
Jemima dan Gerry hanya saling memandang, muka Gerry merah menahan amarah seakan ingin memakan orang, iya tepatnya ia ingin memakan Jemima karna tidak jujur akan statusnya. Rengekan Dira yang meminta untuk diajak ke Timezone menyadarkan Jemima dan segera mengalihkan pandangan dari Gerry.
"Mama ayook aku mau main balapan mobil" ucap Dira sambil menarik-narik tangan Jemima.
"Ii ya Nak sebentar" ucap Jemima akhirnya berani bersuara
"Ayo Ger, kita makan dulu lapar nih Mami, eh Magda kita pergi dulu ya, ini mumpung Gerry bisa nemenin biasanya susah sekali nemenin Maminya" ucap Sela berpamitan dengan Magda.
"Ternyata kamu kerja sama anaknya Sela ya, Mama gak tahu. Tahu gitu Mama jodohin sama dia saja. Eh Je Papa sudah ada rekomendasi pria yang cocok sama kamu. Nanti kamu coba kenalan dulu, Papa sudah kasih nomor kamu sama orangnya, ya kan Pak?" ucap Magda kepada suaminya.
"Iya Je, dia seumuran kamu, Papa sudah kenal orangnya koq. Papa lihat anaknya sopan klo sama Papa dan baik, semoga berjodoh sama kamu." ucap Bagus menjelaskan.
"Iya Pa" saat ini Jemima sudah tidak bisa berfikir apapun ia ingin sekali menjelaskan semuanya ke Gerry tetapi hal tersebut tidak mungkin. Ia berjalan dengan terpaksa menemani anaknya yang ingin bermain. Diisinya saldo dikartu yang dibawanya untuk permainan-permainan disana.
Mama dan Papa Darwin sudah pulang terlebih dahulu karna besok pagi-pagi sekali harus pergi ke suatu tempat. Dira berputar-putar mencoba semua permainan yang ada.
"Duh Dir, Mama capai banget kamu main sendiri ya" ucap Jemima duduk disalah satu bangku tersedia.
"Gak Mama temani aku main basket, Mama gitu saja capai" rengek Dira dan menarik-narik tangan Jemima.
"Main sama Om saja sini" ucap Gerry yang tiba-tiba datang.
"Ger" ujar Jemima memandang keatas, menatap wajah Gerry.
"Dira mau main apa? Mama kamu capai sama Om saja mau gak?" Gerry membukukkan badannya agar sejajar dengan Dira. Tetapi anak itu sedikit ragu dengan ajakan Gerry dan menatap Jemima meminta kepastian dan disambut dengan senyuman serta anggukan.
"Ayo Om Bos" ucap Dira dan menggandeng tangan Gerry mengajaknya ke bagian mesin permainan basket.
Jemima mengikuti mereka dibelakang, hatinya belum tenang karna belum menjelaskan semuanya ke Gerry.
"Mama kenapa diam saja? Kasih semangat Dira dong" ucap Dira dengan muka senangnya karna bisa bermain bakset.
__ADS_1
"Iya Dira, Dira hebat banget sih" ucap Jemima dengan senyum terpaksa. Setelah menghabiskan semua saldonya, akhirnya Dira berhenti bermain.
"Yah habis" katanya sedih.
"Mau main lagi, sini Om isikan" ucap Gerry dan hendak berjalan menuju kasir tetapi ditahan oleh Jemima.
"Jangan Ger, sudah cukup. Kami mau pulang dulu" ucap Jemima
"Dira pamit dulu sama Om, bilang apa sama Om nya"
"Makasih ya Om sudah temani Dira main, Dira pulang dulu Om Bos." Dira melambaikan tangannya kearah Gerry.
"Kami pulang duluan ya Ger, aku besok ketempat kamu untuk menjelaskan semuanya" ucap Jemima dengan suara lirih.
"Aku antar" ucap Gerry
"Gak perlu, aku bisa naik taxi" tolak Jemima.
"Sudah lah, ikutin apa kata aku, ini sudah malam" ucap Gerry sedikit kesal.
"Iya Om Boss" Gerry berjalan terlebih dahulu dan Jemima serta Dira berjalan di belakangnya.
Tidak ada satu kata pun terucap selama perjalanan pulang ke rumah Jemima, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Mobil Gerry sudah sampai di gang depan rumah Jemima dilihatnya Dira sudah tertidur.
"Makasih Ger sudah antarkan kami, aku gak tahu harus mulai dari mana. Besok aku ke apartemen kamu untuk jelasin semuanya" ucap Jemima memandang Gerry tetapi tak sedetik pun Gerry mau melihat Jemima, hatinya sakit karna merasa di bohongi.
Jemima keluar dari mobil Gerry dan membuka pintu sisi belakang disamping Dira.
"Dira bangun nak kita sudah sampai" ucapnya mencoba membangunkan Dira yang tertidur pulas.
__ADS_1
"Dira bangun yuk" ucapnya lagi tapi anak itu tidak bergeming. Jemima sudah siap-siap mengambil posisi untuk menggendong Dira.
"Aku saja yang bawa kerumah kamu" ucap Gerry dari belakang Jemima.
"Jangan Ger, berat" tolak Jemima.
"Sudah lah Je" ucap Gerry kesal dengan nada sedikit tinggi. Dengan mudahnya Gerry mengangkat Dira kedalam gendongannya.
Mereka berjalan bersama menuju rumah Jemima hingga sampai didepan pintu pagar Jemima.
"Sini aja Ger biar aku bawa kedalam" Jemima hendak memindahkan gendongan Dira ke dirinya.
"Tanggung sekalian aku taruh dikamar kamu saja" Gerry masuk kedalam rumah Jemima dan disambut oleh bude Wati.
"Wah Diranya dah bobo, capek ya Je" ucap Bude Wati yang sudah menunggu sedari tadi kepulangan Jemima dan Dira.
"Iya Bude, kecapekan, sebelah sini Ger" Jemima mengarahkan Gerry menuju kamarnya dan dengan perlahan Gerry meletakan Dira diatas tempat tidur. Kemudian Bude Wati dengan sigap melepas sepatu Dira dan mengganti baju Dira.
Gerry memandang isi kamar Jemima yang berisikan foto-fofo Jemima berdua dengan Dira kemudian ia berjalan ke ruang tamunya, terlihat banyak sekali mainan serta barang-barang Dira serta beberapa foto Dira dari bayi hingga dewasa.
Ia bergumam dalam hatinya, kenapa selama ini dia tidak pernah tahu akan hal ini, sebodoh itukah dirinya.
"Ger kamu mau minum?"
"Gak usah aku pulang saja, sudah malam gak enak bertamu malam-malam gini sama tetangga" Gerry sedikit menyindir Jemima.
Gerry memakai kembali sepatunya yang tadi dia lepas .
"Kamu masuk saja aku jalan sendiri ke mobil" ujar Gerry tanpa melihat ke Jemima.
"Gerr maafin aku" Jemima bersungguh-sungguh dengan ucapannya rasanya ia tidak ingin berpisah dengan Gerry, Jemima sangat mencintai Gerry dan semoga penjelasannya besok bisa diterima oleh Gerry.
__ADS_1
Tanpa mempedulikan ucapan Jemima, Gerry berjalan menuju mobilnya. Sesampainya dimobil ia tidak langsung pulang, ia mengambil rokok di dashboard mobilnya memantikkan api ke rokoknya dan menghisapnya, sambil menyandarkan dirinya kemobil ia berfikir langkah kedepan seperti apa yang harus dia ambil. Dalam hatinya ia merasa di bodohi dengan Jemima, tidak menyangka tolakan Jemima jika diajak berhubungan bukan karna dia gadis baik-baik yang menegakkan prinsip untuk berpacaran sehat tetapi karna ia sudah memiliki anak. Kata 'Anak' belum terbesit dalam pikirannya, ia memang ingin serius dengan Jemima tetapi bukan berarti ia ingin segera mempunyai anak, ia masih ingin bersenang-senang bersama Jemima. Belum lagi nanti tanggapan Mami Papinya tentang status Jemima yang single parent.
Dilain sisi didalam kamarnya yang kecil, Jemima hanya bisa terduduk lesu dilantainya. Memang ia sudah berencana untuk menjelaskan semuanya ke Gerry tapi tidak dengan cara seperti ini, ia ingin mengatakannya perlahan. Semoga saja besok Gerry mau menerima segala alasannya. Ia sungguh mencintai Gerry dan tidak ingin berpisah dengan Gerry.