
Jemima membuka pintu kamarnya " Gak mau Pak pokoknya. Nikah itu bukan main-main saya hanya ingin menikah dengan orang yang saya cinta"
"Maksudnya" Abram ternyata masih ada didepan kamar Jemima mendengar apa yang baru dikatakan oleh Jemima.
Jemima diam menatap Abram,"Sudah kalian berdua pulang saja. Aku gak apa-apa" Jemima duduk di salah satu sofa.
"Je pikirkan lagi ajakan saya." Darwin masih mencoba membujuk Jemima.
"Gak Pak. Kan saya sudah bilang mau nikah sama yang saya cinta, saya gak cinta sama Bapak" Jemima menatap kesal Darwin.
"Bener Je jangan mau. Nikah harus sama-sama cinta" saut Abram yang tidak terima ajakan Darwin.
"Diem kamu Mas." Jawab Jemima ketus.
"Iya diam lu Bram kaya nikah sama istri lu cinta aja" Darwin ikutan kesal karna Abram mencampuri urusannya.
"Cekkk" Abram menggaruk-garuk kepalanya.
"Pulang kalian berdua" kemudian Jemima menarik tangan Darwin dan Abram mengarahkan ke pintu keluar.
"Je. Saya belum pamit dengan Dira" ucap Darwin mencoba masuk kembali.
"Gak usah nanti aku bilangin ke anaknya. Ingat pak Darwin besok pesawat sore ke Jepang. Siap-siap dulu sana. Dan saya mau cuti selama 1 minggu jangan ada yang ganggu." kemudian Jemima menutup pintu rumahnya masuk kedalam kamarnya dan memikirikan ucapan Darwin.
Jemima diam dan bergumam dalam hatinya, tak habis pikir bisa-bisanya Darwin mengajak menikah, sudah cukup punya anak darinya tapi tidak untuk menikah. Ia juga ingin menikah dengan pria yang dicintai dan sama-sama cinta dengan dirinya.
"Win gue gak terima kalau lu nikahin Jemima" dua laki-laki dewasa ini masih beradu mulut didepan rumah Jemima.
"Urusan lu apa Bram. Jelas-jelas lu tuh orang luar. Lu cuma mantan doang sedangkan gue ayah kandung Dira." Darwin membela dirinya.
__ADS_1
"Gak bisa, kasihan Jemima udah lu hamilin sekarang lu paksa nikah" Darwin yang kesal atas ucapan Abram langsung menonjok Abram, dan terjadilah adu jotos didepan rumah. Bude Wati yang melihat segera memberi kabar ke Jemima.
"Je je itu Daddy Dira sama Mas Abram malah pukul-pukulan depan rumah" Jemima segera berlari melihat keadaan dan benar saat ini Abram ada dibawah kungkungan Darwin sedangkan Darwin diatas badannya siap memukul wajah Abram.
"Pakkk stop jangann Pak" Jemima menahan tangan Darwin dan Darwin tersadar akan tindakan salahnya dan berdiri. Jemima membantu Abram duduk.
"Mas gak apa-apa kan? Pulang saja sana" Abram mengganguk kemudian masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Darwin yang masih marah sambil menendang-nendang ban mobilnya.
"Pak sudah jangan marah, kenapa sih Pak harus pakai pukul-pukulan gini" Darwin mengambil nafas dalam-dalam dan masuk kedalam rumah Jemima.
"Sini aku obatin lukanya" Jemima mengambil kotak obat dan membersihkan luka di bibir Darwin.
Dira yang sedang mengeksplorasi rumah menghampiri Daddynya yang sedang duduk disofa sambil diobati lukanya. Dira yang sudah mulai akrab dengan Darwin ingin mengajak bermain bersama.
"Jangan Dira, Daddy lagi sakit" Jemima melarang Dira untuk mendekati Darwin, selain mukanya terdapat beberapa luka , pakaiannya juga kotor karna pertengkaran tadi.
"Akhir minggu ini saya ajak kerumah ketemu Papa dan Mama saya" ucapnya sambil memandang mata Jemima.
"Kenapa diam? Kamu takut?" Jemima tidak mampu menjawab ajakan Darwin.
"Mereka sudah tahu soal Dira dan mereka ingin bertemu. Setelah saya pulang dari Jepang saya jemput kalian okey" Jemima masih diam.
"Saya pulang dulu, kamu besok gak usah masuk dirumah saja" Darwin bangkit berdiri dan diikuti Jemima.
"Jangan lupa lukanya dibersihkan lagi dan dikompres, besok kan mau ketemu Mr Kei. Semoga muka kamu gak bengkak. Jangan lupa minta maaf sama Abram, aku gak tahu kalian berantem kenapa" ucap Jemima mengantarkan Darwin kedepan rumahnya.
"Iya Je, if any problem don't hesitate to call me. Bye" Darwin pergi meninggalkan rumah Jemima.
---
__ADS_1
"Kakakk itu kenapa mukanya?" Manda kaget melihat Abram yang pulang dengan keadaan lebam. Kebetulan Bundanya juga ada di apartemen mereka.
"Mas kenapa muka kamu, berantem sama siapa?" Bunda ikutan panik melihat muka anaknya.
"Kak sini aku obatin" Manda mencoba menyentuh muka Abram tetapi di tepis oleh lelaki itu.
"Aku bisa sendiri" Abram segera masuk kedalam kamar mandi. Ia butuh waktu sendiri, ia kesal mendengar Darwin mengajak Jemima menikah, ia tidak terima. Tapi ia juga terjebak dalam penikahannya. Sampai saat ini dia belum bisa menerima Manda sebagai istrinya, dan dengan sabarnya Manda menerima atas perlakuan Abram kedirinya. Setelah membersihkan diri ia masuk ke dalam kamar tidurnya.
"Kak kamu bertengkar kenapa?" Manda bertanya dengan hati-hati
"Ada lah " ucap Abram ketus.
"Kak kamu kenapa tidak mau terbuka sama aku, aku tahu kamu gak cinta sama aku tapi mau sampai kapan Kakak seperti ini" suara Manda bergetar menahan tangis karna kelamaan diapun tidak kuat berumah tangga seperti ini dengan Abram. Sudah beberapa bulan tapi Abram belum menyentuhnya. Ia juga butuh kasih sayang dari seorang suami.
"Sampai aku siap" ucap Abram lagi
"Kapan Kak? Apa Kakak belum bisa menerima aku, kurang aku apa Kak, apa perempuan bernama Jemima itu lebih baik dari aku." Abram memandang Manda, darimana dia tahu mengenai Jemima.
"Masalah hati tidak ada yang tahu Man, aku harap kamu mengerti soal itu"
"Aku baru tahu dari Cindy ternyata perempuan itu punya anak dari Darwin, kenapa perempuan murahan seperti dia bisa mendapat cinta Kakak" Manda emosi dan mengucapkan kata-kata yang menyinggung Abram.
"Kamu bilang apa Man? Perempuan murahan? Dia perempuan baik-baik, teman kamu itu yang murahan. Jangan pernah kamu hina Jemima Man" kekesalan Abram bertambah, belum hilang kesal dengan Darwin kali ini ditambah dengan ucapan Manda. Ia pergi dari apartemennya.
"Mas mau kemana, duh nih anak koq tiba-tiba marah kenapa Man?" tanya Bunda ke Manda didalam kamar yang ternyata sedang menangis. Duduk dan bersandar dibawah tempat tidur Manda menangisi pernikahannya dengan Abram yang ia pikir akan bahagia.
"Sabar ya Ndok, suatu saat Abram pasti akan menerima kamu. Kamu itu anak baik. Matanya masih tertutup dengan wanita itu" Bunda memeluk dan mengusap punggung Manda.
"Bunda tahu dia masih sering ketemu wanita itu, nanti sama-sama kita hampiri dan kasih peringatan ya Ndok" Manda mengganguk mendengar ucapan mertuanya.
__ADS_1