
"Ma yekk" ucap Dira didepan muka Mamanya yang sedang menangis.
"Mama jelek ya lagi nangis" ucap Jemima sambil menghapus air matanya yang turun setelah kepergian Abram. Jemima harus kuat didepan anaknya tetapi ternyata ia tidak bisa menahan diri melampiaskan kekecewaan ke Abram.
Beberapa kali Abram masih menghubunginya sekedar menanyakan kabar Dira. Tetapi Jemima hanya menanggapi sekenanya saja. Ia ingin memulai hidup baru lagi bersama anaknya itu tanpa Abram lagi disisinya. Ia kembali akan kegiatan nya seperti dulu masih dibantu oleh Bude Wati.
"Je itu ada Daddynya Dira datang" ucap Bude Wati yang saat ini sedang duduk mengistirahtakan kakinya. Jemima menengok kepintu masuk. Sosok laki-laki tampan itu datang lagi setelah beberapa bulan menghilang.
"Siang Je " sapanya ke Jemima.
"Untuk Dira. Dimana my boy" Darwin menyerahkan 1 kantung plastik besar dari salah satu toko mainan terkenal.
"Sedang tidur Pak diatas"
"Saya mau lihat boleh?"
"Boleh Pak dia juga sudah tidur cukup lama" kemudian Darwin dan Jemima menuju bersama kelantai atas.
"Maaf saya baru sempat kesini lagi, saya sedang ada masalah di Jakarta" terang Darwin sambil memandang anaknya yang dia rasa sudah semakin besar.
"Tidak apa-apa Pak" Jemima berusaha tersenyum.
"Kamu sudah tahu mengenai Abram?" dijawab Jemima dengan anggukan.
"Sorry saya janji sama dia untuk tidak men ceritakan ke kamu" Darwin merasa tidak enak kepada Jemima.
"Iya Pak tidak masalah" kembali Jemima tersenyum mencoba kuat di depan Darwin.
"Mbak Je ini ada surat dari kecamatan" Bude menyerahkan selembar surat resmi, Jemima membaca surat tersebut dijelaskan bahwa daerahnya akan digusur untuk perluasan jalan tol.
"Aku harus kabari Bu Retno masalah ini" muka Jemima terlihat panik kedua alisnya mengkerut.
"Kenapa Je?" tanya Darwin penasaran
"Daerah sini mau digusur Pak karna mau dijadikan perluasan jalan tol" Jemima cemas itu berarti dia harus pergi dari sini dan dia harus kemana, apakah ia kemabli kerumah lamanya saja di Bogor yang sampai saat ini belum laku terjual.
"Ohh ya? Ckk"
__ADS_1
"Ma ma ma" suara Dira yang memanggil Mamanya melupakan sejenak masalah barusan.
"Hei my Boy sudah bangun" Darwin langsung menghampiri Dira yang masih tampak malas beranjak dari kasurnya.
"Dira itu Daddy datang" ucap Jemima, Dira mulai malu-malu kembali karna sudah lama tidak bertemu Darwin.
"Dira Daddy mau jemput kamu, ikut ya ke Jakarta" Jemima terkejut dengan ucapan Darwin barusan, ia mematap Darwin dengan alis berkerut meminta penjelasan.
"Je kalian kembali saja ke Jakarta aku akan merawat kalian berdua sekarang. Apalagi tempat ini akan digusur kamu butuh tempat tinggal baru bukan. Aku ada apartemen kosong yang bisa kalian berdua tempati"
"Saya juga akan kenalkan kalian ke keluarga besar saya, saya yakin Papa dan Mama saya akan senang bertemu dengan cucunya"
"Lalu bagimana dengan istri Bapak?" tanya Jemima takut.
"Kamu jangan pikirkan itu saya yang akan jelaskan" kemudian Darwin menggendong Dira dan syukurlah anak itu mau.
"Ii ya Pak nanti coba saya pikirkan kembali"
Darwin berada dirumahnya seharian menghabiskan waktu bersama anak laki-lakinya.
Dira sudah terlihat akrab dengan Darwin , tetapi Darwin selalu sibuk dengan ponselnya dan sering kali menerima panggilan, mungkin sibuk dengan pekerjaannya. Jemima memperhatikan jika sosok Abram lebih kebapakan jika dibanding Darwin dan Abram lebih bisa mengurus anak kecil serta lebih mudah mendekati anaknya. Ahhh kenapa mikirin Mas Abram terus dia kan sudah sudah jadi suami orang keluh Jemima dalam hati dan memukul kepalanya.
"Hah. Enggak koq cuma mikirin aja kasihan Bu Retno tempat ini digusur" Jemima tidak menyangka ternyata Darwin memperhatikan dirinya dari tadi.
"Jaman sekarang tidak ada yang namanya ganti rugi yang ada ganti untung pasti Bu Retno dapat kompensasi yang lebih besar dibanding dia beli dulu, jadi jangan khawatir" jelas Darwin
"Oh iya? Wah syukurlah kalau begitu" muka Jemima sedikit lega
Kunjungan singkat Darwin kerumahnya diakhiri pada malam hari. Ia bilang akan mengurus segala perpindahan dirinya Dan Dira.
"Je sorry bukan saya mau atur hidup kamu, tapi saya harap kamu di Jakarta biar saya bisa dekat dengan Dira juga. Saya tidak akan mencampuri kehidupan pribadi kamu. Kalau kamu mau bekerja, kamu bisa kembali ke kantor saya dan pasti akan terima kamu." ucap Darwin sesaat sebelum memasuki taxi yang akan mengantarnya ke Bandara.
Jemima berfikir atas ajakan Darwin, apakah harus ia ikut dengan Darwin. Sebenarnya ia takut akan respon dari istri dan keluarga Darwin. Ia tidak ingin anaknya dihina kembali. Tetapi jika dipikir lagi ia akan pergi kemana hidup nya saat ini hanya berdua.
Beberapa hari kemudian Jemima sudah mengambil keputusaan atas pergumulan yang di hadapi nya dan menelepon Darwin.
"Siang Pak maaf mau ganggu apa bapak sibuk?"
__ADS_1
"Engga Je kenapa? Ada masalah dengan Dira?"
"Tidak Pak saya cuma mau membahas masalah pindah rumah, tapi kalau bapak sibuk tidak apa-apa nanti saja"
"Wait Je" dari seberang sana ia bisa mendengar suara Abram yang ternyata ada didekat Darwin. Samar terdengar suara usiran Darwin ke Abram " Bram sana gue ada urusan penting soal anak gue" yang diusir tetap tidak mau pergi " Urusan apa Bos siapa tahu saya bisa bantu"
"Gak ada udah sana keluar dulu nanti gue panggil"
"Iya iya" akhirnya Abram keluar dari ruang itu.
"Sorry Je kita lanjut lagi, mantan kamu itu masih sok perhatian dan mau tahu urusan kamu aja.. ckk"
"Ehm iya Pak jadi setelah saya pikirkan kembali mengenai ucapan Bapak sewaktu kesini saya sudah putuskan untuk memilih ikut Bapak untuk pindah ke Jakarta."
"Great... Saya senang dengan keputusan kamu jika kamu siap saya akan jemput kamu dan Dira secepatnya" Darwin tampak senang terdengar dari suaranya.
"Baik Pak saya akan siap kan barang-barang saya untuk dibawa ke Jakarta"
"Okey. Sorry saya ada meeting nanti dibahas lagi ya" Abram muncul dari balik pintu dan mengingatkan Darwin untuk pertemuan selanjutnya.
Abram terihat ingin mengetahui pembicaraan antara Darwin dan Jemima.
"Kenapa lu pengen tahu? Masih cinta?" ledek Darwin
"Hemmm" hanya itu ucapnya karna dia malas menanggapi ledekan Darwin.
"Haha lucu juga lu ya, kalau masih cinta cerain lah Manda lagi mau saja lu terima tawaran Pak Atma, tersiksa sendiri kan"
"Tau lah Bos. Gue nitip mereka berdua ke lu" Abram tampak lesu pikirannya tidak henti memikirkan Jemima dan Dira.
" Jangan khawatir soal itu, bagaimanapun Dira anak gue pasti akan gue urusin. Kalau soal Jemima pribadi, gue gak berhak campurin urusannya. Terserah lah dia mau nikah sama siapa asal anak gue terurus dengan baik." ucap Darwin dan Abram hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Gimana hubungan lu dengan Manda"
"Masih seperti dulu, gue belum bisa anggap dia istri. Selama ini gue anggap dia sebagai adik saja dan sekarang harus nikah sama dia itu hal aneh buat gue."
"Jangan egois Bro, kasihan itu Manda kan dia cinta banget sama lu"
__ADS_1
"Iya gue tahu, mungkin bulan depan gue akan pindah ke perusahaan Pak Atma. Nanti gue cari pengganti yang kompeten buat lu Bos sebelum gue pergi" Abram berfikir siapa kira-kira yang cocok untuk menjadi asisten pribadi Darwin
"Gak perlu gue sudah ada kandidat. Enjoy your new position Bos" Darwin menepuk bahu Abram.