Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Papa Abram


__ADS_3

"Kalian bertengkar?" tanya Pak Atma saat mereka sudah berada dalam pesawat menuju ke Indonesia.


"Sedikit Pak" ucap Abram ragu ia tidak berani menjelaskan ke Pak Abram, ia ingin Manda yang membatalkan pertunangan itu.


"Sabar ya sama Manda, dia kalau marah hanya sebentar" Pak Atma menepuk bahu Abram dan ia hanya mengangguk.


Pesawat mereka mendarat pukul 4 pagi di Bandara International Soekarno Hatta ,setelah selesai urusan di Imigrasi dan sudah mengambil koper mereka masing. Mereka berjalan menuju pintu keluar bersama Abram sudah membawa kopernya dan Pak Atma sedang menghubungi supirnya.


"Ayo Bram saya antar" ajak Pak Atma


"Tidak perlu Pak saya pulang naik taxi saja biar Bapak bisa langsung istirahat" tolak Abram karna ia memiliki rencana lain.


Ia membuka ponselnya mencari aplikasi pemesanan tiket yang biasa digunakan dan memesan tiket ke kota yang dia rindukan.


"Lohh Mas koq disini" seorang Ibu cantik dengan rambut sebahunya yang dicepol keatas terkejut dengan kedatangan Abram.


"Sebentar aku keatas" senyum merekah terbentuk dari bibir wanita itu. Saat ini ia masih sangat sibuk melayani pelanggan yang masih datang mencari sarapan.


Abram segera keatas mengangkat kopernya yang besar dan menemukan bayi gemesnya yang sedang bermain ditemani oleh neneknya.


"Nak Abram kesini, kata Jemima ke Amerika" ucap Ibu Jemima yang terkejut dengan kedatangan Abram begitu pula dengan Dira yang tampak senang dan merangkakan dirinya ke arah Abram untuk minta digendong.


"Halo Dira... Om kangen kamu" Abram langsung mencium bayi ganteng itu yang pagi ini sudah wangi dengan bau minyak telonnya.


"Dira, Om mandi dulu ya, maaf Bu saya mau ijin menumpang mandi tadi dari bandara langsung kesini."


"Silahkan nak Abram nyalakan saja air panasnya" ucap Ibu


Selesai membersihkan dirinya Abram sudah mulai mengantuk ia merasakan jetlag saat ini. Jemima saat ini sedang menemani Dira bermain dilantai atas sambil menunggu Abram selesai mandi.


"Main apa Dira?" ucap Abram yang ikut bergabung dengan Jemima dan Dira.


"Apa saja mau dimasukkan ke mulut Mas" keluh Jemima


"Penasaran sama mainannya mungkin" Abram menyenderkan dirinya di tembok dan tak lama matanya terpejam.


"Mas tidur dikamarku saja" ucap Jemima yang merasa kasihan dengan Arbam.


"Gak Je kasihan nanti Dira kalau mau tidur" Abram dengan mata mengantuknya menolak permintaan Jemima


"Gak apa-apa Mas" kemudian Jemima menarik tangan Abram dan membawanya kedalam. Abram mengambil kesempatan dengan memeluknya dari belakang.


"Kangen sama Mama nya Dira" ucap Abram ditelinganya

__ADS_1


"Ihh Mas, nanti ada Ibu" kemudian Abram melepaskan pelukannya dan terkekeh geli.


Abram akhirnya tidur dikamar Jemima, dan Jemima melanjutkan bermain dengan Dira. Suara panggilan video dari ponsel Abram yang sedang diisi dayanya bergema di sudut ruangan. Jemima melihat nama dilayar ponsel tersebut seorang wanita bernama Manda dengan foto sedang berdua dengan Abram, dari fotonya terlihat jika gadis itu sedang diwisuda.


"Siapa ini ya, apa adiknya Mas Abram, seingatku adiknya kembar, aku bangunkan gak ya?" Jemima berguman dalam hati, suara tangisan Dira yang ternyata dia terjatuh saat sedang merakak mengalihkan perhatiannya.


"Dira... hati-hati ya sayang gak apa-apa kan?" Jemima segera menggendong bayi nya yang sekarang sudah mulai tenang.


"Kenapa?" Abram keluar dari kamar dengan muka mengantuk.


"Tadi jatuh Mas, mungkin kaget jadinya menangis" jelas Jemima


"Ohh anak pinter" Abram mengusap kepala Dira dan mencium pipi Jemima.


"Ihh yang nangis kan Dira koq aku yang dicium" ucap Jemima malu-malu, Abram tertawa geli melihat muka Jemima yang memerah.a


"Kangen kan sama Mama nya, nanti Mamanya takut ikutan nangis juga" goda Abram


"Mas tadi ada yang telepon kamu, namanya Manda fotonya tadi aku lihat dengan kamu, apa itu adik mu?" ucap Jemima penasaran, Abram terdiam mukanya berubah menjadi tegang.


"Ehhm itu anaknya majikan Ibu dulu waktu kerja, sudah aku anggap sebagai adikku" jelasnya singkat.


"Mau jalan-jalan ke mal? Sebelum aku pulang nanti malam" Abram berusaha mengalihkan.


"Kesini karna aku kangen kalian, sebentar gak apa-apa asal aku bisa melihat kalian" Jemima tersipu malu dengan ucapan Abram.


"Boleh Mas, aku mau beli beberapa keperluan untuk Dira"


"Okey" pergilah mereka bersama, menikmati waktu yang hanya sebentar layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia.


Flashback Off


Hari ini Abram sudah bersiap menjemput Jemima dan Dira di bandara. Ia sudah menunggu di pintu keluar menyambut dua orang yang disayanginya. Nampak seorang wanita yang membawa sebuah koper sambil menggendong seorang bayi tampak terseyum bahagia ke arah Abram.


"Hai sayang" sapa Abram


"Hai Mas" Sapa Jemima kembali


"Bagaimana penerbangannya Dira pintar?" tanya Abram segera mengambil koper yang dibawa Jemima dan mengecup keningnya serta mencium pipi Dira yang tertidur.


"Waktu mau takeoff agak rewel, tapi aku susui akhirnya dia diam dan tertidur sampai sekarang" ucap Jemima.


"Pintarnya Dira" Abram mengelus kepala bayi itu.

__ADS_1


"Mas aku deg-deg an" Jemima menggenggam tangn Abram


"Kenapa?"


"Takut Bunda tidak menerima kami" ucap Jemima dengan rasa khawatir.


"Tenang pasti Bunda senang koq sama kalian, apalagi sama Dira" Abram mencoba menenangkan Jemima padahal dalam hatinya ada rasa khawatir juga akan penolakan Bundanya.


"Iya Mas semoga ya" Jemima berusaha tersenyum.


"Kamu menginap tempat aku , kebetulan dua adikku sedang pergi liburan jadi kamar mereka kosong. Kamu bisa tidur dikamar mereka. Sayang banget mereka gak bisa ketemu kalian"


"Iya Mas, sayang banget ya aku belum kenalan sama adik kembar mu" mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Abram menyusuri jalananan kota Jakarta, mengingatkan sedikit akan kenangan buruknya.


Abram memarkirkan mobilnya didepan rumah, mengambil koper Jemima dan membukakan pintu mobil untuk Jemima. Rumah Abram sangat asri banyak terdapat pot-pot bunga dan tanaman.


"Bunda suka berkebun ya" tanya Jemima karna terpesona melihat beberapa macam bunga yang tampat dirawat dengan baik.


"Iya semenjak tidak bekerja" Abram membawa masuk Jemima kedalam rumahnya.


"Bunda...." panggil Abram kepada Ibunya, datanglah seorang wanita berumur 50an dengan tubuh agak gemuk menggunakan daster menghampiri Jemima dan Abram.


"Bun kenalin ini Jemima sama Dira" ucap Abram


"Jemima Bu" Jemima mencium punggung tangan Bunda Abram


"Oh iya silahkan duduk dulu istirahat, anaknya tidur ya, taruh aja dikamar Firda" Bunda Abram sangat ramah menyambut Jemima dan itu membuat hatinya tenang.


"Gak apa-apa Bu, nanti bangun kalau ditaruh" Jemima duduk disofa empuk berwarna abu-abu.


"Kamu tunggu sini aku ambilin minum" ucap Abram


"Ajak makan aja Bram pasti belum sarapan" timpal Bunda Abram


"Oh iya benar, makan dulu saja, biar aku temani Dira tidur"


"Nanti saja Mas" tolak Jemima


"Ayo makan mumpung anaknya tidur" ajak Bunda Abram kembali karna merasa tidak enak akhirnya Jemima menuruti perkataanya.


Jemima mengambil sepiring nasi dengan beberapa lauk pauknya, baru sebentar menikmati sarapannya Dira menangis terbangun dan Abram menggendongnya.


"Dira bangun, bingung ya ada dimana?" Jemima mengambil Dira dari gendongan Abram.

__ADS_1


"Lagi dirumah Papa Abram" bisik Abram dikuping bayi menggemaskan itu dan terdengar oleh Jemima yang membuat Ibu sang bayi meleleh karna ucapannya barusan.


__ADS_2