
Pekerjaan pengecetan dinding dan sekat kamar akhrinya selesai selama 2 hari. Jemima kemudian merapikan barang-barang lain dibantu Ibunya, ia bersemangat sekali hingga melupakan kondisinya yang saat ini sedang hamil.
"Duhhh" keluhnya tiba-tiba
"Je kenapa?"tanya Ibu yang tampak khawatir.
"Sakit Bu perutku" ia memegangi perutnya yang sudah mulai kelihatan membuncit.
"Istirahat Nak, kamu tiduran dulu jangan dipaksakan" Ibu mengelus perutnya pelan-pelan agar anak didalam perutnya ikut tenang.
"Iya Bu aku tidur sebentar ya, Ibu juga jangan kecapaian" Jemima kemudian merebahkan dirinya dikasur yang baru saja ia beli kemarin.
Seminggu sudah Jemima dan Ibunya menempati ruko tersebut. Ia menghubungi Alya dan menanyakan kabarnya, ada rasa rindu akan kehidupannya yang dulu, setelah dia mengganti nomor ponselnya tidak banyak orang yang dapat ia hubungi. Sampai saat seminggu lalu ia masih bingung harus melakukan apa, ia tidak mungkin bekerja di kantor dengan kon hamil seperti ini. Dengan kemampuan yang terbatas dan meliht kondisi sekitar ia berinisiatif membuka warung makan dengan sajian utama telur, karna keahlian memasaknya sebagai seorang wanita hanya menggoreng telur. Warung makan sederhana dengan telur ceplok yang diberi berbagai macam bumbu khas masakan Indonesia dari balado, rica-rica, rendang dan kari. Tidak disangka ternyata warung makan sederhana yang ia buka bersama ibunya mendapat respon yang baik dari orang sekitar, karna daerah sekitar merupakan daerah kos-kosan mahasiswa sehingga banyak mahasiswa yang mencari makanan murah meriah. Ia sangat bersyukur dengan rejeki yang dimilikinya saat ini.
Kehamilan yang memasuki usia 7 bulan membuatnya mudah kelelahan, tetapi ia masih tetap semangat menjalani harinya. Tidak pernah ada rasa menyalahkan kepada anak yang dikandungnya atas kondisinya saat ini. Kadang ada saja yang bertanya mengenai ayah dari anak yang dikandungnya. "Lagi kerja dilaut Bapaknya, jarang pulang" jawaban bohong yang bisa ia sampaikan kepada orang-orang yang bertanya. Ia juga tidak ingin anaknya nanti lahir dihina tanpa ayah. Biarlah nanti kebohongan apalagi yang akan ia sampaikan jika anaknya lahir tetapi tidak pernah ada laki-laki yang menemaninya.
"Anak pinter kamu ya, gak pernah ngerepotin Mama" ucapnya sambil mengelus perutnya yang membesar
"Lahiran kapan Je?" tanya Ibu yang saat ini ikut berbaring setelah seharian membantu Jemima melayani pembeli.
"Mungkin 7 minggu lagi Bu" ucapnya sambil memperhatikan perutnya yang meliuk-liuk karna pergerakan bayinya.
"Yang sehat ya cucu Uti, temenin Mama mu nanti, jadi anak yang baik ya" Ibu mengelus perutnya sambil mendoakan hal-hal baik kepada bayi tersebut.
"Pinter koq dia Uti enggak pernah ngerepotin,nanti besar jagain Mama dan Uti ya Nak, jagoan Mama nih" Jemima tersenyum sambil memandang perutnya.
__ADS_1
"Bu, Mbak Juli kapan kesini ya, aku rencana mau secar saja biar bisa ditemani Mba Juli"
"Pas kamu lahiran katanya, coba telpon Mbak mu" Jemima menghubungi kakaknya yang kemungkinan belum tertidur.
"Mbakk" sapanya
"Iya Je ada apa?" jawabnya diseberang pulau sana
"Kapan kesini aku kangen loh" ucap Jemima
"Ya pas kamu lahiran aja, kamu kapan lahirannya?"
"Sekitar 2 bulan lagi, aku mau secar saja Mbak jadi mbak bisa temenin aku ya"
"Kenapa secar, kamu ada masalah?" tanya Julia khawatir
"Ya udah kabarin kamu operasi tanggal berapa biar Mbak beli tiketnya, Ibu baik-baik kan?"
"Baik Mbak udah siap nambah cucunya" kakak Jemima juga sudah memiliki anak berusia 4 tahun bernama Lyodra.
"Nanti Lyodra dibawakan Mbak?" tanya Jemima
"Ya dibawa gak ada yang jagain soalnya"
"Iya Mbak sudah kalau gitu, makasih ya Mbak salam untuk Mas Andi"
__ADS_1
"Iya istirahat juga jangan kecapaian" Jemima mengakhiri telepon itu dengan perasaan lega menunggu kehadiran kakaknya.
----- Jakarta----
"Kenapa bos bete banget mukanya" ucap Abram saat memasuki ruangan Darwin
"Biasalah, ngadepin perempuan ngambek, pusing gue, I always wrong" Darwin menghela nafas mengingat kelakuan istrinya yang tidak masuk akal.
"Abis ini kita diskusi bentar ya, gue ke toilet dulu" Darwin berjalan keluar ruangannya dan meninggalkan Abram diruangannya.
"Iya Je sehat-sehat ya disana, jaga kandungan lu baik-baik, nanti klo udah lahiran gue pasti kesana"
Terdengar samar suara percakapan dari balik dinding samping kamar mandi,Darwin yang sedang keluar dari kamar mandi terdiam mendengarkan percakapan itu dan tak lama sosok Alya melintas. Dalam hatinya Darwin bergumam.
"Je?? apa itu Jemima? apa dia gak jadi gugurkan kandungannya?, sekarang dia dimana , kata Abram rumahnya sudah kosong?" pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dikepalanya seharian ini.
"Bos kenapa gak konsen banget daritadi, kalau berantem segera selesaikan lah" ucap Abram yang merasa kesal dengan Darwin karna sedari tadi tidak nyambung diajak bicara.
"Hah iya nih pikiran gue kemana-mana, besok aja lah diskusinya kita lanjutin, gue mau balik" ucap Darwin bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobil kemudian meninggalkan Abram.
Dalam perjalanan pulang Darwin masih memikirkan Jemima, apakah dia perlu mencari tahu keberadaannya, kembali rasa bersalah menyeruak didalam dada dan pikira nya. Perlukah ia jujur dengan istrinya.
"Ahhh nanti sajalah, kalau memang anak itu lahir dia pasti akan cari gue lagi untuk minta tanggung jawab baru gue bilang sama Cindy" ucapnya menenangkan diri. Hubungan dengan istrinya yang baru seumur jagung ternyata penuh dengan rintangan, setelah menikah ternyata Cindy sangat manja menjadi seorang istri, apapun harus dituruti, ya wajar sesungguhnya karna ia berasal dari keluarga kaya raya. Sifat yang baru muncul setelah menikah laiinya yaitu Darwin tidak suka dengan sifatnya yang kadang merendahkan orang lain apalagi karyawannya, Abram saja sudah sering dihina sebagai laki-laki kampungan. Untuk urusan menjadi seorang istri Cindy belum bisa melayani seperti apa yang dia harapkan, istrinya hanya jago saja urusan ranjang untuk hal lainnya ia mengurus diri sendiri dan meminta bantuan bibi dirumahnya untuk menyiapkan kebutuhannya.
"Sayang aku nikah sama kamu bukan jadi pembantu ya, kamu minta bibi aja untuk siapin makanan kamu dan ambilin baju kamu" ucap Cindy setiap Darwin memintanya untuk mengurusi suami nya itu.
__ADS_1