
Abram terkejut dengan kehadiran Darwin dibelakangnya. Orang-orang memperhatikan kejadian barusan yang menyebakan petugas keamanan datang. Abram yang masih dalam posisinya duduk dilantai masih mencoba menetralkan pikirannya. Tidak ada rasa marah dalam dirinya ia siap menerima perlakuan Darwin kepadanya.
Seorang petugas keamanan memegangi tangan Darwin yang siap untuk memukul wajah Abram kembali.
"Pak tenang, jangan menimbulkan keributan disini" di tepisnya tangan petugas itu.
Sambil menunjukkan jarinya ke muka Abram Darwin berucap " Gua tunggu lu dikantor sekarang !!!!" kemudian meninggalkan Abram menuju mobilnya yang terparkir. Abram dibantu berdiri petugas keamanan.
"Terimakasih Pak" ucapnya sambil menyentuh bibirnya yang sedikit berdarah.
"Bapak baik-baik saja, kalau ingin membuat laporan atas pemukulan barusan saya bantu agar bisa dibawa kekepolisian" ucap salah seorang petugas itu.
"Tiak perlu Pak, terimakasih saya pergi dulu" Abram masih cemas apakah Jemima melihat kejadian barusan atau tidak. Ia masuk kemobilnya mengambil nafas dalam-dalam berusaha menenangkan pikiriannya agar siap menjawab semua pertanyaan Darwin nanti.
Abram membuka pintu ruangan Darwin, Darwin sedang berdiri menyenderkan badannya dimeja kerjanya menghampiri Abram dan kembali memukul muka Abram.
"Brengsek lu memang ya, selama ini lu bohongin gue" Darwin masih nampak kesal dengan kejadian yang baru dilihatnya tadi di bandara. Kekesalannya berlipat ganda karna pagi ini dia sedang mengikuti Cindy yang akan pergi dengan selingkuhannya tetapi malah menemukan fakta baru antara Abram dan Jemima.
Abram masih diam, kepalanya hanya pusing saja karna pemukulan itu.
"Jelasin ke gua Bram sekarang" teriak Darwin kemudian duduk di kursinya yang disusul oleh Abram.
Abram menarik nafas dalam-dalam
" Iya tadi yang lu lihat benar Jemima dan anak yang digendong itu adalah anak lu juga, namanya Dira usianya 1 tahun lebih." Abram terdiam sebentar dan melanjutkan ceritanya " 1 tahun lalu saat gue ijin ke Semarang antar bunda melihat sepupu yang melahirkan tidak sengaja gue bertemu dengan Jemima yang habis melahirkan juga. Gue dan Jemima sama-sama terkejut, dengan muka memohon dia bilang jangan kasih tahu ke lu Bos soal anaknya karna dia udah ambil uang itu asalkan dia mau gugurkan. Dia takut lu akan ambil anaknya dari dirinya" Darwin diam menyimak semua penjelasan Abram.
"Terussss" ucap Darwin
"Awalnya gue merasa kasihan dengan Jemima dan anaknya mereka hidup bertiga dengan Ibunya disebuah ruko, usaha warung makan seadanya. Setiap bulan gue selalu mengunjungi mereka, memastikan mereka dalam kondisi baik-baik. Lama kelamaan gue jatuh cinta sama dia dan anaknya" kedua alis Darwin masih mengkerut.
"Rencana setelah gue resmi akan menikah dengan dia , gue akan jelaskan ke Lu Bos"
"Kenapa lu gak cerita ke gue, padahal gue udah sering ngomong ke lu kan kalau anak itu lahir gue akan urus." Darwin masih tampak kesal dan memukul mejanya
__ADS_1
"Sorry karna gue janji sama Jemima mengenai hal ini"
"Lu mau nikah sama Jemima?" suara Darwin berubah lebih tenang.
"Rencana begitu, sudah beberapa hari Jemima dan Dira ada dirumah saya, sedang saya kenalkan dengan Bunda"
"Beberapa hari lalu Pak Atma telpon gue biasa urusan bisnis terakahir dia bilang anaknya sama lu akan segera menikah, maksudnya gimana hah??? Brengcek juga lu ya" Darwin tampak kesal kembali.
"Ntah lah, Bunda dan Pak Atma menjodohkan gue dengan Manda sedangkan selama setahun ini gue sudah sama Jemima"
"Ya lu bilang lah mau nya sama siapa,jangan jadi pengecut mengorbankan salah satu pihak. Besok antar gue kerumah Jemima" Abram terkejut dengan ucapan Darwin barusan.
"Pantas saja lu sering cuti ternyata lu nemuin anak gua"
"Ceritakan tentang anak gue, siapa tadi namanya"
"Dira Boss. Usianya 1 tahun bulan lalu. Dia anak yang pintar dan lucu, matanya sama dengan lu." jelas Abram
"Pastilah dia mirip gue, pinter dan gantengnya." muka Darwin berubah senang dan bangga.
"By the way, gue tidak akan minta maaf atas tonjokan gue tadi. You deserve it" Abram hanya mengganggukan kepala dan kembali ke mejanya. Memeriksa ponselnya menunggu kabar dari dua orang kesayangannya yang seharusnya sudah sampai beberapa saat lalu.
"Gak ada kabar" ucapnya sendiri segera ia menelepon Jemima tak lama panggilannya diangkat.
"Yang kamu dimana sudah sampai?" tanya nya ke Ibu satu anak itu.
"Sudah Mas ini baru saja sampai"
"Ibu gimana?"
"Kondisinya baik, mas aku lagi repot mau urus Dira dulu"
"Iya sayang" panggilan di akhiri, hati Abram bimbang apakah perlu ia beritahukan ke Jemima mengenai Darwin yang sudah mengetahui keberadaannya dan anaknya.
__ADS_1
Malam hari saat ia sampai rumah secepatnya masuk kekamarnya agar tidak dilihat Bunda akan kondisi mukanya yang lebam akibat tonjokan Darwin.
Ternyata Bundanya sedang dikamar Abram sedang meletakkan baju yang setelah selesai di strika.
"Mas muka kamu kenapa?" ucap Bunda kaget melihat muka anaknya yang membiru.
"Tadi jatuh Bun terus kena meja mukanya"
"Mandi dulu sana habis itu Bunda obati" wajah Bunda masih tampak khawatir.
Bunda mengambil baskom diisi dengan air es dan mengompres mata Abram yang bengkak.
"Sudah besar loh Mas koq bisa jatuh seperti ini"
"Aduuh sakit Bun, iya gak sengaja tadi kepleset" ucap Abram bohong.
"Ya sudah istirahat sekarang dan minum obatnya biar besok gak begitu parah" Bunda meninggalkan Abram sendiri. Abram mencoba menghubungi Jemima tapi tidak ada jawaban atas panggilannya.
✉️ Abram: Malam Yang, kamu sedang apa?
Abram menunggu balasan dari Jemima tapi yang ditunggu tidak kunjung merespon dan akhirnya ia tertidur.
Dilain sisi, Jemima memandang ponselnya sedari tadi, ia belum tidur bahkan bisa dikatakan ia tidak bisa tertidur. Hati nya sedang kacau memikirkan hubungannya dengan Abram. Panggilan dari Abram diponselnya ia acuhkan juga pesan yang ditulis Abram. Ia akan pelan-pelan menjauhkan hatinya dari Abram. Sulit dan berat tapi itulah yang bisa ia lakukan. Tidak ingin membuat hubungan Abram dan Ibunya menjadi buruk hanya karna dirinya. Menangis semalaman membuat matanya bengkak, untunglah Dira tidak rewel semalam ,mungkin karna lelah juga akibat perjalanan singkat ke Jakarta beberapa hari lalu.
"Dira kita harus kuat tanpa Om Abram ya Nak" ucapnya di telinga Dira. Ia belum pernah merasakan kesedihan sedalam ini, berpisah karna keadaan sangat sulit dijalani. Pagi ini dia mengalihkan pikirannya dengan membersihkan seluruh ruko agar tidak selalu memikirkan Abram. Hari ini warung makannya sedang tutup karna Bude Wati sedang pergi kerumah anaknya, dan kondisi Jemima sedang tidak baik.
"Je......" Jemima yang sedang duduk diam dan melamun terkejut dengan suara laki-laki yang sangat dia sayang, kepalanya menengok ke sumber suara.
Abram dengan tampilan santainya mengenakan polo shirt dan celana jeans ada yang sedikit berbeda dari dirinya , oh iya saat ini Abram mengenakan kacamata yang tampak cocok dipakainya. Jemima berdiri dan menghampiri Abram.
"Mas koq kesini, kan aku bilang gak usah" Abram diam dan hanya menyentuh pipinya.
"Abram cuma mengantarkan saya Je" ucap Darwin yang tiba-tiba muncul dari balik mobil yang terparkir depan ruko.
__ADS_1
---
Jangan lupa like dan komen ya