
Semalaman Jemima tidak bisa tidur, ia memikirkan akan acara besok pertemuan dengan orang tua Darwin. Ia masih trauma dengan kejadian dengan Bunda Abram, ia takut akan adanya penolakan akan dirinya dan anaknya. Belum sembuh luka dihati akan hinaan Bu Tika ia tidak mau mendapat luka baru lagi.
"Tenang Je, kamu yakin sama saya, hari ini akan baik-baik saja. Saya tidak akan biarkan kalian dihina seperti kemarin" Darwin memegang kedua tangannya mencoba meyakinkan keraguan Jemima.
"Pak gak usah saja, biar saya sama Dira tetap seperti ini. Sudah pak Darwin tidak perlu bertanggung jawab apapun ke kami. Saya pergi saja dari sini dan hidup Bapak"Jemima khawatir sekali ia takut juga karna dianggap menjadi penyebab perceraian Darwin dan Cindy.
"Saya bilang tidak, ayo kita pergi sekarang" Darwin menggengam tangan Jemima dengan kuat, setengah menariknya. Ia takut jika Jemima akan menolak dan kabur. Selama di mobil Darwin tak hentinya menenangkan Jemima hingga akhirnya mereka sampai disebuah perumahan elit di daerah utara.
Mobil berhenti tepat di sebuah rumah 2 lantai yang tampak megah dengan cat rumah berwana cream. Gerbang dibuka oleh salah satu petugas dan mobil terparkir dengan baik berjejer dengan beberapa mobil mewah lain.
Darwin turun dari sisi pengemudi kemudian membukakan pintu depan bagian penumpang, mengambil Dira dalam pangkuan Jemima. Tapi wanita itu hanya diam tak bergeming masih khawatir dalam pikirannya.
"Pakkk...." ucap Jemima memohon
"Turun sekarang atau mau saya gendong juga seperti Dira" ancam Darwin. Jemima menghela nafas dan akhirnya turun dari mobil kemudian mengikuti langkah Darwin menuju dalam rumah.
Jemima masuk kerumah itu, pandangannya terpusat pada ruang tamu minimalis yang menyambut saat pintu masuk dibuka.
"Duduk sini aku akan panggil Papa Mama" Darwin masuk sambil tetap menggendong Dira. Dari dalam ruangan terdengar jika Darwin meminta asisten rumah tangga untuk mengawasi Dira yang kegirangan karna adanya kolam ikan didalam rumah.
"Bi lihatin anak saya" ucapnya, tak lama datang seorang pasangan yang Jemima kira sudah cukup berumur tapi masih tampak modis. Sang pria dengan rambut putihnya dan masih tampak gagah serta sang wanita dengan wajah asing berambut coklat , warna matanya yang mencolok coklat keabuan persis seperti mata anaknya dan Darwin. Mereka berdua duduk berdampingan di sofa sebelah Jemima, Darwin ikut menyusul dan duduk sebelah Jemima mengusap bahunya.
"Jadi kamu yang namanya Jemima" ucap laki-laki paruh baya itu yang Jemima yakin itu adalah Papa Darwin.
"Ii ya Om" jawab Jemima
"Kenalkan saya Bagus dan ini istri saya Magda" ucap laki-laki itu, kemudian Jemima menyalami punggung tangan mereka berdua.
Muka Jemima masih tegang ia sungguh takut jika terjadi penolakan lagi dari kedua orangtua Darwin.
"Jadi ini ibu dari anak kamu Win?" tanya Bagus ke anaknya.
__ADS_1
"Iya Pa" jawab Darwin santai tak lama ponselnya berbunyi.
"Aku tinggal sebentar ya" ucap Darwin ke Jemima dan meninggalkannya sendiri hal ini membuat Jemima semakin takut. Sedari tadi tangannya tidak berhenti dia remas, karna meras khawatir. Magda memandangi tampilan Jemima dari atas hingga bawah.
"Sebelum Darwin menikah apa kalian ada hubungan?" tanya Magda yang meskipun ia merupakan bukan orang Indonesia asli tetapi bahasa Indonesianya sudah cukup lancar.
"Tidak ada Tante, kami hanya hubungan atasan dan bawahan saja" Jemima mencoba menjelaskan dengan terbata-bata.
"Ohh jadi ini akibat one night stand saja" ucap Magda dengan nada mengejek.
"Selama ini kamu tinggal dimana? Koq bisa Darwin tidak tahu tentang kalian" tanya Magda penasaran
"Semenjak saya hamil saya pindah ke Semarang dan membesarkan anak saya disana. Karna Pak Darwin sempat bicara kalau dia tidak ingin anak ini, makanya saya pergi saja dan tidak ingin mengganggu hubungan rumah tangga Pak Darwin dengan istrinya" Jemima menjelaskan kembali.
"Ohhh" alis Magda menjadi mengkerut mendengar penjelasan Jemima.
"Sekarang kalian sudah bertemu kembali, memang apa yang kamu harapkan?" tanya Magda kembali dengan ketusnya.
"Sebenarnya saya tidak harap apa-apa Tante, cukup Om dan Tante bisa kenal dan tahu tentang Dira saja buat saya sudah cukup"
"Hahh, saya tidak tahu Tante, belum saya pikirkan" ucap Jemima ragu
"We will get marriage Mom." ucap Darwin tiba-tiba
"Kamu yakin kami setuju dengan Jemima?" ucap Bagus
"Pasti lah Pa, tanpa restu kalian saya akan tetap nikah dengan Jemima. Aku kesini hanya ingin kenalkan mereka ke kalian" nada Darwin berubah agak marah.
"Kalau sampai menikah dengan Jemima kamu akan kehilangan apa yang sudah kamu dapatkan sampai saat ini Win" ancam Bagus dengan nada yang lebih tinggi.
"Silahkan" ucap Darwin santai, muka Jemima berubah panik ia tidak ingin Darwin dan kedua orang tuanya bertengkar hanya gara-gara dirinya.
__ADS_1
"Sudah Pak jangan melawan orang tua" Jemima mencoba menenangkan Darwin
"Aku cuma ingin bertanggung jawab sama kamu dan Dira Je"
"Jadi kamu gak cinta dengan Jemima?"
"Cinta nanti bisa sambil jalan Mom, dulu aku sama Cindy saja cinta dan berakhir pisah juga, jadi cinta bukan salah satu pondasi membangun rumah tangga Mom" ucap Darwin sambil memeluk bahu Jemima.
"Halahh kamu itu Win, Papa mana bisa percaya, dengan Cindy saja kamu bisa bercerai, sampai kamu di selingkuhi" Bagus menggeleng-gelengkan kepala.
"Mama gak setuju" ucap Magda dan Darwin menatapnya dengan kesal
"Mommmm" hentak Darwin
"Pak jangan marah-marah, gak sopan sama orang tua kaya gitu" Jemima mengge nggam tangan Darwin.
"Sudah Pak turutin apa kata orangtua" Darwin menatapnya dengan kesal.
"Mama gak setuju kalau kamu gak segera tanggung jawab sama mereka. Kasihan mereka kamu telantarkan selama ini" kemudian Magda menghampiri Jemima dan memeluknya.
"Welcome to our family Je and Dira. Kami sudah lama menantikan kalian, tapi Darwin tidak segera mempertemukan karna menunggu keputusan cerainya selesai" Jemima terkaget dengan ucapan Magda ia tidak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.
"Apa benar Tante?" ucap Jemima tidak percaya
"Tante?? Call me Mom or Mama. You're my daughter now. Where is my grandson" tanya Magda
"Aku ambil Ma" Darwin bangkit dari duduknya dan mengambil Dira yang sedang melihat ikan.
"Kamu jangan takut Je. Meskipun saat ini Darwin dan Cindy tetap dalam hubungan pernikahan kami akan tetap mengganggap kalian keluarga. Bodohnya anak itu karna menyuruh kamu untuk menggugurkan anak nya. Dia tidak diajarkan untuk tidak bertanggung jawab" ucap Bagus
"Iya Om saya sangat takut mengganggu hubungan Pak Darwin dengan istrinya dulu" ucap Jemima pelan.
__ADS_1
"Kapan kalian pindah kesini, segera saja. Mama ingin segera bermain dengan Dira, karna cucu Mama yang lain ada di Australia anak dari Kakak Darwin" ucap Magda dengan lembutnya.
Hati Jemima senang sekali dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ia tidak menyangkan bahwa kekhawatirannya ternyata tidak terbukti bahkan melebihi dari ekspektasinya.