
Hari terakhir di perusahaan menjadi hari dengan penuh air mata antara Alya dan Jemima. Setelah diskusi bersama dengan Ibu dan Kakaknya diputuskan mereka akan pindah ke Semarang dan menempati Ruko milik Bu Retno untuk sementara waktu.
"Hati-hati ya Je, gua pasti rindu lu, gua akan main ketempat lu pokoknya" ucap Alya sembari memeluk Jemima.
"Silahkan, lu pasti diterima, tapi jangan ajak Reno ya" Jemima khawatir Reno akan mengetahui kehamilannya dan memberitahu Agus, ia masih enggan berhubungan dengan Agus dan masih sakit hati akan sikapnya terakhir.
"Iya siyapppp, sehat terus disana okey?"
"Je ikut saya keruangan sebentar" ucap Bu Retno
"Ini kunci Rukonya, karna sudah lama tidak ditempati mungkin akan sedikit kotor, gak apa-apa kan?" jelas Bu Retno
"Gak apa-apa Bu,saya juga mungkin sementara saja, sampai saya bisa menemukan tempat tinggal dan pekerjaan yang layak" Jemima menerima kunci yang diserahkan bu Retno
"Gak usah dipikirkan Je, kamu pakai aja, daerah sana cukup ramai untuk anak-anak kosan, kamu bisa berjualan sesuatu disana."
"Baik Bu nanti saya pikirkan lagi, kemungkinan 2 minggu lagi saya baru kesana karna akan mengurus urusan disini dulu Bu"
"Iya Je, kalau kamu butuh sesuatu kabarkan saja ya"
"Terimakasih Bu, ibu baik sekali" Jemima memeluk Bu Retno, ia bersyukur di balik kemalangannya masih banyak orang yang peduli dengan dirinya.
Dalam perjalanan pulang ia kembali memikirkan kembali rencana kedepannya, apa yang harus dia lakukan, ia merasa tidak mempunyai skill khusus untuk memulai usaha. Uang 500 juta itu harus cukup memenuhi kebutuhan hidupnya sementara bertiga sampai ia melahirkan dan menemukan pekerjaan yang layak. Satu sisi ia juga merasa khawatir dengan kondisi kesehatan ibunya yang baru diketahui mengidap gejala jantung. Untung saja ketika ia memberitahu masalah kehamilannya kondisi Ibunya tidak apa-apa.
2 minggu berlalu....
"Ibu besok kita beres-beres dan bawa barang secukupnya ya, nanti kita beli saja yang perlu disana" ucap Jemima ketika memasukkan baju-bajunya ke kardus.
""Iya Ndok kamu juga jangan capai-capai ya, kasihan bayi kamu oh ya Mbak Mu belum bisa kesini gak apa-apa ya"
__ADS_1
"Gak apa-apa Bu nanti saja saat aku melahirkan" ucap Jemima lagi
Kakak dari Jemima sangat marah ketika mengetahui masalah yang menimpa Jemima ia sungguh memaksa untuk meminta Darwin bertanggung jawab. Tetapi Jemima dan Ibunya berusaha menjelaskan dan akhirnya ia mengerti, karna keterbatasan biaya juga ia belum bisa menemui Jemima dan Ibunya.
Akhirnya hari ini Jemima dan Ibunya sampai di Semarang dengan menaiki pesawat dan lanjut menuju Ruko milik Bu Retno , ia ingin memeriksa keadaan sebelum barang-barang dari rumahnya dulu dikirim dengan menyewa truck sampai sedangkan ruko yang akan ditempatinya berantakan. Ia melihat sekitar wilayah cukup ramai dengan warung makan dan rumah penduduk serta beberapa rumah kosan. Ia memandangi Ruko 2 lantai yang berderet sebanyak 5 buah. Bukan ruko baru tetapi sangat pantas untuk ia singgahi dan jadikan tempat usaha.
Ia mendorong railing door besi yang cukup berat mungkin relnya sudah karatan dan harus diberikan oli agar lancar kembali. Udara pengap dan lembab menyerebak keluar ketika pintu itu berhasil di buka. Debu-debu yang menempel di lantai cukup tebal sepertinya ruko ini memang sudah lama tidak terpakai.
"Bagus Je rukonya" ucap Ibu menenangkan, Jemima tahu Ibunya tidak ingin memberatkan hidupnya lagi.
"Iya Bu nanti tinggal dicat ulang saja ya sama ditambah sekat untuk kamar ya Bu" Jemima melihat-lihat lantai 2 yang masih kosong hanya terdapat kamar mandi saja.
"Nanti aku cari tukang sama orang yang bisa bersih-bersih ya Bu" kemudian Jemima menyalakan ponselnya dan membuka aplikasi jasa warna hijau untuk mencari jasa bersih-bersih. Ia yang belum mengenal seluk beluk tempat tersebut kerepotan untuk mencari jasa pembersih.
"Udah dapat Bu, aku panggil 3 orang, tinggal tunggu saja, sementara kita tidur di hotel dekat sini sampai semuanya selesai" ucap Jemima dan memesan sebuah hotel dekat sini dari ponselnya. Tidak lama 3 orang wanita datang menggunakan motornya masing-masing.
"Mba ini tolong di bersihkan ya lantai 1 dan 2 karna mau saya tempati dan kamar mandi nya juga" jelas Jemima pada ketiga wanita itu.
"Oh iya kalau ada info tukang untuk mengecat boleh diinfokan ya Bu"
"Oh itu suami saya saja Mbak dia bisa koq, orangnya juga lagi nganggur dirumah" ucap salah satu Ibu yang mengunakan hijab ungu.
"Boleh Bu, bapaknya suruh kesini saja ya" bersyukurnya Jemima hari pertama sudah dilalui dengan kemudahan.
"Ibu aku antar di hotel ya , biar bisa istirahat aku awasi disini aja" Jemima mengajak Ibunya pergi dari Ruko yang masih berantakan itu.
"Iya Dek, kamu juga jangan kecapaian kasian bayi kamu juga perlu istirahat" Jemima kemudian mengantarkan Ibunya dan kembali lagi ke ruko. Bapak tukang cat yang diminta pun sudah datang ,jemima segera memberi pengarahan mengenai dinding mana saja yang harus di perbaharui. Ia begitu semangat memulai hari baru, dan untunglah ternyata Bapk tersebut bersedia membuatkan kamar sederhana untuk Jemima dan ibunya.
Dilain sisi di tengah kesibukannya Darwin teringat akan Jemima.
__ADS_1
"Bram ada kabar dari Jemima?" mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu meeting di sebuah restoran.
"Tidak ada Pak, nomornya sudah tidak bisa dihubungi lagi" muka Darwin berubah kesal.
"Keputusan gue bener gak ya Bram?" Darwin menyenderkan kepalanya ke jendela.
"Saat ini gue akan berperan sebagai temen lu ya Win"
"Gue menyayangkan keputusan lu, harusnya lu tetap tanggung jawab, lu bicarakan sama istri lu, gua rasa juga Jemima gak akan nuntut macam-macam, dia cuma mikirin anaknya aja, sekarang gara-gara lu minta dia untuk gugurin, jadi dia nurutin apa kata lu, emang lu gak nyesel udah nyuruh dia ngelakuin hal tersebut" Abram yang sedang menyetir bicara sedikit emosi.
"Gue panik kemarin, gua juga takut Cindy akan marah sama gue" Darwin mengerutkan alisnya
"Pasti marah lah siapa istri yang gak marah suaminya hamilin anak orang"
"Resekk lu" Darwin memukul tangan Abram
"Terus mau lu gimana?" tanya Abram lagi
"Tau lah gua juga bingung semoga gua gak nyesel sama keputusan gue"
"Iya Boss, jangan diulangin lagi ya" Abram mengingatkan Darwin.
"Gak lah, tapi rasanya beda Bram sama tuh anak" Darwin sedikit teringat akan kejadian malam itu
"Ahh stress lu" Abram berdengus kesal dengan sikap Darwin
"Kalau gue belum nikah, gua mau aja nikahin tuh anak" lanjut Darwin lagi
"Gak jelas beneran lu, udah lupain aja, urusin istri lu yang udah lu nikahin, gak usah ngayal aneh-aneh deh"
__ADS_1
"Buruan lu juga kapan nikah jangan sendiri mulu, ntar lama-lama suka lagi sama gua" canda Darwin ke Abram
"Belum waktunya, dah yuk turun ntar keburu telat" mereka kembali bersikap profesional didepan customer.