
Jemima mengemasi segala macam barang yang ada dirukonya selama 2 tahun lebih ia tempati. Satu persatu ia masukkan kedalam kardus, ia tidak sendiri dibantu oleh Bude Wati. Tak jarang Dira ikut membantu atau lebih tepatnya ikut memberantaki barang-barang yang sudah dirapikannya. Hal yang paling membuatnya sedih adalah ketika merapikan barang-barang milik ibunya, baju-baju yang masih tertata rapi dan wangi tubuh Ibu nya yang masih tertinggal dari pakaian yang tergantung di balik pintu ,mengobati sedikit kerinduan akan sosok wanita penyayang dan tersabar yang pernah hadir dihidupnya. Air matanya menggenang mengingat bagaimana ia belum bisa membahagiakan Ibunya.
"Sudah Je jangan menangis lagi, Ibu mu pasti gak tenang disana kalau ditangisi terus" ucap Bude Wati yang melihat Jemima menangis.
"Iya Bude. Terimakasih juga sudah mau ikut saya ke Jakarta menemani Dira" Jemima menciumi baju Ibunya.
"Iya daripada Bude sendiri disini" Bude Wati yang saat ini sudah ditinggal suaminya menikah lagi memilih mengikuti Jemima karna anak-anaknya juga sudah berumah tangga dan tidak ingin menambah beban anaknya yang hidupnya juga mengalami kesulitan.
Sebelum mereka ke Jakarta semua barang-barang yang terbungkus rapi dalam kardus sudah diangkut kedalam truk menuju ke Jakarta.
Siang ini mereka bertiga sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta ,rencannya hari ini Darwin akan menjemput dirinya dan Dira di Bandara . Ditunggu hingga 1 jam lelaki blasteran itu tidak kunjung datang. Jemima jarang menghubungi Darwin terlebih dahulu karna merasa tidak enak jika diketahui istrinya. Tetapi karna kelamaan menunggu dan Dira sudah rewel ia mencoba menghubunginya karna ia tidak tahu apartemen mana yang akan ditempati dirinya dan belum mendapatkan kunci dari Darwin.
Diteleponnya Darwin hingga berkali-kali tetapi lelaki itu tidak mengangkatnya, ia sudah mulai kesal dengan Daddy nya Dira. Kemudian dia ragu apakah harus menghubungi laki-laki yang sedang ingin dia lupakan.
Debaran dijantungnya meningkat saat sambungan telepon itu berbunyi.
"Halo Je" jawab Abram antusias.
"Mas maaf ganggu waktu kamu. Apa pak Darwin sama Mas, aku ada perlu daritadi dihubungi tidak bisa"
"Dia sedang meeting Je ini aku keluar sebentar dari ruangan. Ada yang bisa aku bantu? Kamu gak apa-apa kan?" suara Abram sedikit panik.
"Ehm gak ada Mas. Aku minta tolong nanti kalau sudah selesai Pak Darwin telpon balik ke aku"
"Iya Je nanti aku sampaikan. Ehm Je gimana kabar kamu?"
"Baik Mas, kabar Mas juga gimana?"
"Kurang baik Je" jawab Abram pelan
"Iya" Jemima tidak mau bertanya lebih lanjut lagi takut hatinya sakit. Ia berusaha membentengi hatinya lagi kepada Abram.
"Kamu gak mau tanya kenapa aku kurang baik"
"Enggak Mas. Sudah bukan urusan aku. Sudah ya Mas terimakasih" Jemima sudah tahu maksud dari ucapan Abram dan berusaha menyelesaikannya.
__ADS_1
"Iya Mama Dira. Miss you"ucap laki-laki itu.
Setelah menelepon Abram yang ada hatinya malah menjadi kesal. Bisa-bisanya dia bilang seperti itu padahal dia sudah jadi suami orang. Akhirnya ia menunggu Darwin selama 2 jam, anaknya yang sudah capai berlarian kesana kemari akhirnya tetidur dalam pangkuannya. Darwin datang terburu-buru bersama Abram.
"Maaf Je tadi kami ada meeting" ucap Darwin dengan muka bersalah dan Abram hanya memandangi muka Jemima yang tampak lelah.
"Iya Pak gak apa-apa" padahal dalam hatinya Jemima sudah capai dan kesal.
"Saya antar kalian ke Apartemen." kemudian Darwin berjalan didepan.
"Biar aku yang gendong Dira" ucap Abram
"Tidak Mas aku kuat" tanpa ijin dari Jemima Abram tetap mengambil Dira dari gendongannya.
"Kenapa gak bilang tadi kalau kalian sudah sampai. Kan aku bisa jemput". Abram berjalan sejajar dengan Jemima
"Kan kamu ikut meeting , mau jemput gimana mas" Jemima tidak mau memandang Abram.
"Aku tinggal saja Darwin. Tadi aku juga maksa untuk ikut kesini, kalau gak besok laporan yang dia minta gak aku beresin" Abram tersenyum sendiri teringat akan kejadian tadi dimana ia tidak sengaja mendengar Darwin menelepon Jemima dan mengetahui jika wanita itu ada di Jakarta kemudian ia memberi ancaman tidak akan menyelesaikan pekerjaannya sebelum resign jika tidak diperbolehkan ikut akhirnya Darwin mengijinkannya untuk ikut menjemput Jemima.
"Gak apa-apa" Abram yang sedang menyetir mengintip kaca spion tengah untuk melihat Ibu dan Anak yang dia dirindukan.
"Sini aku gendong lagi Dira ke unit" ucap Abram saat mereka sampai di basement.
"Gue aja itu kan anak gue" ucap Darwin tak mau kalah. Abram tidak membantah memang itu anak Darwin dan sekarang ia pakai kesempatan itu untuk mendekati Jemima.
"Kalau kamu butuh apapun hubungi aku Je" Abram meletakkan tangannya di bahu Jemima dan dihempaskan oleh wanita itu.
"Diusahakan tidak Mas" Jemima menatap sinis Abram yang tak pernah lepas senyumnya ke Jemima.
Sampailah mereka diunit apartemen Darwin dilantai 11.
"Maaf Je apartemennya kecil, aku belum siapkan rumah untuk kalian. Mungkin akhir bulan ini setelah aku menyelesaikan urusan ku, kita bisa cari rumah untuk kamu dan Dira" ucap Darwin dan Abram memeriksa semua ruangan memastikan apartemen tersebut aman untuk Dira.
"Nanti pintu balkon harus selalu tertutup ya, pastikan juga jendela aman" Abram sedikit khwatir karna Dira bocah yang sangat aktif.
__ADS_1
"Iya Mas" ucap Jemima yang memperhatikan sekeliling ruangan ,ketika masuk akan disambut dengan lorong yang berbatasan dengan kamar utama dikiri dan kamar mandi ditengah-tengah antara kamar utama dan kamar tidur yang lebih kecil, kemudian dipojok ruang berdampingan ruang keluarga dan dapur. Cukup besar untuk Jemima dan anaknya serta ditambah Bude Wati.
"Wahh Je. Ini tinggi sekali Bude ngeri lihat bawahnya" Bude Wati bergidik ngeri saat berada di balkon.
"Hati-hati saja Bude. Balkon tidak usah dibuka" ucap Abram mengingatkan.
"Win kayaknya lu perlu cari rumah, ini gak safety untuk Dira"
"Iya gue rasa juga gitu. Belum sempat gue modifikasi. Nanti gw akan cari rumah untuk mereka." alis Darwin mengerut ia juga sedikit khawatir dengan anaknya.
"Barang-barang kalian belum sampai ?" tanya Abram.
"Belum Mas mungkin besok baru sampai" jelas Jemima .
"Je ikut aku ke supermarket dibawah kita beli beberapa perlengkapan yang kamu butuhkan" ajak Abram ke Jemima karna melihat unit apartemen itu masih kosong.
"Gak perlu Mas, besok juga datang" tolak Jemima, tanpa perintah Abram langsung menggandeng tangan Jemima dan mengajaknya kesupermarket tersebut.
"Bude titip Dira" ucap Abram
"Bram kemana lu, main pergi saja" omel Darwin
"Sebentar, jagain anak lu dulu."
"Halahh modus lu" ledek Darwin yang tahu maksud Abram.
"Mas ihh jangan gandeng" tolak Jemima ketika sedang menunggu lift.
"Biasanya gak apa-apa gandeng kamu" Abram tersenyum jahil ke arah Jemima.
"Iya itu kan waktu kamu masssii......... ah sudahlah" Jemima malas membahasnya seharusnya Abram sudah tahu dan sadar bahwa dirinya memiliki istri. Jemima kemudian melipat kedua tangannya depan dada agar Abram tidak menggandengnya tapi saat didalam lift tapi yang ada Abram malah memeluk dan mencium kepalanya.
"Kangen kamu" ucap Abram sambil memejamkan mata mengobati segala kerinduan.
-----
__ADS_1
jangan lupa like dan komen