Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Berdegup Kencang Jantungku


__ADS_3

Dua orang wanita dan laki-laki dewasa secara umur yang tampak malu-malu ini sampai di kediaman Jemima. Selama diperjalanan tidak banyak yang dibicarakan, Abram masih berasa tidak enak dengan Jemima.


Saat Jemima dan Abram keluar dari mobilnya ada Bu Neno yang sedang berdiri didepan ruko nya.


"Oh ada Papa nya toh, enak-enakan abis pacaran berdua ninggalin anaknya, nangis terus daritadi tuh" ujar Bu Neno


Mendengar hal itu Jemima panik dan segera masuk kedalam kamarnya.


"Bu, Dira rewel ya?" ucap Jemima saat memasuki kamarnya dan melihat Ibunya sedang menggendong Dira yang tertidur.


"Gak koq pinter cucu Uti, nangis biasa tadi wajar lah" Ibu berucap menenangkan Jemima.


"Aku pikir rewel tadi kata Bu Neno adek rewel" Jemima bernafas lega ternyata omongan Bu Neno tidak benar.


"Ahh emang orangnya gak bener dia Je, gak usah dipikirkan" sebenarnya Dira sedikit rewel tapi Ibu berusaha menutupi agar Jemima tidak khwatir, ia tidak mau mengganggu kebersamaan Jemima dan Abram yang hanya pergi sebentar, karna ia tahu Jemima ada rasa ke Abram meskipun anaknya itu tidak mengatakannya. Dan Ibu melihat kalau Abram anak yang baik juga jadi biarlah Jemima sedikit merasa bahagia dengan hidupnya.


Jemima kemudian keluar dari kamar dan melihat Abram sedang berdiri didepan kamarnya.


"Gimana Dira?" tanya Abram khawatir juga, ia merasa bersalah karna mengajak Jemima pergi.


"Gak apa-apa koq Mas gak rewel" muka Abram berubah tampak tenang.


"Aduh Mas aku belum siapin kamu makan, pasti kamu lapar ya" Jemima kemudian turun dan menyiapkan makanan untuk Abram.


"Makan bareng Je masa saya makan sendiri" saat sepiring nasi serta lauk telur balado tersaji dimeja.


"Gak apa-apa Mas anggap aja rumah sendiri, aku mau mandi dulu ya" kemudian Jemima pergi kekamar mandir meninggalkan Abram sendiri untuk makan.


Setelah selesai makan Abram pamit pulang menuju hotel.


"Je aku pulang ke hotel ya" Jemima yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya mengenakan handuk diatas lututnya membuat Abram menelan ludahnya dan menatap tidak berkedip.


"Nanti dulu Mas" Jemima cepat-cepat lari kekamarnya karna kebodohannya tidak membawa baju ganti.


Tak lama Jemima keluar sambil menggendong Dira. "Mas sudah mau pulang?" kemudian Abram mendekati Jemima


"Iya aku kerumah sepupuku dulu ada titipan dari Bunda" Abram kemudian mencium pipi Dira.


"Om pamit dulu besok kembali lagi antar Dira disuntik, okey" ucap Abram kepada Dira yang dijawab dengan senyum manis


"Hati-hati ya Mas" Jemima mengantar Abram hingga depan ruko nya yang sudah sepi karna warung makanannya sudah tutup.

__ADS_1


Jemima tersenyum bahagia karna Abram mulai mengisi hatinya sedikit dan sepertinya baby Dira juga sepakat karna malam ini dia tidur dengan nyenyak.


Esok pagi Abram datang kembali.


"Pagi Je" ucapnya saat memasuki rukonya. Jemima masih membantu Bude Wati melayani para pembeli yang mulai ramai di pagi hari ini.


"Bentar ya Mas" Abram beralih kebaby Dira yang sedang bermain sendiri didalam stroller nya.


"Hai bayi ganteng" kemudian Abram menggendong Dira dan membawanya kedepan ruko.


"Dira tumben digendong Papa nya" suara Bu Neno menggema dari sebrang jalan. Muka Abram sudah berubah menjadi tidak senang jika bertemu dengan tetangga Jemima yang satu ini.


"Iya Bu" jawabnya, dan Bu Neno yang sepertinya habis dari minimarket terlihat dari bungkusan plastik yang dibawanya mendekati dirinya.


"Mas nya koq gak nginep disini sih" tanya Bu Neno


"Emang Ibu lihat saya menginap atau tidak" tanya Abram dengan muka datar nya.


"Ya lihat kemarin saja pergi malam-malam pakai mobil terus gak balik lagi, Mas suaminya Mba Jemima atau bukan sih"


"Suami atau bukan itu bukan urusan Ibu"


"Ya salah Ibu-ibunya kenapa membiarkan suaminya makan di warung, berarti istrinya gak bisa menservice suami nya dengan baik, atau mungkin mulutnya kaya Ibu yang suka urusin orang lain makanya gak betah dirumah" Abram langsung meninggalkan Bu Neno dan Bu Neno tampak kesal dengan perkataan Abram kemudian pergi menuju rumahnya.


"Kenapa Mas?" tanya Jemima yang baru saja turun dari kamarnya dan sudah siap untuk pergi.


"Gak apa-apa, ayo kita pergi" ajak Abram


Selama dijalan Abram melirik Jemima berkali-kali yang sedang duduk dibangku tengah. Pikirannya melayang akan perkataan Bu Neno tadi, kasihan sekali wanita ini padahal dia tidak pernah melakukan hal jahat tetapi orang berfikiran yang tidak-tidak tentangnya.


Sampai dirumah sakit Abram dengan sigap membuka pintu mobil untuk Jemima serta membawakan tas yang berisi peralatan bayi. Sikapnya sangat melindungi Jemima serta anaknya.


"Disuntik dulu ya Dira" dokter anak mulai menyuntikkan vaksin BCG dan Polio ke diri Dira. Seketika tangis bayi itu pecah, Jemima mengusap-usap kepala bayi itu.


"Pinter pinter ya Nak" katanya, Jemima duduk didepan dokter menanyakan beberapa hal mengenai perkembangan bayinya dan Abram yang melihatnya kerepotan segera mengambil Dira dari pangkuannya.


"Sama aku sini" suster muda yang daritadi melihat Abram tersenyum-senyum malu berkata "Digendong Papa ya Dira jangan nangis dong, kasihan nanti Papanya"


Sudah 2 orang yang menyebut dirinya Papa dari Dira, apakah ia pantas menjadi Papa bagi anak ini. Ia mulai berfikir kedepan mengenai perasaanya dan sudah memastikannya.


Mereka berjalan berdua menuju kasir untuk membayar jasa dokter dan vaksin tadi. Tetapi Jemima merasa ada bau-bau aneh dari anaknya.

__ADS_1


"Yah Mas, Dira eek nih aku gantiin dulu ya"


"Mana slip dari dokter tadi aku pegang aja" kemudian Jemima memberikan kertas dari ruangan dokter mengenai data Dira dan ia bergegas menuju keruangan bayi.


Abram membawa kertas itu ke kasir dan membayarkan biaya dokter serta imunisasi Dira


"Lumayan juga ya" Abram baru tahu jika biaya imunisasi cukup mahal , ia bukannya pelit tetapi memikirkan bagaimana Jemima harus membayar ini semua sendirian.


Cukup lama Jemima keluar dari ruangan bayi dan Abram dengan tenang menunggunya didepan ruangan bayi.


"Maaf ya Mas lama tadi Dira mau menyusu juga" ucap Jemima karna merasa tidak enak sudah membuat Abram menunggu.


"Gak apa-apa sebelum pulang makan dulu ya di mal mau?" tanya Abram


"Iya sebentar aku bayar dulu imunisasi tadi, mana kertasnya Mas?"


"Gak ada udah aku buang"


"Lah koq dibuang gimana Mas kan kita harus bayar nanti kalau kesini lagi di black list lagi" ucap Jemima panik.


"Sudah aku bayar Mama Dira, sekarang kita makan yuk, aku sudah lapar masa Dira aja yang kenyang" kemudian dengan tiba-tina Abram menggandeng tangan Jemima dan mengajaknya berjalan.


Jemima masih bingung akan sikap Abbram barusan yang membayarai keperluan anaknya serta gandengan tangan yang sedang mereka lakukan.


Ia hanya diam hingga sampai didalam mobil ia baru berani bertanya.


"Kenapa Mas dibayarin pokoknga aku ganti ya, kirim nomor rekening kamu" Jemima menatap Abram yang duduk di bangku pengemudi.


"Gak denger" ucap Abram dan menjalankan mobilnya ke sebuah mall sesampai di mal pun Abram dengan percaya dirinya menggandengan tangan Jemima, dan tidak ada penolakan oleh Jemima. Bahkan saat makan pun Abram dengan sigap menggendong Dira agar Jemima bisa makan dengan leluasa. Hati Jemima sungguh tidak karuan hingga di mobil Abram ,berkali-kali meliriknya dari spion tengah dan tersenyum tiap mereka berpangandangan.


"Aku kembali ke Jakarta ya Je, mungkin bulan depan aku datang lagi, nanti kabari lagi jadwal imunisasi Dira biar aku temani " saat ini mereka sudah ada diruko Jemima dengan Dira yang berada di gendongannya dan Abram berpamitan ke Jemima setelah sebelumnya ia berpamitan dengan Ibu Jemima.


"Hai anak ganteng baik-baik dirumah sama Mama , jangan lupa kirimkan video Dira ya Je, biar aku bisa mengobati rasa kangen ke kalian" Abram mencium pipi Dira dan secepatnya mencium pipi Jemima juga. Jemima kaget dengan tindakan Abram barusan, ia mau marah tetapi muka Abram malah tersenyum senang.


"Biar Mama nya gak iri, bye" kemudian Abram segera memasuki mobilnya meninggalkan Jemima yang masih terdiam dengan jantung yang berdegup kencang.


-------


wah hari ini Triple Up 😁😁


Jangan lupa like dan komen yakk gaes.

__ADS_1


__ADS_2