
Sejenak Jemima ikut menikmati pelukan Abram hingga akhirnya ia tersadar bahwa hal itu salah.
"Ih Mas, sana pergi." Jemima kesal dan mendorong Abram ke pojok lift dan yang didorong malah tertawa merasa tidak bersalah.
"Streeess" ucap Jemima sebal. Dalam hati Abram sebenarnya ia menangis, pilihan yang dia ambil memang harus ada yang menjadi korban antara Ibunya atau Jemima. Ia tidak bisa menyakiti hati Ibunya yang telah banyak berkorban untuk dirinya tapi di lain sisi ada cinta yang harus ia relakan.
"Aku gak mau bertemu Mas lagi, kalau mas perlakukan aku seperti itu. Coba dilihat istri Mas aku pasti dianggap pelakor, dengan masa lalu ku yang Mas sudah tahu orang-orang pasti akan menghina aku lagi dan ujung-ujungnya Dira juga akan ikut dihina" Jemima menunduk memandang kedua kakinya, tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi, apa yang barus dilakukannya.
"Maaf... " ucap Abram pelan dengan rasa penyesalan. Saat pintu lift terbuka Jemima segera keluar dan disusul Abram.
"Aku tidak tahu supermarketnya dimana?" ucap Jemima bingung.
"Ada di gedung sebelah kita naik mobil saja" saat ini Abram berjalan didepan dan Jemima mengekorinya. Sesampai dimobil Abram hanya diam tidak segera menyalakan mesin mobilnya dan membuat Jemima bingung.
"Mas ... jadi gak kalau enggak aku turun lagi nih" ancam Jemima sambil memandang Abram yang hanya diam saja.
"Je tolong jangan tolak aku, baru kali ini aku merasakan cinta keseorang wanita. Aku menyesal akan keputusan yang telah aku ambil, tunggu aku ya Je. Sampai saat ini aku tidak pernah menyentuh istri ku, aku selalu kepikiran kamu dan Dira" Abram menatap Jemima dengan lekat.
"Aku tidak mau menunggu hal yang tidak pasti Mas. Aku akan menjalani hidupku seperti biasa. Yang terluka bukan hanya Mas tapi aku Mas dan Dira, kami sudah berharap akan kehadiran Mas tetapi mas sendiri yang hancurkan. Sudah aku kembali lagi saja ke atas kalau tidak jadi berbelanja. " Jemima membuka pimtu tetapi ditahan Abram.
"Maaf. Ayo kita pergi" kemudian Abram menajalankan mobilnya dan menuju ke gedung sebelah.
Tidak ada yang bicara selama perjalanan dan selama di supermarket ,Jemima berjalan didepan Abram dan Abram dibelakangnya mendorong troli tersebut. Jemima memilih barang-barang dan makanan yang diperlukan, ia harus berhemat akan segala pengeluarannya karna belum mendapat pekerjaan. Ia tidak mau semua bergantung pada Darwin, cukup dia membiayai kebutuhan anaknya saja tetapi tidak semuanya. Saat dikasir Jemima dan Abram meletakkan semua barang dimeja kasir.
"Koq banyak banget belanjaan aku, tadi aku kan tidak ambil snack sebanyak ini" Jemima menggerutu dengan suara kecil.
"Aku yang bayar Je, anggap saja aku traktir"
"Gak Mas aku bayar sendiri" Jemima menolak.
"Kalau gak mau aku cium disini nih" ancam Abram dan Jemima segera menjauh dari Abram.
Selesai semua urusan mereka kembali ke Apartemen. Dira belum terbangun dan hanya ada Bude Wati.
"Daddy nya Dira sudah pulang Je, katanya besok pagi kesini lagi" ucap Bude yang sedang duduk menonton sinetron.
__ADS_1
"Iya Bude" mencuci tangannya dan segera merapikan barang-barang yang masih ada dikantung belanja.
"Aku pulang Je, kalau ada perlu apapun hubungi aku ya" ucap Abram dan mengusap kepala Jemima. Jemima hanya mengangguk.
"Bude pamit dulu"
"Iya Mas Abram hati-hati" ucap Bude dan ikut bergabung dengan Jemima.
"Mas Abram baik ya Je. Sayang dia harus nikah sama orang lain, yang sabar nanti dapat suami yang lebih baik lagi dari dia"
"Iya Bude semoga, yang penting sayang sama Dira.". Sakit sekali jika mengingat bagaimana harapan didepan mata hancur begitu saja.
Hampir satu bulan sudah Jemima menempati apartemen itu dan hampir tiap hari Abram datang berkunjung.
"Mas kamu kesini terus, gak dicari istrimu apa?" saat ini mereka sedang makan malam bersama, Abram membawakan sate ayam kesukaannya untuk dimakan bersama dengan Jemima.
"Gak kan aku bilang kerja" Jemima mengerutkan alisnya dan membuang nafas kesal.
"Akhir minggu nanti Darwin mau ajak lihat rumah, ikut ya" ucap Abram
"Dia lagi sibuk"
"Koq kamu enggak" tanya Jemima
"Aku kan sudah mau resign Je" saat ini mereka sedang duduk bersebelahan sambil menonton tv.
"Ooh .. Kerja yang bener, buat Bunda sama mertua kamu bangga" Jemima tersenyum miris, rasanya sakit mengucapkan itu. Jika tiap hari Abram kesini bagaimana ia bisa move on akan hati nya yang masih tersangkut nama Abram.
"Kalau kamu bingung soal kerjaan Darwin feel free tanya aku" Abram terkejut ketika Darwin mengatakan pengganti dirinya ada Jemima. Ia meras sedih karna ketika dia memutuskan untuk pergi dari perusahaan Darwin justru Jemima kembali bekerja disana.
"Iya Mas, tapi aku usahakan tidak. Kamu pasti sibukkan dengan pekerjaan baru kamu"
"Kalau buat kamu aku sempatkan Je" Abram memainkan kedua alisnya dan Jemima mendengus kesal.
.....
__ADS_1
Kehadiran Jemima kembali dikantornya membuat kehebohan diantara para karyawan. Ada yang senang dan tentu saja ada yang cemburu. Karna posisi Jemima yang tiba-tiba berubah dari staf Purchasing menjadi Asisten Pribadi Darwin.
"Je senang banget gue lu balik lagi kesini" ucap Alya didepan meja Jemima.
"Iya Al gue juga seneng. Eh Al jangan bilang apapun tentang Dira ya" Jemima merahasiakan mengenai anak dan hubungannya dengan Darwin. Ia tidak ingin dihina oleh para karyawan lain.
"Pasti Je, terus hubungan sama Pak Abram gimana? Kesel gue denger nya, brengsek juga dia cuma PHPin lu doang" Alya memukul meja Jemima karna kesal atas perilaku Abram ke Jemima.
"Udah gak ada hubungan apa-apa lah Al dia kan udah suami orang. Ya gue jalanin aja hidup gue sekarang berdua Dira." Jemima berusaha tersenyum diantara ucapannya.
"Sabar ya Je, pasti ada laki-laki yang baik buat lu dan anak lu" Alya mengusap bahu Jemima.
"Eh udah sana kerja nanti Big Bos datang" Jemima melirik jam ditangannya sebentar lagi pasti Darwin akan datang dia merasa tidak enak jika terlihat sedang bergosip bersama Alya di meja kerjanya. Ia tidak ingin memanfaatkan statusnya sebagai Ibu dari anak Darwin untuk bekerja tidak profesional.
Menjadi asisten Darwin ternyata cukup sulit ia beberapa kali melakukan kesalahan dan Darwin tampak marah dengan dirinya seperti saat ini karna salah mengatur schedule nya.
"Saya udah bilang Je kalau besok saya akan ke Jepang. Saya harus ketemu sama Mr Kei. Saya sudah atur pertemuan malam besok dengan dia,saya gak suka rubah-rubah jadwal gini. Ckk coba kamu cari gimana saya dapat tiket besok pagi. Ya sudah sana keluar dari ruangan saya." Darwin melambaikan tangannya agar Jemima keluar dari ruangannya, Darwin tampak kesal karna Jemima lupa membeli tiket ke Jepang untuk Darwin.
Aduhh gimana ini semua tiket sudah habis gumam Jemima dalam kepanikannya. Ia lupa memesan tiket karna kemarin Dira sakit saat Darwin memintanya memesan tiket sehingga pikirannya bercabang dan tidak fokus.
"Mas maaf boleh minta tolong" dengan sangat terpaksa Jemima menelepon Abram untuk meminta pertolongan.
"Kenapa Je? Kamu gak apa-apa?" Ucap Abram
"Aku lupa pesan tiket pak Darwin ke Jepang dia ada janji malam besok dengan Mr Kei. Aku dapat tiket pesawat untuk penerbangan besok sore. Bagaimana ya Mas, aku bingung" suara Jemima tampak panik
"Kamu gak usah khawatir nanti saya bantu hubungi Mr Kei untuk reschedule jadwal, jangan panik. Darwin emang seperti itu"
Brakkkk sebuah tas tangan melayang kek kepala Jemima membuat ponsel yang sedang ia tempelkan ditelinganya terjatuh.
"Jadi gara-gara cewek murahan kaya gini, Darwin ceraiin gue.." teriak Cindy didepan muka Jemima yang sedang menahan pusing akibat hempasan tas dikepalanya.
__
Jangan lupa like dan komen. 😁
__ADS_1