Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Bab 82


__ADS_3

"Dira yang sopan!!" bentak Jemima akhirnya karna merasa tindakan anaknya sudah diluar batas.


"Sabar Yang" ucap Gerry berusaha menengahi.


"Aku gak suka Mas, dia gak sopan seperti itu" Jemima masih menahan amarahnya.


"Kamu tenangi diri dulu, kamu tanya baik-baik ke Dira kenapa dia bisa berucap seperti itu. Sekarang aku pulang ya. Biar kalian bisa bebas berdua. Ingat kamu harus sabar" ucap Gerry memeluk Jemima dan mengusap punggung Jemima agar wanita itu tidak emosi kepada anaknya, setelah mengecup bibir Jemima ia meninggalkan rumah itu menuju kosannya sementara.


Jemima menghampiri Dira yang sedang duduk dipojok kamar mereka berdua.


"Dira kenapa?" tanya Jemima sambil ikut duduk dilantai dan berusaha merendahkan suaranya agar Dira bisa jujur akan perasaannya.


"Dira tidak mau punya Papa lagi Ma. Dira hanya mau Mama saja" ucapnya dengan mata memelas seperti memohon.


"Alasannya kenapa? Apa Om Gerry tidak baik sama kamu?" tanya Jemima


"Selama ini Om baik sama Dira suka jajanin Dira" Dira menunduk dan meneteskan air matanya.


"Lalu kenapa Dira tidak ingin Om jadi Papa Dira. Mama pikir Dira setuju kalau ada Om Gerry dalam hidup kita" Jemima menghapus air mata di pipi Dira dengan ibu jarinya.


"Dira takut Mama, nanti Mama diambil sama Om dan Mama tidak sayang Dira lagi"


"Tidak dong Sayang. Sayang Mama nomor 1 itu Dira. Gak ada yang bisa menggantikannya" Jemima tersenyum agar anaknya bisa lebih tenang.


"Tapi kata Hari temen sekolah aku, dia punya Papa baru. Tiap hari diomelin sering di pukulin juga dan disuruh bersih-bersih rumah. Terus pas dia punya adik, Mamanya sudah gak sayang Hari lagi Ma. Dira takut Mama gak sayang Dira lagi" Dira memeluk Mamanya sambil menumpahkan air matanya.

__ADS_1


"Mama yakin Om Gerry tidak seperti itu Dira percaya sama Mama, Mama janji jika punya anak lagi, Dira tetap Mama sayang" Jemima ikut memeluk anaknya.


"Dira gak mau Mama, Dira ingin kita berdua saja" Jemima hanya bisa pasrah mendengar permintaan anaknya. Hatinya amat sedih, ia pikir semua akan berjalan baik-baik saja dengan Gerry. Hingga ia lupa bahwa dalam pernikahannya ada Dira juga didalamnya yang harus dipikirkan pula perasaannya.


"Ya sudah sekarang Dira tidur ya, Mama mandi dulu setelah itu temani Dira bobo" Jemima kemudian menuju kamar mandi membersihkan diri setelah itu ikut bergabung dengan Dira ditempat tidur. Dira memeluk dirinya dan Jemima menepuk-nepuk paha anak itu, hal yang selalu ia lakukan saat akan tidur.


"Mama akan turuti apa yang Dira mau. Maaf Mama lupa berdiskusi tentang Om ke Dira. Kalau Dira setuju Om jadi Papa Dira, Mama akan ijinkan Om masuk kekehidupan kita, tapi kalau Dira tidak mau, nanti Mama akan bilang ke Om" Jemima menahan sakit dihatinya saat ini demi kepentingan anak semata wayangnya. Ia akan selalu mementingkan anaknya itu karna rasa bersalah yang selalu menghantui dirinya.


"Makasih Mama, Dira mau sama Mama saja" tak lama Dira pun tertidur, sedangkan Jemima tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya kacau, ia ingin sekali menjelaskan ke Gerry perihal masalah ini. Diambilnya ponselnya didalam tas yang sedari tadi ia tinggalkan disana. Dihubunginya lah kekasih tampannya yang juga sedang menunggu kabarnya.


"Halo Mas" ucap Jemima saat Gerry mengangkat teleponnya.


"Halo Sayang, belum tidur?" tanya Gerry yang saat ini masih menyelesaikan pekerjaannya.


"Belum, tadi Dira sudah bicara. Maaf Mas tapi dia tidak ingin kita melanjutkan hubungan ini. Ia takut aku tidak akan sayang lagi ke dia dan lebih sayang kekamu" ucap Jemima lemah.


"Iya dari teman sekolahnya. Maaf Mas kayaknya kita harus tunda rencana pernikahan ini sampai mendapat persetujuan Dira" ucap Jemima sedih


"Besok kita bicarakan lagi Sayang, sekarang kamu istirahat ya. Besok pagi aku jemput"


"Iya Yang, tapi jemputnya depan gang saja. Aku tidak ingin Dira marah lagi liat kamu" ucap Jemima


"Iya sayang, gak apa-apa koq. Ya sudah kamu tidur jangan terlalu dipikirkan" kemudian berkahirlah panggilan mereka berdua. Gerry frustasi, ia bingung harus melakukan apa. Selama ini ia pikir sudah cukup baik kepada Dira, dan sudah meyakinkan Dira ia bisa jadi Ayahnya kelak tetapi pikiran anak kecil itu tiba-tiba berubah.


Dilain tempat Jemima masih belum bisa terpejam, ia bingung harus bagaimana. Apakah tetap memaksakan hubungan mereka atau mengakhiri sesuai permintaan Dira. Akhirnya ia merasakan cinta lagi dan dicintai oleh laki-laki yang mau menerima dirinya dan anaknya, bahkan orang tua yang biasanya menjadi penghalang sudah mengirimkan restunya. Hal yang tidak ia sangka malah datang dari anaknya. Memandang wajah anaknya yang tertidur pulas, perasaan dan hatinya semakin bersalah. Seharusnya Dira tidak lahir dari rahimnya, semenjak didalam kandungan hidupnya sudah tidak adil. Ayahnya sendiri pun enggan mengurusi hidup anak itu. Sampai saat ini semenjak mereka pindah, belum pernah Darwin mengunjungi mereka dan hanya menanyakan kabar sekedar berbasa basi.

__ADS_1


Lama kelamaan matanya terpejam, capai berfikir membuatnya tertidur dan bangun pukul 4 pagi. Hanya 2 jam ia tertidur kemudian melanjutkan aktivitas rutinnya, menyiapkan makanan untuk Dira dan merapikan segala kebutuhan Dira.


"Mama, gak ada Om kan?" tanya Dira memperhatikan ruangan sekitar saat mereka sedang sarapan. Biasanya Gery akan ikut bergabung untuk sarapan bersama mereka. Tapi pagi ini Gerry tidak ikut, mencoba memberikan Dira waktu untuk menerima dirinya.


"Gak sayang. Habiskan makannya setelah itu Dira berangkat ya" ucap Jemima yang sudah bersiap untuk berangkat juga dan. sekarang sedang menyiapkan bekal untuk Gerry.


Setelah Dira berangkat, Jemima berjalan menuju gang ujung jalan dekat rumahnya.


Pasangan yang sedang dilanda masalah ini saling mengecup bibir saat bertemu didalam mobil Gerry.


"Makan dulu Yang, sudah aku masakin nasi goreng" Jemima meletakkan kotak makannya di panggkuan Gerry.


"Nanti saja Yang, takut macet banget" Gerry menolak dan meletakkan kotak makan itu ke Jemima.


"Aku suapin ya, sudah lama gak suapin kamu" Gerry mengangguk senang saat ini, rasanya ia tidak bisa tanpa perhatian Jemima, ia harus mencari cara agar Dira mau menerima dirinya.


"Yang aku cuti boleh? Aku mau mengunjungi kakaku di Papua" ucap Jemima saat mobil itu sudah melaju menuju kantor mereka dipusat kota Jakarta


"Iya boleh sayang. Semoga setelah pulang Dira bisa lebih baik. Nanti aku kirim uang buat beli tiket" ucap Gerry sambil menerima suapan dari Jemima.


"Gak usah sayang. Aku sudah ada budget untuk beli tiket nya" tolak Jemima


"Gak kamu pakai uang aku. Gak ada tolakan" Jemima hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Gerry yang begitu perhatian untuk dirinya. Sungguh dalam hatinya ia tidak ingin kehilangan sosok laki-laki ini.


----

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan gift nya


__ADS_2