Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Memulai Hari Baru


__ADS_3

Jemima sudah menginfokan atasannya Bu Retno serta Alya mengenai pengunduran dirinya. Mereka kaget tetapi mencoba memahami kondisi Jemima. Alya masih mendesak Jemima mengenai rencananya kedepan.


"Je next nya lu mau apa, terus gimana sama kehamilan lu?" Alya menarik Jemima keruang meeting kecil untuk mendengarkan ceritanya.


"Gue tadi dapat uang 500jt Al" ucap Jemima


"Hah banyak banget buat apaan itu?" ucap Alya kaget


"Buat gugurin kandungan gue"


"Gillaaa,," mata Alya melotot kaget


"Ya mau gimana lagi Al emang dia bisa nikahin gue" Jelas Jemima lagi dengan penuh kekecewaan


"Terus lu mau nurutin perintahnya?"


"Gak Al, gua akan tetap pertahankan, biarin aja dia gak mau akuin gak apa-apa, gue gak mau jadi pembunuh anak gue sendiri" tangisan air mata Jemima tidak bisa terbendung begitupun air mata Alya yang ikut menetes.


"Al, gue mungkin akan pindah dan menyembunyikan kehamilan ini, kalau Pak Darwin sama Pak Abram tanya bilang aja udah gue gugurin ya, please jangan kasih tahu siapapun termasuk Reno ya" pinta Jemima


"Iya pasti, lu mau kemana, kalau ada butuh apapun please info ke gue ya" Alya menghapus air mata Jemima dan ia balas dengan senyuman.


"Minggu ini gue terakhir, sorry seharusnya sebulan tapi gue minta sama Pak Darwin untuk terkahir diminggu ini, gue harus menyusun rencana kedepannya secepatnya" Jemima memandang muka temannya itu dengan muka sedihnya


"Makasih ya Al sudah support gue selama ini"


Tok tok tok


"Boleh saya bergabung" Bu Retno ikut masuk kedalam ruang meeting itu.


"Boleh Bu" Jemima mencoba tersenyum mempersilahkan Bu Retno masuk.


"Saya boleh tahu rencana kamu, tenang ini diluar pekerjaan , anggap saja saya Tante kamu, hehe bukan atasan kamu dan siapa tahu saya bisa bantu kamu Je" ucap Bu Retno, bersyukur ia mempunya atasan yang sangat baik.


" Saya tidak akan beritahu Pak Darwin dan Pak Abram mengenai rencana kamu" ,ucap Bu Retno lagi ia menarik kursi dan duduk disebelah Jemima.


"Ehmm saya mungkin akan pindah rumah Bu, karna saya malu sama tetangga jika mereka tahu saya hamil tanpa suami, dan saya juga merahasiakan kehamilan ini ke Pak Darwin dan Pak Abram, karna saya menerima kompensasi yang diberikan jika saya menggugurkan ,tapi kenyataan saya tidak akan gugurkan kandungan ini Bu" Bu Retno menanggapinya dengan tersenyum dan menggangguk pelan.


"Lalu kamu mau kerja apa Je?"


"Belum tahu Bu mungkin akan buka warung sementara saya hamil, setelah itu saya akan bekerja lagi, uang 500 juta akan cukup menghidup saya selama hamil Bu"

__ADS_1


"Saya ada sebuah ruko yang tidak terpakai daerah Semarang mungkin kamu bisa gunakan" ucap Bu Retno


"eh gak usah Bu nanti ngerepotin" Jemima menolak.


"Gak apa-apa dari pada kosong, rukonya gak besar koq hanya 2 lantai, lantai atas kamu bisa gunakan untuk tempat tinggal dan bawah untuk usaha" Bu Retno mengusap lembut bahu Jemima


"Baik Bu akan saya pikirkan" Jemima memang berencana pindah dari rumahnya tetapi tidak tahu akan kemana, apakah tawaran Bu Retno merupakan jalan keluarnya.


Selesai pekerjaan Jemima memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan. Iya belum pernah memeriksakan kandungannya sama sekali.


Ia sedang menunggu antrian didepan poli spesialis kandungan. Memandang dengan iri wanita-wanita berperut membuncit dengan muka bahagia ditemani oleh suaminya masing-masing. Ia hanya bisa menghela nafas berkali-kali menahan tangis dan sakit di hati. Lamunannya dikejutkan akan suara laki-laki yang baru-baru ini sering berbicara dengan dia.


"Je..." Jemima menengok kekanan atas ternyata Abram ada disini.


"Eh iya Pak"


"Ngapain?" tanya nya


" Gak apa-apa" Jemima bangkit dari kursinya dan hendak pergi dari sana, karna merasa tidak nyaman dengan kedatangan Abram, ia tidak mau jika rencananya untuk mempertahankan kandungannya diketahui oleh Abram, asisten kepercayaan Darwin.


"Ibu jemima Ayunda, silahkan masuk" suara suster didepan pintu dokter spesialis kandungan yang sedang ia tunggu sedari tadi memanggil. Ia bingung haruskah pergi atau tetap masuk. Tanpa aba-aba Abram menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Paaakkk" ucap Jemima tapi tidak berusaha untuk menolak ajakan Abram.


"Iya ada masalah apa?" tanya dokter wanita itu dengan suara lembutnya, Jemima masih bingung dan ia hanya terdiam.


"Istri saya sudah telat datang bulan Dok, kemarin testpack positif,kami mau memastikan saja bener apa gak" ucap Abram tiba-tiba dan itu membuat Jemima terperangah.


"Hari terakhir datang bulan kapan Bu?" tanya dokter itu


"Sekitar tanggal 3 bulan lalu Dok" ucap Jemima pelan.


"Ya udah kita periksa USG dulu, suss tolong dibantu" kemudian suster membawa Jemima keruangan disebelah yang hanya ditutupi oleh gorden.


"Tiduran saja Bu, diangkat bajunya sedikit ya" dan suster itu mengangkat baju Jemima hingga dibawah *********** dan menurunkan sedikit celananya.


"Dok sudah siap" ucap suster itu.


"Ayo Pak kita lihat" ucap Dokter itu mengajak Abram untuk melihat pemeriksaan USG.


Jemima tampak malu akan kehadiran Abram disisinya, apalagi dengan tampilannya saat ini. Dokter menuangkan cairan gel dingin diperut Jemima. Kemudian memutar-mutar stick diperutnya. Setelah itu dokter melakukan sesuatu pada keyboard komputernya.

__ADS_1


" Ini ya Bu janinnya sudah memasuki usia 8 minggu ukurannya sebesar kacang merah. Tampak sehat kalau saya lihat, nanti saya berikan vitamin untuk memperkuat kandungannya, ini hasilnya bisa dibawa pulang, okey kita sudah selesai" kemudian dokter kembali ke mejanya, suster membantu Jemima membersihkan perutnya dengan tisu untuk menghilang kan gel tersebut. Abram masih terdiam memandang Jemima kemudian membantu Jemima turun dari ranjang. Mereka berdua kembali duduk menghadap Dokter.


"Kandungannya baik koq, Ibunya bisa makan apapun, kalau morning sick itu wajar, ini vitamin nya saya kasih untuk sebulan nanti setelah habis kembali lagi kesini dan kita control lagi perkembangannya, ada yang ditanyakan?" Jemima dan Abram hanya diam mendengar penjelasan dokter.


"Oh ini biasa ditanya oleh calon ayah ibu baru, hubungan seksual boleh dilakukan, tapi hati-hati ya Pak jangan memaksakan Ibunya" seketika Abram terbatuk mendengar penjelasan dokter.


"Iii ya dok" ia tersenyum menjawabnya


Jemima dan Abram berjalan keluar dari ruangan dokter. Kemudian Jemima duduk disalah satu kursi.


"Keputusan kamu sudah bulat setelah melihat janin kamu didalam tadi?" tanya Abram yang masih berdiri didepan Jemima, kemudian Jemima bangkit dari duduknya dan berjalan menduhului Abram sambil berucap "bukan urusan mu Pak"


Setelah menyelesaikan administrasi dan menebus resep obat, Jemima berencana untuk makan, perutnya sudah sangat kelaparan, tetapi ia risih dengan Abram yang selalu membuntutinya.


"Saya mau pulang Pak" ucap Jemima saat didalam lift menuju lobby


"Saya antar saja"


"Gak Pak rumah saya jauh di bogor"


"Kalau gtu makan dlu aja kamu pasti belum makan" ucap Abram yang dari tadi memandang Jemima.


"Ehmm gak Pak" kemudian perut Jemima berbunyi menandakan perutnya yang sudah terisi bayi merasa kelaparan.


"Lapar tuh, kasihan bayi kamu, nanti saya anterin kamu tenang aja" ucap Abram lagi sepertinya memang ia harus makan terlebih dahulu karna perjalanan pulangnya sangat jauh.


Jemima sudah merasa amat kelaparan sehingga tidak sanggup untuk pergi mencari tempat makan lebih jauh lagi.


"Pak makan nasi goreng aja depan rumah sakit, saya udah lapar sekali" ucap jemima sambil memandang gerobak nasi goreng


"Ayoo" seketika 1 porsi nasi goreng habis dilahap Jemima.


"Bapak ngapain kerumah sakit?" tanya Jemima penasaran akan pertemuan mereka.


"Habis nebus obat Ibu saya" ucap Abram yang masih menikmati mie gorengnya.


"Ohhh"


"Jadi kamu batalkan keputusan kamu"


"Gak saya akan tetap jalankan" Jemima berbohong,ia tidak mau Abram tahu akan rencananya.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu tebus obatnya kalau memang mau kamu keluarkan" tanya Abram


"Suka suka sayalah Pak, sudah saya mau pulang" Jemima kemudian bangkit dan membayar makanan tersebut dan meninggalkan Abram . Ia buru-buru menaiki taxi yang lewat depan rumah sakit.


__ADS_2