
Menghirup udara pagi yang segar diarea taman dekat rumah bersama Dira merupakan suatu yang jarang dia lakukan semenjak memulai bekerja. Waktu satu minggu untuk cuti ia dapatkan dari Darwin. dan ia manfaatkan sebaik-baiknya.
"Daddy pergi ke Jepang Dira, kapan ya kita kesana" Jemima menggandeng tangan Dira sambil menyusuri jalan setapak ditaman.
"Dira suka gak sama Daddy?" tanya Jemima ke anaknya dan tidak ditanggapi oleh anak itu yang malah asik mencabuti daun-daun.
"Kalau sama Papa Abram suka mana Dira? Tapi Papa Abram udah punya tante Manda, kalau sama Daddy, Mama gak cinta." curhat Jemima ke Dira, ia bingung haruskah menerima Darwin yang tidak dia cintai ataukah menunggu laki-laki lain yang mungkin akan datang di kehidupannya di kemudian hari.
"Dadada mau mau" ucap Dira sembari mencoba melepas genggaman tangan Jemima, ia hendak berlari-larian mengejar anak kucing.
"Dira mau sama Daddy?" Jemima mendengus bingung, tapi anak itu masih tidak menghiraukan pertanyaannya.
Siang hari sebelum ke Bandara Darwin sempatkan mengunjungi Dira.
"Dira, Daddy pergi dulu ya. Nanti Daddy bawakan oleh-oleh" ucap Darwin sambil menggendong Dira.
"Je jangan lupa ya akhir minggu ini ketemu sama Papa Mama saya, saya sudah cerai dengan Cindy jadi saya enak kenalkan kalian sebagai calon istri dan anak" Jemima tetap fokus memasak, ia tidak mau menggubris ucapan Darwin karna ia sendiri saja masih belum memutuskan untuk menikah dengan Darwin atau tidak.
"Cepat Pak ke bandara nanti telat loh" usir Jemima secara halus.
"Iya Je. Dira Daddy pergi dulu. Jadi anak baik ya, jangan buat susah Mama" Darwin mencium Dira di pipinya dan menyerahkan ke Jemima.
Suasana kembali sepi tanpa sosok laki-laki itu sejak kepergiannya 3 hari lalu dan saat ini Jemima memikirkan Abram juga tidak ada kabar. Tetapi ia tidak mau mencari tahu, biarlah itu bukan urusannya lagi. Hari ini dia sedang bermain bersama anaknya, Dira sedang senang-senangnya mengenal karakter Thomas and friends, kereta api berwarna biru. Darwin membelikannya mainan 1 set mainan kereta api dan semenjak itu Dira sangat tertarik dengan kereta api.
Suara ketukan pintu rumahnya mengusik keseruan bermain Dira dan Jemima. Jemima bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membukakan pintu. Ia terkejut dengan kehadiran 2 orang wanita, 1 orang wanita berumur yang dia kenal dan 1 orang wanita muda mungikin seumuran dengan dia yang pertama kali bertemu.
"Apa kabar Je?" sapa Bunda Abram
"Baik Bu, ehmm masuk silahkan Bunda" Jemima mempersilahkan mereka masuk.
__ADS_1
Dua wanita itu masuk dan mengikuti Jemima kedalam ruang tamunya. Jemima duduk berhadapan dengan kedua wanita itu yang mukanya sedikit kurang ramah.
"Sebentar aku buatkan minum dulu Bu" Jemima hendak membuatkan minum karna Bude Wati sedang pergi kepasar.
"Gak usah repot-repot, kami gak lama-lama disini" ucap Bunda dengan nada ketusnya
Bunda Abram menatap Jemima dengan lekatnya seakan ingin membunuhnya, sedangkan wanita sebelahnya yang Jemima yakin merupakan istri Abram tak kalah tatatapannya.
"Kamu pasti sudah tahu maksud saya dan menantu saya datang kesini" ucap Bu Tika
"Iya Bu, bagaimana ya?" tanya Jemima bingung
"Saya langsung saja kalau gitu,sepertinya kamu pura-pura bodoh. Saya ingin kamu menjauh dari Abram. Abram sudah punya istri seharusnya dia lebih mengurusi istrinya daripada kamu dan anak kamu." deg Jemima terdiam mendengarkan ucapan Bu Tika.
"Gara-gara kamu, Manda diacuhkan oleh Abram bahkan sampai saat ini Abram enggan menyentuh Manda. Susuk apa yang kamu pakai sampai Abram tidak lepas dari kamu?" tuduh Bu Tika ke Jemima
"Susuk??? Maksud Ibu?" Jemima bingung seumur-umur ia tidak pernah berurusan dengan hal-hal gaib seperti itu.
"Maaf Bu jangan menghina saya seperti itu, saya punya alasan atas apa yang terjadi sama diri saya" Jemima berusaha membela dirinya.
"Halaah alasan apa, emang kamu suka godain laki-laki untuk diambil hartanya kan, ini buktinya bos kamu Darwin sampai rela ceraikan istrinya demi kamu dan mau belikan rumah mewah disini. Terus kamu berusaha dekat dengan Abram biar kamu bisa manfaatkan juga kan?" tuduh Bu Tika lagi.
"Nak kamu bicara sana, keluarkan saja kekesalan kamu. Bunda gak terima kalau kamu disia-siakan Abram demi wanita ini" Bu Tika berusaha memanasi Manda yang sedari tadi hanya diam saja.
"Je saya cuma minta kamu menjauh dari Kak Abram. Sampai malam ini dia belum menerima saya sebagai istrinya, saya tahu tiap malam dia selalu memandangi foto kalian di ponselnya, say...." ucapan Manda terjeda karna kehadiran laki-laki yang sedang menjadi topik utama dirumah ini.
"Bunda... Manda.. kalian sedang apa disini" Abram menatapnya dengan alis mengkerut.
"Bunda sedang memberi pengertian ke Jemima bahwa kamu itu sudah punya istri jadi dia jangan ganggu-ganggu kamu lagi" ucap Bunda
__ADS_1
"Bun, tapi Jemima gak pernah ganggu Abram. Abram yang mau sendiri"
"Iya itu karna kamu sudah di pelet mungkin" Abram heran dan menggeleng-gelengkan kepala
"Gak ada hal seperti itu Bun, Jemima wanita baik. Ini karna Abram saja yang belum siap menerima pernikahan dengan Manda."
"Sudah kamu jangan belain wanita murahan dan gak bener ini lagi. Bunda sudah selesai ungkapkan semua, ayo kita pulang" hina Bu Tika dan itu membuat hati Jemima sangat sakit tanpa terasa air matanya menetes.
"Bu saya bukan wanita seperti itu." ucap Jemima
"Berapa kali saya bilang kamu itu cuma cari harta dari laki-laki saja. Kerja dong jangan cuma manfaat laki-laki apalagi sampai punya anak dari laki-laki lain, ihh murahan sekali kamu jadi perempuan. Laki-laki waras mana yang mau jadikan kami istrinya" hinaan Bu Tika sungguh menyakitkan hati Jemima.
"Saya Bu saya yang akan menjadikan Jemima istri saya dan saya yang akan betanggung jawab akan anak saya Dira" suara Darwin yang baru saja datang menggagetkan semua orang.
"Kamu sudah siap kan Je jadi istri saya?" tanya Darwin lagi.
"Iiiiya Pak, saya siap, saya mau jadi istri Bapak" Jemima kemudian memeluk Darwin dan menumpahkan air mata kekeselan atas himaan Bu Tika. Muka Abram tampak kecewa ia merasa sakit hati mendengar Jemima menerima ajakan Darwin menikah.
"Gak bisa, aku gak terima Je kalau kamu nikah sama Darwin" tolak Abram terlihat ia sangat emosi.
"Ini pilihan aku Mas, aku memilih Pak Darwin sebagai suami aku, mas gak punya hak untuk mencampuri urusan aku dan Dira. Mas juga sudah punya istri, biarlah urusan mas dengan keluarga baru mas saja"
"Hebat kamu ya berhasil menjadikan Darwin sebagai suami, ckckc" Bu Tika masih menghina Jemima
"Bu, tanpa mengurangi rasa hormat saya ke Abram silahkan Ibu pergi dari rumah ini, saya tidak terima jika ibu dari anak saya dihina seperti itu" Darwin menatap tajam ke arah Bu Tika, jelas ia marah akan ucapan bu Tika barusan.
"Bram bawa pergi keluarga lu" pinta Darwin ke Abram dan Abram menarik Bunda dan istrinya keluar dari rumah Jemima. Jemima yang masih menangis dan memeluk Darwin dengan sangat kuat menumpahkan semua sakit hatinya.
"Maafin saya karna saya kamu jadi dihina orang-orang. Saya akan menebus semua kesalahan saya dulu dan bertanggungjawab akan kamu dan Dira" Darwin mengusap kepala Jemima dan menciuminya. Dira menghampiri Darwin dan meminta digendong oleh lelaki itu. Tampak mereka bertiga saling berpelukan satu sama lain layaknya keluarga bahagia.
__ADS_1
"Saya akan membuat kalian bahagia" janji Darwin kepada Jemima dan anaknya.