
Setelah berpamitan dengan Harmoko dan teman-teman yang lain. Gerry menarik tangan Jemima membawanya masuk kedalam mobil. Jemima bingung dengan perlakuan Gerry yang tiba-tiba marah dengannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Gerry ke Jemima yang terdiam daritadi memikirkan tentang Abram. Meskipun Jemima tahu bahwa memiliki Abram tidak mungkin tetapi hatinya tidak bisa dikontrol untuk merasakan getaran-getaran yang muncul dari sosok Abram. Apalagi saat ini Abram tampak lebih tampan, lebih terlihat dewasa dan maskulin karna otot-otot yang membentuk ditubuhnya. Ya pasti karna sekarang ia memiliki uang untuk merawat dirinya sendiri, jika mereka berdua menikah kemungkinan Abram saat ini akan berperut buncit karna terlalu banyak makanan tidak bergizi, pikir Jemima dan ia tersenyum membayangkannya. Gerry memandang kesal Jemima, yang tadinya ia ingin mengajak Jemima keliling kota akhirnya dibawanya pulang.
"Pulang saja" ucapnya lagi dan Jemima hanya menurut kemauan bosnya itu tanpa banyak kata.
Gerry segera mengunci pintu rumah saat mereka sudah berada didalam.
"Bapak gak butuh apapun lagi kan? Saya tidur ya Pak" ucap Jemima kepada Gerry yang berdiri didepan kamarnya sendiri.
"Iya tidur, jangan ngelamunin yang lain" sindir Gerry dan menutup pintu kamarnya. Jemima pun segera masuk kedalam kamarnya dan memeriksa ponselnya. Ada pesan masuk dari Darwin mengirimkan gambar dirinya dan Dira sedang membaca buku. Hati Jemima tampak senang, sedikit perhatian dari Darwin untuk anak semata wayangnya saja membuat hatinya bahagia.
"Terimakasih banyak Daddy Dira 😊" balas pesannya ke Darwin dan dibalas "You're welcome"
__ADS_1
Kemudian Jemima berganti pakaian dengan piyama yang baru dibelinya tadi, 1 set piyama berbahan satin berwarna pink dengan tali spagethi dan celana pendek. Jemima ingin keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tetapi ia khawatir jika Gerry melihatnya mengenakan piyama sexy dengan potongan rendah dibagian dadanya, ditambah dengannya yang sudah tidak menggunakan b*a karena kebiasaannya jika tertidur akan melepas penopang buah dadanya. Rencana sebelumnya yang akan menginap dihotel ternyata batal, jika ia memakai piyama ini sendiri dikamarnya pasti tidak akan masalah, tapi saat ini mereka harus menginap hanya berdua dirumah Gerry karna tidak mendapatkan kamar hotel lagi.
"Mungkin pak Gerry sudah tidur" ucapnya meyakinkan diri sendiri. Pelan-pelan Jemima membuka pintu kamar, melongokkan kepalanya kearah kamar Gerry ketika dirasa aman ia segera berlari kekamar mandi. Setelah membersihkan mukanya dan menyikat gigi ia kembali lagi kekamar, rasa ngantuk sudah tidak tertahan lagi, tak butuh waktu lama Jemima terlelap dalam mimpi indahnya.
Baru beberapa jam tertidur Jemima merasa haus sekali, terakhir ia minum saat dicafe tadi. Karna haus yang amat terasa ia putuskan untuk turun meminum segelas air, Jemima cuek dengan tampilannya saat ini karna yakin Gerry sudah tertidur.
"Baru jam 1" dilihatnya jam di ponselnya. Ia membuka pintu pelan dan menuruni anak tangga perlahan menuju dapur. Dicarinya gelas di meja tetapi tidak ada, Jemima pelan-pelan membuka kabinet bawah, juga tidak ada, dan ia membuka kabinet diatas ternyata gelas ada diatas. Posisi kabinet yang tinggi membuatnya tidak mampu untuk mengambil gelas tersebut, ia pelan-pelan menarik kursi dan menaikinya. Mengambil salah satu gelas berbahan plastik dan hendak turun kembali.
"Maau ambil gelas Pak saya haus" ucap Jemima panik.
"Turunnya hati-hati" ucap Gerry memberikan tangannya untuk menjadi pegangan saat Jemima menuruni kursi. Jemima sadar pakaiannya saat ini sangat sexy, dan itu membuatnya merasa canggung, begitupun Gerry yang sedari tadi menelan ludahnya melihat kemolekan tubuh Jemima dengan pakaian tipis itu. Dadanya tampak menonjol seakan menantang Gerry untuk menyentuhnya, 2 bagian kecil tersebut dengan jelas terceplak di bajunya dan dengan cepat Jemima menutupinya dengan tangan.
"Saaya naik dulu Pak" ucap Jemima, tetapi saat baru melangkah tangannya ditahan oleh Gerry dan memaksanya untuk berdiri didepan Gerry. Gerry memepet Jemima hingga kedinding, menahan tubuh Jemima agar tidak kemana-mana. Jemima takut dan panik dengan apa yang akan terjadi. Sedang Gerry menatap Jemima dengan tatapan tegas seakan ingin melahap Jemima.
__ADS_1
"Bappaak mau apa, saya teriak nih" ancam Jemima ke Gerry sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan ,tatapan Gerry sungguh membuat Jemima ketakutan.
"Kamu pikir saya laki-laki macam apa hah!! berani-beraninya kamu pakai pakaian begini didepan saya" ucap Gerry dengan muka menantang, dan perlahan Gerry membuka kaos yang dipakainya. Sedetik Jemima terperangah dengan tubuh Gerry yang menampilkan otot-ototnya. Tapi akhirnya tersadar akan ancaman yang akan dia hadapi.
"Pakkk pak mau apa??? jangan macam-macam Pak" panik Jemima karna Gerry sudah tidak mengenakan kaosnya. Perlahan muka Gerry mendekati mukanya. "Badan kurus gini gak ada isinya, jangan lagi lihatin kesaya" kemudian Gerry memberikan kaosnya ke Jemima.
"Pakai nih" dan berlalu meninggalkan Jemima sendiri menyisakan ketakukan dan degupan jantung yang tidak kunjung berhenti. Setelah bisa menetralkan dirinya ia bergegas kembali kekamarnya, menutup dan memastikan pintu kamar terkunci.
"Apa tidak semenarik itukah aku dimata laki-laki" pikiran konyol Jemima tiba-tiba muncul, bukannya takut akan perlakuan Gerry tadi malah sifat insecurenya keluar. Setelah dikecewakan laki-laki sebelumnya Jemima semakin tidak percaya diri, bahkan Arka saja tidak tertarik dengan diriinya. Sambil memandang kaca yang terpasang dilemari ia memandangi tubuhnya saat ini. 'Apa aku kurus banget ya, sampai Pak Gerry saja tidak na*su melihat aku' kata Jemima dalam hatinya. 'Ya ampun gini amat sih, kapan ada laki-laki yang tertarik sama gue, mana gue dah punya anak lagi' Jemima duduk dipinggir kasur, mencoba berfikir lagi, bukannya ia ingin diperlakukan tidak-tidak oleh Gerry tetapi perkataan Gerry yang keluar dari mulutnya seakan menusuk dirinya. Ia juga ingin memiliki kekasih yang menerima dirinya apa adanya, ia juga ingin diperhatikan, dimanja.oleh laki-laki, terkadang ia merasa capai harus berperan menjadi seorang ayah dan ibu secara bersamaan, sudah lama tidak ada laki-laki yang memperhatikan dirinya hanya perhatian Abram yang benar-benar membekas dalam dirinya, tapi takdir berkata lain bahwa mereka tidak berjodoh.
Jemima tidak tahu bahwa laki-laki dikamar sebelah sedang merutuki dirinya. Ucapannya ke Jemima sangat ia sesali, bukannya memuji Jemima karna terlihat sexy, tetapi malah hinaan yang keluar dari mulutnya. Benar-benar apa yang dipikiran dan ucapan Gerry berbeda, ia ingin sekali mencium Jemima, meraba semua bagian tubuhnya yang tampak sexy,bahkan bagian kejantanannya dibawah sana sudah sigap berdiri, pikirannya berkecamuk apakah harus ia lampiaskan naksunya atau tidak, tetapi akal sehatnya mencoba meluruskan tindakannya ,ia tidak ingin kehilangan Jemima jika ternyata tindakan gegabahnya untuk menyalurkan na"sunya tidak ditanggapi Jemima. Sehingga untuk melawan itu malah ucapan hinaan yang keluar dari mulutnya.
"Semoga besok dia tidak marah" ucapnya lagi, Gerry akan mendekati Jemima dengan perlahan, jika terlalu gegabah ia khawatir Jemima akan meinggalkan dirinya.
__ADS_1