kemudian mengambil report yang sudah ditandatangani oleh Darwin.
"Yah gtu doang bisalah gue ganggu, kecuali lu lagi honeymoon sama cewe lu" Darwin tertawa
__ADS_1
"Cewe apaan" kemudian Abram meninggalkan Darwin diruang kerjanya dan ia kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Dirumah sakit.....
"Bu adek susunya kuat banget ya" Jemima terheran dengan kemampuan anaknya yang sudah lihai menyusu di pydra nya.
"Iya biar cepat gedenya Nak, jagain Mama dan Uti" Ibu menciumin bayi menggemaskan itu.
"Uti gak capai kan? Kalau memang lelah pulang saja duluan ke rumah" ucap Jemima mengkhawatirkan Ibunya.
"Enggalah Ibu masih kuat nemenin kalian berdua. Tadi Mbak Julia telpon Ibu, katanya Lyodra senang melihat Dira, dan ingin cepat ketemu, Ibu bilang cepat sembuh biar bisa ketemu adik bayi" cerita Ibu dengan begitu bahagianya.
"Ya sudah Ibu istirarahat dulu ya, nanti malam pasti Dira akan bangun cari Susu" ucap Jemima. Setelah lepas kateter Jemima sudah bisa berjalan pelan-pelan menuju kamar mandi. Nyeri di luka operasinya masih sangat berasa, tetapi ia tidak boleh manja, Jemima harus kuat bagi Ibu dan anaknya.
Esok hari, Jemima merasa sangat bosan karna berada dikamar terus. Setelah tadi pagi bayi nya diantarkan untuk disusui sampai siang ini bayi itu belum diantarkan kembali ke pelukannya.
"Bu Jeje mau jalan-jalan keruang bayi ya" pamitnya pada Ibu yang saat ini sedang menikmati acara gosip di siang hari.
"Iya pelan-pelan aja Je"
"Ibu koq sudah jalan-jalan" tanya seorang suster kepada Jemima.
"Iya sus, bosen dikamar sudah kangen juga sama anak saya" ucap Jemima
"Oh iya Bu pelan-pelan saja kalau mau menyusui masuk aja didalam ruangan" ucap Suster itu yang kemudian masuk kedalam ruangan.
"Jemima" Jemima menoleh kepada suara laki-laki yang sedang duduk di kursi tunggu depan ruangan bayi.
"Ehh Pak Abram" Jemima terkejut akan pertemuannya dengan Abram. Siapa sangka salah satu laki-laki yang ingin ia hindari malah bertemu tidak sengaja di sini.
"Jadii kamu sudah melahirkan" tanya Abram perlahan memastikan pikirannya.
"Ii iya Pak" jawab Jemima ragu kemudian pergi meninggalkan Abram dan masuk keruangaan bayi, ia ingin segera menghindari Abram.
Abram baru saja datang dari Jakarta dengan Ibunya, ia mengendarai mobilnya sendiri dan langsung menuju kerumah sakit tempat sepupunya melahirkan. Abram yang tadinya mengantuk dan memilih untuk beristirarahat sejenak di kursi tunggu sekilas melihat seorang wanita yang sepertinya ia kenal, ia agak lupa karna dalam kondisi mengantuk sehingga ia malas berfikir dan sempat mengabaikannya. Ketika wanita itu bebicara ia langsung teringat dan sadar bahwa itu adalah Jemima, perempuan yang beberapa kali ia cari keberadaannya untuk mengetahui keadaannya.
__ADS_1
Abram masih menunggu Jemima yang masuk keruang bayi, ia sempat melihat bayi laki-laki yang sedang tidur didalam box bayi dan diambil oleh seorang suster. Bayi laki-laki tampan kulitnya putih, hidungnya mancung, dari usia dini saja sudah terlihat kemiripan dengan Darwin. Pikirannya berlanjut apakah ia harus mengatakan ke Darwin mengenai hal ini. Lamunannya terhenti saat Jemima keluar dari ruangan bayi.
"Je" Abram menghampiri Jemima, dan ia hanya diam saja tetap melanjutkan langkahnya.
"Je kamu disini, gimana kabar kamu" tanya nya lagi, tapi yang ditanya hanya diam saja dan tidak ingin memandang diri laki-laki tersebut, selalu membuang muka.
"Je please saya mau bicara, anggap saya sebagai teman kamu ya, saya tidak akan kasih tahu Darwin" Abram kembali me ncoba mengajak Jemima untuk berbicara tetapi diacuhkan, kemudian ponselnya berbunyi dan nama Darwin yang muncul ia segera mengangkatnya.
"Iya Bos... ehmm saya sudah sampai" Jemima memandang Abram dengan tajam takut jika keberadaanya dan kondisinya diketahui Darwin.
"Bos ada yang mau saya infokan..."Abram mencoba menakuti Jemima seketika Jemima memegang tangannya dan tatapannya saat ini berubah menjadi memelas dan ia menggelengkan kepalanya. agar Abram tidak memberitahu keberadaannya.
"Iya ada sesuatu yang penting" Abram masih mencoba mengancam Jemima agar mau berbicara dengan dirinya.
"setelah ini kita bicara berdua?" bisik Abram ke Jemima dan ia mengangguk.
"Iya bos saya mau kasih tahu cuti saya nambah dua hari, udah gtu aja,ia ada yang urgent disini, saya gak bisa ninggalin Bunda sendiri, masalah report itu kirim ke email saja nanti saya balas saat di hotel, okey makasih Bos" ucap Abram dengan muka tersenyum menang dan menutup ponselnya.
"Jadi kita bicara dimana?"
"Disini aja saya gak bisa jalan jauh masih sakit" ucap Jemima menunjuk bangku tunggu yang tadi diduduki oleh Abram, Abram kemudian memegang tangannya untuk membantunya berjalan.
"Saya bisa sendiri Pak gak usah di pegangin" Jemima melepas pegangan Abram.
"Gimana kabar kamu?" Abram memulai percakapan
"Baik Pak" Jemima tidak berani menatap Abram jujur ia sangat takut dengan posisinya saat ini.
"Anak kamu gimana sehat kan, kapan lahirnya?"
"Sehat Pak, dua hari lalu" Jemima menjawab singkat pertanyaan Abram.
"Je percaya sama saya, saya tidak akan beritahu Darwin tanpa ijin kamu, saya bersyukur kamu gak melakukan hal bodoh waktu itu dan tetap melahirkan bayi ini, dia gak bersalah" Jemima menatap Abram mencoba meyakinkan dirinya mengenai ucapan Abram barusan.
"Bapak gak bohong?" tanya Jemima lagi
__ADS_1
"Percaya sama saya Je" Abram memberikan senyumnya dan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Jemima dan Jemima membalas senyumnya mencoba mempercayai kata-kata Abram.