
Memiliki anak merupakan salah satu cita-cita Jemima ketika nanti berumur 25 tahun, dan sekarang cita-citanya itu terpenuhi tapi sayang tanpa suami disisinya. Memandang wajah anaknya yang sangat menggemaskan, membuatnya menjadi sedih. Tiba-tiba ia teringat akan Abram, sosok lelaki yang tadinya ia kenal hanya sebatas nama di kantor. Jangankan untuk berpergian bersama, berbicara bedua saja tidak pernah. Yang Jemima tahu Abram laki-laki pendiam tidak banyak bicara dan tingkah. Ia selalu berada disamping Darwin dan akan mengeluarkan suaranya saat dibutuhkan. Pertemuan beberapa kali sejak di Bali waktu itu dan dirumah sakit membuatnya merubah cara pandanganya ke Abram,ternyata Abram sosok laki-laki yang baik dan perhatian juga pikirnya.
Pagi ini dia sudah bersiap untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit serta akan memberikan vaksin ke anaknya. Hingga suara bel berbunyi dan ia melongok dari jendela, ada Abram dibawah. Ia berfikir sedang apa Abram kembali ke sini.
"Ibu ada Mas Abram dibawah tolong bukakan pintu" pintanya pada Ibunya, ia belum berani terlalu sering turun tangga karna jahitannya yang masih terasany nyeri.
"Iya sebentar Ibu bukakan" Ibu bergegas turun dan membuka pintu besi itu.
"Pagi Bu, sudah siap ke rumah sakit?" sapa Abram dan mencium punggung tangannya.
"Oh iya sudah Nak, ayo naik dulu" ajak Ibu membukakan pintu lebar-lebar agar Abram masuk.
"Loh Mas kirain udah kembali ke Jakarta" ucap Jemima sambil menimang-nimang anaknya yang tidak tidur. Ia saat ini sedang memakan Dress khusus Ibu menyusui berwarna biru muda, tampak bagus saat ia pakai.
"Belum, nanti malam aku kembali ke Jakarta, pagi ini aku antar kalian ke rumah sakit ya kan mau kontrol" ucapnya sambil mendekat ke Jemima dan memandang wajah Dira.
"Mana tas nya aku bawakan, Ibu dirumah saja gak apa-apa, nanti aku temani Jemima dan Dira" ucap Abram lagi sambil menggendong tas berisikan peralatan bayi itu.
"Jangan Nak nanti ngerepotin Nak Abram" Ibu merasa tidak enak dengan ucapan Abram.
"Gak apa-apa koq Bu, jangan khawatir" ucap Abram
"Ehmm beneran Mas, nanti kamu kerepotan lagi" Jemima juga masih sungkan akan bantuan Abram
"Tenang aja, yuk sekarang nanti keburu penuh dokternya" kemudian Jemima, Abram dan bayi Dira turun menuju mobil yang dibawa oleh Abram.
"Duduk belakang aja Je, kasian Dira nanti kena AC kalau didepan" Abram membukakan pintu belakang dan Jemima menurutinya. Selama perjalanan menuju rumah sakit tidak banyak pembicaraan, Jemima menjadi salah tingkah dengan perhatian Abram.
__ADS_1
Selama dirumah sakit Abram juga seperti seorang ayah dan suami yang siaga, selalu menolongnya.
"Mas udah nikah ya?" tanya Jemima penasaran saat mereka berdua duduk berdampingan di ruang tunggu poli anak.
"Hah?? Muka saya sudah sperti bapak-bapak banget apa?" Abram memandangnya dengan muka bingung.
"Masih single saya Je" ucapnya lagi.
"Ohh abis Mas kelihatan paham banget urusan kya gini" ucap Jemima, ada perasaan lega akan jawaban Abram.
"Iya karna saya sering temani Ibu saya kerumah sakit jadi sudah paham urusan administrasi dan alur kalau lagi berobat" jelasnya, Jemima hanya menggagukkan kepalanya.
"Maaf Mas aku mau kekamar mandi dulu titip Dira ya" Jemima kemudian memindahkan bayi yang baru berumumur beberapa hari itu ke gendongan Abram.
"Kamu bisa kan gendong Dira?" tanya Jemima ragu.
Abram terkejut dengan kedatangan jemima yang berdiri disampingnya dengan air mata yang tertahan di matanya.
"Loh Je kenapa? Jahitan kamu sakit?" tanya Abram khawatir. Kemudian Jemima mengambil Dira dari gendongan Abram.
"Maaf aku pikir kamu bawa Dira pergi dari aku" air matanya tidak tertahan dan akhirnya tumpah juga.
"Ya ampun Je aku tidak sekejam itu, aku pindah kesini karna tadi ada anak yang batuk-batuk dekat Dira takut nanti ketularan, maaf ya buat kamu khawatir" Abram mengusap kepala Jemima dan itu membuat Jemima terbawa perasaan dan membuat jantungnya berdetak kencang.
"Kamu kaya Adik ku aja. Sering nangis kalau di godain" Abram kemudian tertawa menggoda Jemima. Jemima mulai membatasi perasaannya bahwa Abram hanya menganggap dia sebagai adiknya, ada sedikit rasa kecewa akan perhatian Abram yang ternyata disamakan dengan adiknya.
"Nama kamu dipanggil tuh, aku tunggu sini saja ya sama Dira" ucap Abram membantu Jemima berdiri.
__ADS_1
"Iya Mas, jangan kemana-mana ya, tunggu aku disini" kemudian Jemima memberikan Dira ke dalam tangan Abram kembali dan masuk kedalam ruangan dokter kandungan untuk memeriksa jahitannya.
"Siang Bu, loh sendiri? Tidak ditemani ? " tanya dokter kandungan yang waktu itu menolongnya melahirkan.
"Ada kakak laki-laki saya diluar Dok"
"Oh baik kita periksa ya, jahitannya bagus luka sudah mula mengering. Bisa kontrol lagi 2 minggu atau 1 bulan kalau tidak ada masalah" tidak lama setelah mendengar penjelasan dokter kemudian Jemima keluar dari ruang pemeriksaan.
"Gimana bagus jahitannya?" tanya Abram ke Jemima.
"Bagus Mas bulan depan kesini lagi, kita ke dokter anak sekarang" ucap Jemima dan mengambil Dira dari Abram. Baru ditinggal sebentar saja dia sudah merasa rindu dengan anaknya itu.
" Ayok" mereka berjalan beriringan seperti keluarga kecil bahagia.
"Dira pinter banget Je, nangis sebentar aja saat disuntik setelah itu diem lagi" ucap Abram saat mereka sedang berads didalam mobil menuju rumah.
"Iya Mas, semoga nanti malam badannya gak panas " Jemima memandang anak semata wayangnya yang saat ini tertidur pulas.
Setelah mengantarkan Jemima ketempat tinggalnya Abram berpamitan pulang untuk kembali ke Jakarta.
"Je, aku sekalian pamit ke Jakarta, kalau ada yang bisa ku bantu infokan ke aku ya" ucap Abram
"Pamit ya Bu" kemudian Abram mencium tangan Ibu.
"Hati-hati dijalan ya Nak Abram terimaksih sudah menolong kami" ucap Ibu Jemima
"Terimakasih ya Mas. Hati-hati" kemudian Abram pergi meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
Pertemuan yang tidak terduga dan hanya sebentar membuat perasaan Jemima campur aduk, antara takut dan senang. Takut suatu saat Abram akan membocorkannya ke Darwin dan senang karna perhatian sebentar yang diberikan oleh Abram disaat ia butuhkan.