
Kring... kringg..
Dengan mata masih terpejam Jemima mengangkat ponselnya yang berdering..
"Ha a lo" suara serak Jemima menjawab panggilan telepon itu.
"Kamu dimana?"
"Dirumah" ucap Jemima santai masih belum tersadar akan seseorang yang meneleponnya di pagi hari pada waktu liburnya.
"Rumah??" terdengar suara kaget dari laki-laki dibalik panggilan itu, perlahan Jemima mulai tersadar dan melihat nama di ponselnya "Pak Boss Gerry"
"Eh Bapak, maaf saya baru bangun, Bapak sudah dibandara?" tanya Jemima mencoba menyambungkan pikirannya di dunia nyata.
"Saya sudah check in dan sekarang ada di lounge executive menunggu kamu, kenapa kamu masih dirumah" ucap Gerry kesal
"Saya memang tidak ikut Pak, ini kan acara liburan Bapak dan keluarga" jelas Jemima
"Tapi saya maunya kamu ikut, kamu melawan perintah saya ya, kan saya sudah suruh pesan tiket buat kamu juga" ucap Gerry kesal, bersamaan dengan suara panggilan boarding untuk segera masuk ke pesawat.
"Ya sudah nanti kita bahas saat saya kembali dari Bali , saya sudha mau masuk kepesawat, ngaco kamu ya" ucap Gerry kesal karna rencananya ia ingin menyatakan cintanya kepada Jemima saat di Bali.
"Maaf Pak jangan marah, ini perintah Bu Sela" Jemima berucap dengan suara lirihnya
"Ehm" jawab Gerry seadanya karna kesal.
"Pak pesan dari Bu Sela, nanti teman sebelahnya jangan dicuekin dan di tinggal, baik kan saya Pak cariin Bapak teman perjalanan" Jemima tersenyum membayangkan bagaimana Gerry akan terkejut akan hadirnya seseorang
"Mira..." ucap Gerry saat melihat Mira melambaikan tangan ke arah Gerry
"Benar Pak, have fun ya" ucap Jemima
__ADS_1
"Awas kamu, nanti saya kembali saya buat perhitungan sama kamu" ancam Gerry karna sudah tidak bisa berbuat apapun dan hanya pasrah dengan keadaan yang ada.
"Iya Pak, terserah Bapak deh, disuruh lembur saya pasrah, disuruh apapun juga saya manut sama Bapak" ujar Jemima pasrah.
Hari ini rencananya ia akan bertandang ke rumah orang tua Darwin karna sudah lama tidak mengunjungi mereka. Syukurlah selama Gerry menelepon, Dira yang tidur disebelahnya tidak terbangun.
"Omaaaa, Dira datang" ucap Dira saat tiba dikediaman Oma dan Opanya yang tampak ramai dengan suara anak perempuan, ternyata Darwin, Cindy dan Clara ada disana juga.
"Dira, haii my dear, I miss you so much " sambut Magda kepada cucu laki-lakinya dan Dira segera memeluk Oma serta Opanya. Sedangkan Darwin hanya tersenyum menatap kedatangan Dira, tidak ada sambutan hangat kepada anak laki-laki itu. Jemima hanya bisa melihatnya dengan hati yang sedikit sakit.
Jemima memeluk Bagus dan Magda, kemudian hanya menyapa terhadap Darwin dan Cindy,
"Hai Win, Cin, apa kabar" sapanya
"Kami baik seperti biasa" jawab Cindy ketus dan angkuhnya.
Jemima membiarkan Dira bermain dengan adik tirinya Clara, mereka berdua bermain bersama ditemani oleh Darwin yang sedari tadi memangku Clara. Jemima mencoba membantu Magda membuat makan siang Macaroni Schotel untuk diberikan kepada cucunya.
"Aku sudah tanya ke Cindy, dia bilang dia selalu rutin kirimkan biaya Dira dan sekolah ke kamu, kamu sudah cek ke rekening kamu" tanya Darwin menuduh
"Sudah Win, dan tidak ada yang masuk selama 6 bualn ini, baik untuk keperluan Dira maupun sekolahnya, bahkan aku ditelepon dari pihak sekolah perihal uang sekolah yang belum dibayarkan" Darwin mengerutkan alisnya seolah tidak percaya dengan ucapan Jemima.
"Kamu gak percaya sama ucapan aku? Kamu bisa cek di rekening yang seharusnya kamu kirimkan kalau kamu tidak percaya" ucap Jemima kesal
"Oh bukan begitu" ujar Darwin.
"Ya sudah terserah kamu, percaya atau gak, toh aku masih sanggup membiayai Dira, kamu tidak usah khawatir Win. Aku tidak akan memanfaatkan Dira hanya untuk mencari keuntungan, mungkin saat kenaikan kelas ini aku akan memindahkan sekolah Dira ketempat yang aku sanggup bayar" Jemima segera meninggalkan Darwin dan kembali ke dapur, hatinya kesal dan sakit atas ketidak percayaan Darwin.
"Ma setelah ini kami pulang ya" ucap Jemima karna merasa tidak nyaman dirumah itu, sebenarnya Orangtua Darwin sangat baik dengan dirinya dan Dira, tetapi ia merasa tidak bisa jika harus berhubungan seperti ini dengann Darwin khususnya.
"Uahhhhhh" suara teriakan dan tangis Clara menggema dari ruangan keluarga, Jemima cepat-cepat menghampiri untuk melihat kegaduhan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Heh kasar banget kamu jadi anak?" ucap Clara menyentil kening Dira.
"Kenapa ini? Cin kenapa kamu nyentil Dira" ucap Jemima tidak terima atas perlakuan Cindy ke anaknya.
"Dasar anak gak tahu aturan, anak gak jelas, urus nih anak kamu, kasar gak terdidik dorong-dorong Clara" ucapan hinaan keluar dari mulut Cindy.
"Stop Cindy ucapan kamu berlebihan sekali untuk seorang anak kecil" ucap Magda menengahi
"Cin, please" ucap Darwin mencoba menenangkan Cindy agar tidak berucap kasar lagi.
Jemima bingung karna Dira mulai ikut menangis, ia memeluk anaknya
"Ada apa Dira, cerita ke Mama" Jemima menatap muka Dira yang sudah dipenuhi air mata.
"Dedek ambil pulpen yang dikasih Daddy ke aku Mama, aku sudah bilang itu pulpen Daddy untuk Dira, tetapi Dedek tetap mau ambil. Dedek kan sudah ketemu Daddy setiap hari, bisa bobo sama Daddy setiap hari, masa pulpen dari Daddy diambil juga, aku ingin seperti Dedek Clara Mama, bisa sama Daddy setiap hari" ujar Dira dalam tangisannya, sontak ucapannya membuat hati Jemima luluh, badannya terasa lemas, rasa bersalah semakin menghampiri dirinya, Dira harus terlahir dari rahimnya dengan kondisi seperti ini, ternyata ia sangat merindukan sosok ayah dalam hidupnya yang selama ini Jemima belum bisa penuhi. Hati Darwin pun ikut terenyuh dan bersalah setelah mendengar ucapan dari Dira ia pun ikut memeluk Dira dan mengusap kepalanya.
"Maaf ya Dira, Daddy belum bisa sama kamu setiap hari" ternyata Dira menolak sentuhan Darwin.
"Mama , Dira mau pulang" ucap Dira lemah dengan mata sendunya dan Jemima mengangguk menyetujui ucapan Dira.
"Sebentar Mama pesan taxi online dulu" Jemima segera mengeluarkan ponselnya memesan taxi untuk mengantarkan mereka pulang.
"Naik taxi? Mobil kamu kemana?" tanya Darwin.
"Rusak, aku belum sempat ke bengkel"
"Pakai mobil aku dulu saja, nanti aku suruh supir urus mobil kamu" ucap Darwin
"Gak usah, kamu ambil saja kembali mobilnya" ucap Jemima kesal karna memang mobil yang diberikan kepada dirinya merupakan mobil bekas yang sering bermasalah sedari awal diterimanya.
"Ma Pa, aku pamit dulu taxinya sudah sampai" ucap Jemima memeluk kedua orang tua Darwin, dan pelukan hangat Magda kepada Jemima dengan sangat erat, kemudian memeluk Dira serta menatap Dira dengan rasa iba. Darwin mengantarkan mereka hingga sampai kedepan rumah, kembali Darwin mencoba memeluk Dira tetapi ditolak oleh anak itu. Jemima meninggalkan rumah itu dan berjanji akan menjadi wanita mandiri tanpa mengandalkan Darwin.
__ADS_1