
Resepsi pernikahan berlanjut hingga tengah malam. Semua manusia yang hadir ikut bersuka cita akan pasangan tersebut.
"Alyaaaaa" ucap Jemima riang, bertemu dengan sahabat lamanya yang saat ini sudah berhenti menjadi karyawan dan memilih menjadi ibu rumah tangga.
"Jemimaaaah, selamat ya, akhirnya happy ending" dua sahabat ini berpelukan satu sama lain.
"Sayang Bu Retno gak bisa lihat pernikahan gue" ucap Jemima dengan penuh sesal karna ketidak hadiran bu Retno yang telah pergi meninggalkan mereka 1 tahun lalu.
"Iya Je, semoga mami kita tenang disana. Pasti dia bahagia tau lu udah menemukan pendamping hidup" semangat Alya kepada Jemima. Teringat kembali bagaimana Jemima akan masa-masa awal dia mengetahui bahwa dirinya hamil. Hanya Bu Retno dan Alya yang membantunya melewati masa sulit itu.
Selain itu laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya pun datang memberikan ucapan selamat kepada Jemima.
"Je, selamat ya. Semoga langgeng sampai kakek nenek dan kalian selalu berbahagia. Ger titip Jemima ya" ucap Abram sambil tersenyum kepada Jemima dan Gerry
"Terimakasih Mas sudah mau hadir kesini" ucap Jemima dengan tulus.
"Iya Je sama-sama. Aku ketemu Dira dulu ya" kemudian Abram beserta istrinya pergi meninggalkan Jemima dan Gerry.
"Ciee diucapin mantan" ucap Gerry.
"Ihh rese, cemburu ya?" goda Jemima memanasi laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya.
"Gak koq, mau gimana pun you're mine now, dia cuma masa lalu" kemudian Gerry mengecup pipi Jemima dan Jemima pun tersipu malu.
Kemudian datanglah sosok laki-laki tampan yang secara tidak langsung membuka jalan akan hubungan Jemima dan Gerry.
"Selamat ya Je, dan selamat juga Pak" ucap Arka menyalami kedua pasangan itu.
"Terimakasih Arka, kalau bukan gara-gara info lowongan dari lu, mungkin gue gak akan bertemu Pak Bos ini" ucap Jemima sangat senang dan merasa bersyukur akan keputusannya saat itu untuk mencari pekerjaan baru.
"Thanks Bro. Ehm gimana hubungan lu sama adek gue" tanya Gerry.
"Masih jalan seperti biasa Pak" jelas Arka takut-takut.
"Okey next time kita ngobrol, lu makan dulu sana." Gerry menepuk bahu Arka memintanya untuk segera turun karna di ujung ruangan terlihat April yang sedang memandangi mereka.
__ADS_1
Para tamu undangan perlahan meninggalkan ruangan resepsi itu. Kini tinggalah Jemima, Gerry, Dira, kedua orang tua Gerry,Magda , Bagus dan Darwin.
"Dira malam ini menginap dirumah Oma ya?" ucap Magda mengajak Dira untuk menginap dirumahnya mengingat ini merupakan malam pertama untuk Jemima dan Gerry.
"Gak mau Oma, Dira mau sama Mama" tolak Dira dan memeluk Mamanya. Semua orang tersenyum mendengar ucapan Dira.
"Dir, ikut sama Daddy mau?" kali ini Darwin mencoba membujuknya, dan hanya gelengan kepala yang ia berikan.
"Besok dijemput Mama, Dira sama Oma dan Opa malam ini" Bagus mencoba mengajaknya juga.
"Gak, Dira pokoknya mau sama Mama" ucapnya dengan sedikit penekanan.
"Iya Dira sama Mama dan Om malam ini" Jemima mengusap kepala anak laki-lakinya, ia paham bahwa selama ini mereka jarang sekali berpisah.
"Wahh gagal nih, yang malam pertama" ledek Niko ayah Gerry.
"Gak apa-apa, masih banyak malam-malam lain" ucap Gerry santai padahal dalam hatinya ia sedikit kecewa karna malam ini malam yang sangat ia nantikan.
"Ya sudah kita kembali kekamar masing-masing" ucap Sela mengajak suaminya untuk segera tidur.
"April kemana Pi, koq Mami tidak lihat" ucap Sela mencari disekitar akan anak bungsunya. Sedangkan Lila sudah kembali kekamar karna anak-anaknya sudah mengantuk begitupun Julia.
Gerry, Jemima dan Dira memasuki ruangan kamar hotel yang cukup megah. Ketika memasuki ruangan mereka disambut dengan ruang tamu dengan sofa panjang serta sofa single berserta televisi layar datarnya yang telah ditabur dengan bunga mawar. Sebuah king bed size didalam sebuah ruangan yang juga telah dihias dengan taburan bunga mawar merah dan putih.
"Mama kenapa banyak bunga di kasur" tanya Dira heran.
"Oh itu dikasih hotel kan ini hari pernikahan Mama, bagus ya"
"Iya bagus, nanti kita tidur disini, sama om juga?" tanya Dira lagi.
"Iya sekarang kan Om sudah jadi Papa Dira jadi dimana ada Mama disitu ada Om" jelas Gerry.
"Dira mandi dulu, copot baju kamu juga, Mama siapkan air panasnya."
"Iya Mama"
__ADS_1
"Maaf ya Mas, malam pertama kita malah kaya gini." Jemima merasa tidak enak dengan Gerry yang saat ini sedang merebahkan dirinya diatas sofa dengan merentangakan kedua tangannya.
"Gak apa-apa sayang. Yang penting bukan malam pertamanya, tapi malam-malam lain aku bisa selalu bersama kamu"
"Terimakasih Sayang, aku urus Dira sebentar." kemudian Jemima meninggalkan Gerry sendiri dan menyusul Dira dikamar mandi dengan masih mengenakan gaun pernikahannya. Gerry hanya memandangi istrinya yang berlalu, ya beginilah resiko ketika memilih seorang single parent, pasti dia akan memikirkan anaknya terlebih dahulu, naluri seorang Ibu akan selalu diutamakan. Gerry tidak mau egois dan lebih memahami Jemima.
"Mama, Dira panggil Om apa ya?" tanya Dira ketika sedang mandi, dan Mamanya hanya memperhatikannya karna kerepotan masih menggunakan gaun pernikahan.
"Terserah Dira, senyaman Dira panggil Om apa?" Jemima tidak mau memaksakan Dira untuk memanggil Gerry sebutan Papa, karna biarlah hati Dira sendiri yang akan menerimanya.
"Sekarang Dira tidur ya, Mama mau mandi dulu" ucap Jemima setelah memastikan anaknya sudah bersih dan hangat dalam selimut diatas kasur.
Kemudian Jemima mengambil peralatan makeupnya dan membersihkan sisa makeupanya yang masih menempel di muka. Setelah selesai ia baru tersadar bahwa Dira sudah tertidur di kasurnya dan ia teringat akan suaminya yang daritadi hanya diam saja.
"Sayang?" Jemima memanggil Gerry untuk membantunya membuka gaun pengantinnya, tapi laki-laki itu ternyata sudah tertidur di sofa.
"Yang" Jemima mengusap kepala Gerry, hal yang biasa ia lakukan saat membangunkan anaknya Dira.
"Mas Gerry" ucapnya lagi dengan lembut, perlahan mata Gerry terbuka.
"Ehh maaf sayang aku ketiduran" ucap Gerry kemudian ia bangun dan memposisikan dirinya untuk duduk.
"Gak apa-apa, kamu capai ya? Boleh tolong bantu aku buka gaun ini, aku mau mandi"
"Boleh dong, Dira mana?" tanya Gerry
"Sudah tidur" ucap Jemima dan memposisikan dirinya membelakangi Gerry agar resleting gaunnya bisa segera dibukakan. Tanpa aba-aba Gerry justru mengangkat Jemima ala bridal style.
"Arghh" sontak Jemima menjerit akan perlakukan Gerry yang tiba-tiba.
"Sst jangan berisik nanti Dira bangun" ucap Gerry dan membawa istrinya itu kekamar mandi dan mendudukannya di wastafel. Wajah mereka kini saling berhadapan satu sama lain. Muka Jemima bersemi karna Gerry mengecup bibirnya.
"Dira kalau malam suka bangun gak?" tanya Gerry
"Engga, dia kalau sudah tidur sampai pagi" jelas Jemima
__ADS_1
"Ehmm kalau gitu bisa dong" Gerry menaik turunkan alisnya memberi kode kepada istrinya.
"Boleh" Jemima kemudian membalas dan mengecup bibir suaminya.