
Perjalanan kerumah Jemima yang hampir memakan waktu 2,5 jam tidak terasa karna perasaan bahagia mereka selalu menemani selama perjalanan.
"Disini Yang?" tanya Gerry saat sampai disebuah perumahan lama didepan sebuah bangunan lantai 1 dengan cat berwarna abu-abu muda.
"Iya disini"
"Jauh banget Yang kamu tiap hari harus kaya gini? Udah kamu pindah lagi ke Jakarta tinggal dirumah ku yang kosong" Gerry sedikit cemas membayangkan bagaimana Jemima harus melalui perjalanannya setiap hari kekantor.
"Tidak semudah itu Gerry Mawardi, Dira sudah sekolah dan aku baru saja memindahkannya kesini. Lagian aku naik krl bisa lebih cepat koq" ujar Jemima.
"Kenapa kamu gak bilang mau pindah. Kalau gini kan mending kamu disana. Apa Darwin usir kamu dari rumah itu?" tanya Gerry penasaran.
"Ehm usir sih tidak cuma aku hanya tidak nyaman saja. Aku mencoba mandiri tidak ingin bergantung sama mereka." kata Jemima mengingat bagaimana Darwin sudah mulai melupakan Dira, baik akan biaya sekolah maupun biaya kebutuhan Dira yang dijanjikan sebelumnya. Hanya terakhir Darwin sempat membawa Dira jalan-jalan ke Bali. Tampak setelah kembali Dira semakin murung dan tidak ingin bertemu dengan Daddy nya lagi.
"Aduh pacar aku emang hebat banget ya, bangga aku sama kamu Yang." Gerry mecium pipi kekasihnya yang ia banggakan.
"Ehh jangan nanti di lihat orang" Jemima memukul paha Gerry dan Gerry tertawa geli.
"Gimana nih aku pulangnya sekarang sudah jam 1/2 12, badannku capai banget besok masih kerja belum jemput kamu lagi" Gerry menyenderkan badannya dibangku mobil.
"Siapa suruh kamu anterin pulang, lagian besok aku berangkat sendiri kan bisa gak usah jemput" ujar Jemima.
"Kamu tega biarin aku pulang Yang" muka Gerry dibuat-buat sedikit sedih untuk menarik simpati Jemima.
"Tega" ucap Jemima sambil menahan tertawa karna dia tahu maksud Gerry.
"Jahat banget wanita ini, Yang please aku bobo dirumah kamu ya, aku gak sanggup kembali lagi ke apartemen" ucap Gerry sedikit memohon.
Setelah menimbang-nimbang sebentar akhirnya Jemima mengijinkan Gerry untuk tidur dirumahnya.
"Tapi kamu tidur di sofa ya? Karna kamarnya gak ada"
__ADS_1
"Aku gak bobo sama kamu saja?" pancing Gerry
"Ih ngelunjak, aku tidur sama Dira. Gak mau ya udah pulang sana" usir Jemima yang sebenarnya juga tidak tega membiarkan Gerry pulang dini hari ini.
"Hehe becanda bu bos" Gerry kemudian memarkirkan mobilnya di garasi Jemima. Badannya memang letih sekali dan ia sebenarnya memang tidak sanggup untuk kembali ke apartemennya, jika Jemima tidak mengijinkannya ia sudah berencana untuk menginap di hotel dan berangkat bersama besok paginya dengan Jemima.
Suasana rumah Jemima sudah sepi karna Bude Wati dan Dira sudah tertidur pulas. Jemima meminta Gerry untuk tidur di sofa ruang tamunya.
"Kamu tidur sini Yang. Ini handuk buat cuci muka, kalau kamu mau mandi aku rebusin air hangat"
"Gak usah, aku cuci muka saja, dingin Yang." Gerry segera menuju ke kamar mandi membersihkan diri secukupnya, untunglah sekarang ia sudah menyiapkan baju cadangan di mobilnya, jika ada hal darurat seperti ini dia masih bisa berganti pakaian. Gerry keluar dengan mengenakan kaos dan celana pendek, wajahnya tampak sedikit segar tapi tampak matanya sudah lelah.
"Minum dulu mumpung masih hangat, habis itu tidur" ucap Jemima menyerahkan segelas teh hangat untuk Gerry. Gerry memeluk Jemima dari belakang karna ia merasa amat bahagia malam ini.
"Makasih sayang. Aku sungguh-sungguh sama kamu. Biarkan tanggung jawab yang kamu jalanin kamu alihkan ke aku. Kapan kamu siap aku lamar?" ucap Gerry.
"Sama-sama sayang. Kapan ya orang tia kamu aja belum tahu hubungan kita" ucap Jemima mengingatkan Gerry, ia tidak ingin pengalamannya dengan Abram terulang lagi dan ujung-ujungnya tidak mendapatkan restu.
"Ya sudah tidur dulu, aku mengantuk sekali" ucap Jemima yang matanya sudah 5 watt.
"Good night kiss" Gerry menempelkan bibirnya di bibir Jemima, dilumatnya bibir itu perlahan-lahan, ia menikmati sentuhan bibir itu rasanya Gerry ingin segera mendapatkan lebih dari pada ini.
"Sudah nanti gak jadi tidur lagi" Jemima segera menyudahi pertautan mereka berdua. Akhirnya mereka tertidur dengan rasa bahagia dihati mereka masing-masing.
Rasanya Gerry baru saja memejamkan matanya hingga terdengar suara berisik disekitarnya dan wangi masakan yang menggugah seleranya hingga mengganggu mimpi indahnya.
"Mama ini Om siapa bobo dirumah kita?" tanya Dira.
"Ini Om Gerry namanya Dir, dia teman Mama" ucap Jemima yang sedang menyiapkan sup daging untuk dimakan bersama.
"Mama itu kan Om Boss yang galak" ucap Dira sedikit berbisik karena teringat akan Gerry yang ditemuinya di mall.
__ADS_1
"Ssst Omnya gak galak koq" Jemima tersenyum mendengar perkataan Dira.
"Iya Om gak galak koq Dir" ucap Gerry sambil berjalan menuju kamar mandi sembari mengusap kepala Dira serta mencium pipi Jemima.
"Ihhh Om ganjen banget gak boleh loh cium-cium gitu. Cuma Papa Mama saja yang boleh" Gerry hanya tertawa mendengarkan omongan Dira dan Jemima kesal dengan tindakan Gerry barusan.
Gerry yang sudah mencuci mukanya ikut bergabung bersama Dira untuk makan pagi.
"Memang Dira sering lihat Daddy sama Mama cium pipi gitu?' tanya Gerry penasaran dan cemburu akan ucapan Dira.
"Enggak, tapi Dira sering lihat Daddy sama Mami sering cium-cium." ada perasaan sedikit lega dihati Gerry bahwa Jemima dan Darwin tidak ada hubungan lebih diantara keduanya.
"Sudah -sudah gak usah dibahas" Jemima memelototi Gerry untuk tidak memperpanjang hal seperti itu.
Jemputan Dira sudah tiba didepan rumahnya, dengan sigap ia segera berpamitan kepada Mamanya.
"Hati-hati ya Nak" ucap Jemima.
"Iya Mama" kemudian ia menyalami Gerry juga.
"Yang pintar sekolahnya Dir, nanti weekend Om ajak main basket lagi. Oke Bro?" Gerry mengusap kepala Dira dan lambaian tangan Dira menuju mobil menjadi tanda perpisahan sementara.
"Siap-siap Yang kita berangkat setelah ini. Bisa macet banget menuju kantor" ucap Jemima dan tiba-tiba Gerry menariknya kedalam kamar, untunglah saat ini Bude Wati pergi kepasar untuk membeli kebutuhan pokok kalau tidak pasti dia akan sangat malu.
"Apaan sih Ger" Jemima bingung akan perlakuan Gerry. Gerry segera ******* bibir Jemima, kemudian Gerry duduk di pinggir kasur dan meminta Jemima duduk diatas pangkuannya. Bibir mereka saling bergerak memberikan sensasi akan tubuhya.
"Nanti malam kita ketemu orang tua aku. Aku butuh support dan kekuatan dari kamu sekarang" Gerry kembali ******* bibir Jemima pelan-pelan tapi kelamaan menjadi menuntut tangan Gerry sedari tadi *******-***** bukit kembar Jemima.
"Sudah Ger, nanti keterusan" Jemima segera melepas tautan mereka. Gerry menghela nafasnya dan tersenyum.
"Iya sayang, aku pengen cepat-cepat kita jadi keluarga" Gerry mengecup dahi Jemima dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Aku solo karir dulu Yang, kamu siap-siap ya kita kekantor habis ini" Jemima tertawa mendengar ucapan kekasihnya itu. Kekasih yang kalau tampak luar terlihat galak, jutek irit bicara, tetapi jika bersamanya Gerry bisa menjadi dirinya sendiri dan yang pasti ia akan berubah menjadi Bucin.