Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Hai ini Daddy


__ADS_3

4 orang dewasa duduk berhadap-hadapan. Ibu Jemima memegangi tangan anaknya yang terlihat tampak cemas.


"Jemima. Jangan takut saya datang kesini bukan untuk merebut anak kamu... ehm anak kita" ucap Darwin.


"Kemarin saya melihat kamu dengan Abram di bandara, saya sangat terkejut dengan apa yang saya lihat. Saya tidak percaya kalau kamu tetap mempertahankan anak itu." Semua orang diam hanya Darwin yang berbicara. Raut wajah Jemima masih nampak ketegangan, ia berkali-kali menatap Abram untuk meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja.


"Sebenarnya saya sudah pernah katakan ke Abram jika kamu memang melahirkan anak itu saya akan tetap mengakuinya sebagai anak saya, tetapi lelaki brengsek sebelah saya ini ternyata menyembunyikannya selama ini" Darwin melirik Abram dengan tajam.


"Jadi boleh saya berkenalan dengan anak saya?" tanya Darwin dengan raut wajah memohon.


"Siapa namanya?"


"Dira Pak" jawab Jemima.


"Oh Dira, apa dia masih tertidur?"


"Iya nanti jika dia bangun saya akan pertemukan Bapak dengan Dira" suasana sudah agak mencair, Abram mendekatkan diri ke Jemima dan mengusap bahunya.


"Gak apa-apa Je, dia janji cuma mau berkenalan saja" Jemima memandang wajah Abram lekat berharap apa yang diucapkannya benar.


"Diminum dulu Nak Darwin" Ibu Jemima menawari kedua laki-laki itu minum. Tak lama terdengar suara tangisan bayi laki-laki dari dalam kamar.


"Sebentar aku bawa dulu kesini" ucap Jemima sambil berjalan memasuki kamar nya dan tak lama keluar dengan Dira yang masih lemas karna baru bangun tidur.


"Diraaa" ucap Abram dan disambut senyuman oleh anak itu.


"Pa pa pa pa" muka Darwin berubah ia kesal dengan panggilan Dira ke Abram.


"Bawa kesini Je saya mau bertemu Dira" ucap Darwin dari posisi duduknya sekarang. Masih dalam gendongan Jemima, Dira menatap Darwin dengan malu-malu ia menyembunyikan wajahnya ke leher Jemima.


"Dira ini Daddy" ucap Darwin yang membuat orang-orang diruangan tersebut terkejut.


"Dira kenalin ini Daddy. Nice to meet you Boy" Darwin mendekatkan mukanya ke Dira dan terlihat Dira ketakutan kemudian meminta untuk digendong Abram.


"Reseee lu Bram" Darwin tampak kesal karna Dira lebih memilih Abram.


"Ya kan udah sering ketemu gue Bos" Dira memeluk Abram dengan kencang dan takut-takut melihat Darwin.


"Je bisa kita bicara berdua?" ucap Darwin

__ADS_1


"Bisa Pak dibawah saja" Jemima mengajak Darwin bicara diwarung makannya yang sedang tutup.


Saat ini mereka duduk berhadap-hadapan daritadi tangan Jemima tidak hentinya menautkan satu sama lain. Ia tampak begitu takut.


"Apa kabar Je?" ucap Darwin dengan lembut Ia tahu jika Jemima sangat takut akan keberadaanya disini.


"Bbaik Pak"


"Saya minta maaf atas sikap dulu, maaf telah menjadi laki-laki pengecut untuk kamu dan Dira"


"Tidak apa-apa saya sudah maafkan. Saya tidak pernah menyesal akan kehadiran Dira dalam hidup saya." jelas Jemima dengan pandangan menunduk tidak berani menatap mata Darwin.


"Je lihat saya" Jemima akhirnya mengangkat kepalanya dan pandangannya lurus menatap mata Darwin yang sama dengan mata Dira.


"Saya akan tanggung jawab untuk kalian berdua. Tapi mohon maaf saya tidak bisa jika kita dalam hubungan pernikahan, kamu tahu kan kalau saya sudah menikah"


"Iya Pak saya tahu. Pak tidak usah menyusahkan dan merepotkan hidup Bapak untuk kami, kami berdua baik-baik saja"


"Apa karna Abram?" tanya Darwin penasaran, Jemima juga bingung akan pertanyaan itu karna ia saja sedang memikirkan kembali hubungannya dengan Abram yang tidak mendapat restu.


"Iya" Jemima berbohong pikirnya daripada banyak hal lain yang akan ditanyakan kedirinya lagi.


"Ehmm nanti saya akan pikirkan kembali, Bapak mau mengakui Dira saja sudah cukup bagi saya. Tapi bagaimana dengan istri bapak nanti dan keluarga besar Bapak, apa mereka akan menerima Dira?" tanya Jemima kembali kali ini dengan mata berkaca-kaca karna teringat akan banyaknya orang menghina tentang Dira yang lahir tanpa seorang ayah.


"Nanti biar jadi urusan saya. Kamu tidak perlu pikirkan hal itu"


"Saya ingin bertemu dengan Dira lagi boleh?"


"Silahkan Pak, Bapak boleh mengunjunginya saat Bapak senggang" ucap Jemima lagi


"Terimakasih Je, dan maaf sekali lagi" Darwin kembali mengucapkan dengan tulus dari hatinya.


"Bram sini Dira biar gue gendong" Darwin mencoba mengambil Dira dari gendongan Abram tetapi anak itu malah menangis.


"Dira ini Daddy.. Daddy.. Daddy" ucap Darwin berulang-ulang, mukanya tampak kecewa karna anak itu sama sekali tidak mau didekati.


"Sabar ya Pak namanya anak kecil tidak mudah dekat sama orang yang baru dikenal" ucap Jemima mencoba menyemangati Darwin.


"Bram lu pergi sekarang gak" saat ini Abram dan Darwin sedang menemani Dira yang sedang bermain mobil-mobilan.

__ADS_1


"Iyee" akhirnya Abram pergi menjauh dan menghampiri Jemima yang ada dikamarnya. Mengecup pipinya saat wanita itu sedang merapikan baju yang dikeluarkan dari koper.


"Pesan ku kenapa tidak dijawab?" Abram memeluk Jemima mengobati kangennya yang baru ditinggal sebentar.


"Banyak urusan" jawab Jemima masih fokus merapikan baju nya


"Dih jutek banget kamu, gak kasian sama aku nih muka bonyok gini Je" Abram bermanja-manja tapi yang dimanja malah cuek.


"Diobati lah jangan didiemi." ucap Jemima ketus


"Kamu kenapa sih marah sama aku karna bawa Darwin kesini, tenang dia janji gak akan membawa Dira"


"Iya aku khawatir Dira akan dibawa Darwin" Jemima mencari-cari alasan agar bisa marah ke Abram.


"Kemarin tidak sengaja ketahuan Je, aku memang sudah ada rencana untuk memberitahu Darwin mengenai kamu dan Dira setelah...." Abram tidak bisa melanjutkan ucapannya, karna ia belum yakin dengan Bundanya yang mengijinkan dia untuk menikaho Jemima.


"Setelah apa? Setelah kamu nikah sama perempuan lain?" ucap Jemima kesal dan meninggalkan Abram sendiri dikamarnya.


"Dira makan dulu yuk" kemudian Dira digendong oleh Jemima dan Darwin mengikuti Jemima.


"Bos kapan pulang?" Abram ingin mengusir Darwin dari rumah Jemima.


"Mungkin gue sampai akhir minggu disini, lu balik aja duluan gantiin gue dikantor" ucap Darwin


"Kenapa lama banget bos?"


"Gue mau pdkt sama anak gue" Darwin mengangkat ponselnya yang berdering


"Iya Cin, aku lagi ada meeting diluar kota. Mungkin baru kembali beberapa hari lagi. Gimana acara seminar kamu di Bali? Lancar" Abram meninggalkan Darwin yang sedang menelepon dan menghampiri Jemima yang sedang menyuapi anaknya.


"Je maksud omongan kamu tadi apa?" Abram duduk disebelah Jemima.


"Jawab dulu pertanyaan aku waktu dibandara, buat kamu aku ini apa? Aku baru paham ternyata selama ini kamu cuma mainin aku saja"


"Je gak gitu" Abram mencoba mengusap kepalanya tetapi di tepis oleh Jemima.


"Bunda sudah bicara Mas, kamu gak usah bohongin aku lagi. Kemarin ke rumah kamu aku cuma dianggap cadangan saja kan. Kamu sudah dijodohkan sama anak Bos Ibu kamu" Jemima meneteskan air matanya. Awalnya ia tidak ingin memberitahukan apa yang dikatakan Bunda Abram ke dirinya tetapi karna emosi yang memuncak ia ungkapkan semuanya.


"Aku akan ikut Darwin Mas, biar dia yang mengurus aku dan Dira, lebih baik Mas kembali dengan rencana Mas dengan Bunda Mas" Abram terdiam dengan ucapan Jemima, hatinya ikut kacau akan ucapan itu.

__ADS_1


"Kenapa Mas lakukan ini hanya memberi harapan palsu kekami"


__ADS_2