
Tanggal cantik sudah dipilih oleh Jemima untuk melahirkan anaknya. 0110 menjadi hari bersejarah bagi dirinya bahwa ia akan memiliki gelar baru sebagai seorang Ibu. Pemeriksaan Dokter Kandungan setiap bulannya dia sudah ikuti beberapa waktu lalu dan menginfokan bahwa kondisinya baik-baik.
Tanggal yang dinantikan oleh Jemima dan Ibunya akan tiba besok. Semua persiapan untuk melahirkan sudah siap. Rencana sore hari besok jadwal operasi akan segera dilaksanakan. Jemima sedang memandangi kembali baju-baju bayi yang sudah dibelinya, kadang dalam sepi ia beberapa kali menangis, bukan karena ia hamil tanpa suami, tetapi karena teringat akan anaknya kelak lahir tanpa seorang ayah yang bisa menemaninya. Rasanya sungguh tidak adil untuk anak ini. Perasaan bersalah terkadang muncul jika mengingat hal tersebut. Kadang ia berfikir apakah perlu menghubungi Darwin bahwa ia tetap mempertahan kan bayi itu, tapi bagaimana nanti malah menjadi boomerang akan dirinya dan malah memisahkan mereka berdua.
Seminggu sebelumnya saat ia sedang berbaring sambil menonton televisi nada dering di ponselnya terdengar dari meja riasnya. Ia yang sudah agak kesulitan bergerak, sesegera mungkin menjawab panggilan tersebut sebelum terputus.
"Mba Juli" ucapnya melihat nama yang muncul di ponselnya.
"Iya mbak sudah siap-siap?" Malam nanti seharusnya kakaknya terbang ke Semarang untuk menemaninya.
"Je, mbak minta maaf sekali ya, Lyodra badannya panas dari kemarin, Mbak pikir akan segera sembuh, ternyata setelah di periksa darah ,trombositnya rendah, Lyodra kena DBD dan harus dirawat, Mbak batal kesana ya Je. Maaaf banget" ucap Julia penuh dengan rasa penyesalan.
"Iiya gak apa-apa Mbak, Mbak jaga aja Lyodra agar cepat sembuh, aku nanti sama Ibu saja, Mbak juga jaga kesehatan ya jangan sampai sakit, nanti saja Mbak kesini saat semua sehat ya" Jemima kaget mendengar berita tersebut, tetapi ia harus mengerti akan masalah yang dihadapi Kakaknya ini juga sangat penting.
"Iya Je, maaf ya, semoga lahiran kamu lancar dan sehat semuanya ya"
"Iya Mbak ya udah sana banyak istirahat, nanti aku yang infokan ke Ibu kalau mbak tidak jadi datang dan Lyodra sakit" setelah mematikan panggilan telepon tersebut ia segera mengabarkan Ibunya, dan Ibunya menjadi cemas akan cucunya di seberang pulau sana.
__ADS_1
"Ya ampun, moga-moga Lyodra gak apa-apa ya Je, kamu juga jangan banyak pikiran ada Ibu yang temani ya" Ibu mengusap punggungku mencoba menenangkanku juga.
Hari yang dijadwalkan tiba, Jemima mulai sulit tidur dikarenakan kehamilannya ini dan juga karna kepikiran akan operasi yang akan dia jalani. Kehamilan yang mendadak dan tanpa seorang suami, membuatnya sangat takut akan sesi melahirkan ini, batinnya belum siap akan kejadian yang dihadapinya dan berjalan cepat pada akhirnya yang ditunggu akan datang.
"Yuk Bu semua barang sudah siap kan, aku sudah panggil taxi untuk membawa kita ke rumah sakit" Jemima sudah mengemas semua barangnya dan menyiapkannya didepan pintu menunggu taxi.
Sampai di rumah sakit dengan perut besarnya ia berjalan mengurus segala administrasi.
"Sendirian aja Bu?" tanya petugas administrasi yang mengurusi ruangan yang akan dia tempati.
"Itu sama Ibu saya" jawabnya
"Eh gak usah mas masih kuat jalan" elak Jemima
"Jangan Bu sudah prosedur" baiklah Jemima menunggu bersama Ibunya untuk ditempatkan dikamar yang akan diinapinya beberapa hari. Ia yang semula ingin mengambil kelas 1 batal dan memilih ruangan kelas VIP yang hanya diisi oleh 1 pasien saja agar Ibunya bisa istirahat dengan nyaman didalam ruangannya.
"Je koq mewah banget kamarnya" ucap Ibu kaget saat memasuki ruangan tersebut, begitupun Jemima ia serasa menginap disebuah hotel mewah.
__ADS_1
"Iya Bu, biar Ibu bisa tidur nyaman disini, kalau di kelas 1 Ibu nanti tidurnya dibawah pakai tiker aja kasihan Ibu nanti badannya sakit semua" jelas Jemima ke Ibunya, tidak apalah ia harus mengeluarkan uang lebih agar Ibunya tidak sakit.
"Gak apa-apa toh Je, ini sayang uangnya" Ibu merasa ini sangat buang-buang uang.
"Sudah gak apa-apa Bu, uang dari Bapaknya bayi masih banyak koq,lagian uang jualan kita kemarin untung lumayan koq" ucap Jemima lagi, yak mau tidak mau ia harus mengurangi uang simpanan yang sebelumnya diberikan oleh Darwin sebagai uang menggugurkan kandungannya yang rencananya ia gunakan untuk uang sekolah hingga kuliah tapi saat ini ia kurangi untuk biaya melahirkannya. Hari ini dilakukan pemeriksaan terhadap dirinya untuk melihat kesiapan sebelum operasi. Perasaan deg-degan menyelimuti dirinya, ini pertama kalinya dia dirawat dirumah sakit apalagi menjalankan suatu operasi. Tapi kebahagiaan menyambut kelahiran anaknya menutupi perasaan tersebut.
"Pasti ganteng kamu ya Dek" ia mengingat bagaimana tampannya muka Darwin, kemungkinan besar anaknya pasti menuruni muka Bapaknya juga.
"Yang penting sehat dan lengkap sempurna" ia mengelus-elus lagi perutnya.
Operasi dilakukan pada sore hari setelah semua diperiksa dan hasilnya baik-baik saja. Ia memeluk ibunya dan meminta doa restu.
"Doakan kami ya Bu, dan tunggu kami berdua disini" ucap Jemima kemudian mencium tangan Ibunya dan dibalas dengan usapan dikepala.
"Pasti Nak, Tuhan selalu menyertai kalian berdua" kata-kata itulah yang menjadi penguat Jemima saat ini. Ia didorong diatas kursi roda memasuki ruang operasi kemudian menempatkan dirinya diatas ranjang operasi. Dalam hening ia menunggu kedatangan dokter anestasi untuk menyuntikkan cairan bius di tulang belakangnya sedangkan dokter Kandungan nya berserta bidan sudah siap menjalankan tugasnya. Hawa dingin sedikit ia rasakan,pandangan nya yang dibatasi, membuatnya terkadang merasa deg-degan kembali, juga rasa mual sedikit ia rasakan. Rasa khawatir nya berbuah manis, saat mendengar suara nyaring dari seorang bayi yang baru saja keluar dari tempat ternyamannya untuk menghadapi dunia yang penuh dengan segala keindahan serta kekejamannya. Tanpa terasa air mata menetes dipipi Jemima.
"Bayinya laki-laki ya Bu, lengkap semua bagian tubuhnya, suaranya nyaring, pasti anak yang kuat nih" ucap dokter anak yang sekarang mengambil alih bayi laki-laki Jemima.
__ADS_1
Bayi laki-laki mungil berkulit putih menangis di depan Jemima, seorang suster mendekatkan bayi itu kemukanya untuk ia cium kemudian mencoba untuk diberikan asi. Jemima terkejut ketika melihat mata bayi itu yang baru saja terbuka berwarna coklat ke abuan persis dengan warna mata Darwin. Bayi mungil ini secara tidak langsung ingin menunjukkan ke dunia bahwa ia anak kandung dari seorang laki-laki bernama Darwin yang tidak menginginkan kehadirannya.
"Hai tampan, Welcome to the world lets fun together Dirandra Janu Redian, Mama love you forever".