
"Sudah lega kan?" ucap Darwin saat mereka kembali ke rumah Jemima.
"Iya Pak" Jemima tersenyum walaupun dalam hati kecilnya masih tidak percaya akan dimudahkannya pertemuan tadi.
"Nanti saya akan minta seseorang untuk urus dokumen pernikahan" ucap Darwin lagi.
Masih tidak terbayang akan hubungan yang akan dijalani Jemima dan Darwin. Jemima masih kaku terhadap Darwin dan begitupun sebaliknya, Jemima yakin jika yang Darwin lakukan semua demi Dira.
Hari berlalu, mereka kembali dengan kesibukannya masing-masing. Hubungan dikantor dilakukan secara profesional atau lebih tepatnya memang seperti itu keseharian mereka bahkan saat sedang berdua. Tidak seperti layaknya pasangan yang akan menikah menunjukkan kemesraan masing-masing. Jemima yang kaku sedangkan Darwin hanya perhatian akan ke anaknya saja. Kadang Jemima hanya bisa menghela nafas saja, menetralkan hatinya yang bingung akan hubugan dengan Darwin.
"Je.. apa kabar?" Abram datang kembali setelah beberapa lama tidak muncul.
"Kabar baik Mas, mau ngapain kesini?" tanya Jemima ketus ia masih sebal dengan bunda dan istri Abram karna dituduh pelakor.
"Ketemu kamu... eh ketemu Darwin" Abram bukannya langsung masuk keruang Darwin malah duduk di bangku depan meja Jemima. "Kamu sibuk gak? Nanti makan siang bareng ya?" ucap Abram yang masih memandangnya dengan lekat.
"Aku sudah ada janji makan siang dengan Alya" ucap Jemima bohong tetapi yang dibohongi hanya senyum-senyum menatap wajahnya sambil menopang dagu.
"Aku antar pulang ya" ucapnya lagi
"Gak bisa, Jemima sama gue. Lu ngapain sih masih gangguin" Darwin muncul dari dalam ruangan kerjanya.
"Ya gue kira lu gak bisa antar, kan pas Bos sibuk" Abram bangkit berdiri kemudian masuk kedalam ruangan Darwin. Jemima hanya geleng-geleng kepala menghadapi tingkah Abram.
Dalam perjalanan pulang Darwin mengajaknya untuk mencoba beberapa gaun yang akan dipakai saat pernikahan nanti.
"Kamu coba dulu saja gaun yang mau dipakai" Jemima memilih beberapa gaun dengan tampilan minimalis.
"Pak bagus yang mana?" Darwin yang sedari tadi sibuk menatap ponselnya tidak memperhatikan apa yang dilakukan Jemima.
__ADS_1
"Hah ehmm yang mana ya kayaknya semua bagus" ucap Darwin yang kebingungan saat ditanya oleh Jemima.
Darwin memperhatikan lagi gaun yang dipegang Jemima dan salah satu pegawai "Terserah kamu" Jemima menghela nafas ia merasa pernikahan ini tidak seperti yang dibayangkan. Darwin yang awalnya antusias tiba-tiba berubah menjadi cuek dengan dirinya.
"Besok lagi saja Pak carinya, kayaknya Bapak lagi sibuk" ucap Jemima yang berdiri didepan Darwin yang sedang duduk masih serius dengan ponselnya.
"Eh gak apa-apa kamu bisa pilih sendiri saja" ucap Darwin, ia bangkit dan menuju barisan gaun-gaun dan mengambil asal salah satu gaun "Ini bagus buat kamy Je" padahal gaun yang diperlihatkan gaun dengan model lama yang sudah ketinggalan jaman.
"Pulang yuk Pak, nanti Dira menunggu lama" ucap Jemima sambil memperhatikan ponsel ditangannya. "Maaf mbak nanti saya lihat-lihat lagi" ucapnya pada salah satu spg di butik itu. Kemudian melangkah keluar dan diikuti oleh Darwin.
"Kamu yakin gak cari sekarang, besok aku gak bisa temani kamu loh" ucap Darwin
"Mau kemana Pak, bukannya besok malam tidak ada jadwal ketemu siapapun?" tanya Jemima penasaran
"Ada teman tadi dia menghubungi mendadak" jawab Darwin
"Yahh padahal saya mau ketemu, kelamaan ya tadi di butik" Darwin tampak kecewa.
"Iya besok pagi saja Pak, aku turun dulu ya Pak" kemudian Jemima turun dari mobil Darwin tidak ada kegiatan romantis yang dilakukan oleh kedua pasangan ini saat berpisah ataupun bertemu. Jemima menunggu didepan rumah hingga mobil Darwin pergi dari hadapannya.
Acara pernikahan mereka akan diadakan sekitar 3 minggu lagi, Jemima memutuskan tidak mengundang banyak orang hanya Kakak, Bu Retno dan Alya saja yang masuk dalam list undangannya. Entah hatinya merasa ragu mendekati hari pernikahan, layaknya para calon pengantin yang merasakan ke galauan mendekati hari H. Untuk Jemima bukan tanpa alasan perasaan itu muncul, Darwin yang tiba-tiba pergi tanpa memberitahunya atau Darwin yang tidak tertarik dengan rencana pernikahannya. Jemima merasa jika Darwin terpaksa melakukan ini semua.
Hingga suatu saat datang seorang wanita yang beberapa bulan tidak bertemu dengan kondisi perut membesar.
"Bu Cindy" sapa Jemima ramah dari meja kerjanya.
"Darwin ada?" Jemima masih fokus ke perut Cindy yang sedang mengandung.
"Ada Bu sedang meeting dengan bagian tehnik"
__ADS_1
"Sore ini jadwal saya periksa kandungan karna tadi saya dari Mal sekalian saja mampir kesini supaya Darwin tidak bolak balik menjemput saya" Jemima terpaku mendengar ucapan Cindy.
Cindy menatapnya dengan sinis sambil berucap "Kamu gak tahu ini anak siapa? Ini anak Darwin juga dan kamu tahu dia begitu excited akan kehamilan saya, meskipun kami sudah bercerai" badan Jemima tetiba lemas mendengar ucapan Cindy.
"Saya sudah melakukan tes DNA akan bayo dalam kandungan ini dan benar anak Darwin, jadi kamu jangan diatas angin untuk memilikinya sendiri" Jemima hanya diam tidak bisa merespon ucapan Cindy.
"Saya masuk ya capai berdiri terus" kemudian ia masuk kedalam ruangan Darwin dan Jemima masih merenungi ucapan Cindy tadi.
Darwin datang sedang santainya " Sore ini saya ada janji tidak bisa antar kamu pulang?"
"Iya Pak tamunya sudah ada diruangan"
"Tamu??" Darwin tampak bingung
"Bu Cindy katanya sekalian ke dokternya dari sini saja" ucapnya tanpa melihat wajah Darwin dan Darwin buru-buru masuk kedalam ruangan.
Jemima kembali menyandarkan badannya di kursi kerjanya, pikirannya jadi kacau apakah keputusannya sudah benar untuk menikah dengan Darwin. Ia mencoba kembali fokus dengan pekerjaannya berusaha menyelesaikan dengan cepat agar bisa bertemu dengan anak laki-lakinya yang semakin aktif. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore waktunga pulang kerja. Tanpa pamit dengan Darwin yang sedang berada di dalam ruangan dengan Cindy ia langsung saja pergi dan menaiki taxi yang berada dilobby.
Didalam ruangan Darwin sedang mengusapi perut Cindy. Karna Cindy merasa mual dan lemas.
"Win pokoknya aku mau ketemu kamu setiap hari, ini permintaan anak kamu loh, aku juga ingin nanti saat melahirkan sama kamu ya" ucap Cindy manja.
"Iya aku usahakan nanti aku bicarakan dengan Jemima mengenai kehamilan kamu" Darwin yang masih ada rasa cinta ke Cindy meskipun sudah sempat diselingkuhi teyap saja tidak bisa mengelak atas permintaan Cindy.
"Win kamu tega banget nanti saat anak ini lahir dia tidak punya Daddy, aku ingin kita nikah lagi saja" ucap Cindy yang memeluk lengan Darwin.
"Tapi aku sudah mau menikah dengan Jemima Cin" Darwin memandang Cindy
"Batalkan kalau begitu" rengek Cindy ke Darwin....
__ADS_1