
Disore hari akhirnya kehebohan akibat kedatangan Alya dan Bu Retno berakhir karna mereka kembali ke Jakarta, barulah Abram bernafas lega. Ia sungguh canggung dengan kedatangan mereka. Abram bukan sosok laki-laki yang suka menebar pesona kesembarang wanita, ia lebih pemalu jika dibandingkan dengan Darwin.
"Memang Alya seramai itu ya kalau bicara?" ucap Abram saat dia dan Jemima sedang duduk berdua diruang tamu Jemima yang kecil.
"Iya Mas anaknya ramai kalau gak ada dia sepi" ucap Jemima mengingat-ingat masa saat mereka sedang bekerja bersama.
"Jangan didengerin ucapan Alya yang tadi ya, suka ngaco anak itu kalau ngomong" Abram mengangguk, dalam dirinya juga ia bingung akan perasaannya ke Jemima, ia harus memastikan kembali.
"Mas menginap dimana?" tanya Jemima
"Didekat sini, besok aku antar untuk imunisasi jam berapa?" salah satu alasan Abram datang ke rumahnya yaitu untuk menemaninya kedokter. Modus nya benar-benar butuh perjuangan.
"Pagi saja Mas biar kamu gak telat pesawatnya untuk kembali ke Jakarta"
"Okey, kamu mau jalan-jalan keluar cari keperluan untuk Dira " ucap Abram
"Ehm aku perlu mencari popok bayi untuk Dira Mas, mungkin di swalayan dekat sini" ucap Jemima sedikit ragu.
"Okey kita berangkat sekarang ?"
"Iya mas aku siap-siap dulu dan titipkan Dira sebentar ke Ibu" kemudian Jemima masuk kedalam kamarnya dan berganti pakaian. Ia membuka lemari bajunya dan tidak ada pakaian yang cukup karna selama hamil berat badannya naik hingga 15 kg dan masih ada sisa 5kg yang belum hilang. Ia menghela nafas "Pakai baju apa ya, masa Daster terus" ia mengeluh dan tanpa sadar ia ingin tampil lebih cantik didepan Abram. Setelah 20 menit ia keluar dari kamarnya hanya mengenakan Dress pendek warna pink dan tidak menemukan Abram disana, mungkin dia sudah turun ke bawah pikirnya.
Jemima menuruni tangga sambil menggendong Dira. "Ibu aku titip Dira sebentar ya, aku pergi sebentar sama mas Abram beli keperluan Dira, susu nya nanti pakai yang ada dikulkas terus dihangati sebentar saja" pesan Jemima ke Ibunya yang sedang menemani Bude Wati berjualan.
"Iya Je hati-hati ya" ucap Ibu sambil menyiumi cucu nya yang semakin menggemaskan.
Jemima mencari sosok Abram tetapi tidak ada hanya sebuah mobil Innova yang sedang menyala terparkir didepan rumahnya, kemudian jendela di kursi penumpang terbuka. Ada Abram disisi pengemudi yang sedang menerima telpon dan menyuruh Jemima masuk kedalam.
Dalam hatinya Jemima berfikir kapan Abram membawa mobil bukankah dia naik pesawat ke sini. Kemudian Jemima masuk kedalam mobil dan duduk disamping Abram.
__ADS_1
"Iyaaa Bos, udah lu ngapain keq jangan gangguin gue terus lah, gue juga butuh privasi. Ajak lah istri lu pergi, honeymoon lagi atau gimana. Udah gue mau nyetir nih bye" Abram menutup teleponnya, tanpa perlu dijelaskan Jemima tahu bahwa itu Darwin yang menghubunginya dan ia tidak mau tahu.
"Koq tiba-tiba kamu bawa mobil Mas?" tanya Jemima
"Tadi dari penyewaan mobil antar kesini" ucap Abram mulai menjalankan mobilnya.
"Ya ampun Mas jangan memberatkan diri sendiri hanya untuk kami" Jemima memandang Abram dengan rasa bersalah.
"Gak lah emang maunya aku koq biar bisa antar kalian ke dokter" Abram membalasnya dengan senyuman, tiba-tiba tangan Abram ingin mengusap pipi Jemima dan ia lansung tersadar kemudian menghentikan tangannya yang sedikit lagi berada di pipi wanita 1 anak itu, dan mengalihkan tangannya dengan berpura-pura membersihkan bangku Jemima
"Ada kotoran ,cckk gak bagus nih mobil kotor banget aku harus complain besok" Abram kemudian mengusap-usap lehernya karna kebodohan dirinya sedangkan Jemima hanya tertegun dengan sikap Abram.
"Ehehmm, Mas kita ke swalayan yang dekat jalan situ aja" Jemima mencoba mengalihkan kekikukan yang terjadi barusan.
"Okey siap" Abram dengan tenang melajukan mobilnya lagi.
Sampailah mereka di Swalayan terkenal yang berlogo biru. Jemima dan Abram berjalan bersama menuju gedung swalayan, Abram dengan sigap mengambil troli dan berjalan di belakang Jemima mengikuti kemanapun wanita ini berjalan tanpa banyak bicara.
"Mas mas" Jemima melambai-laimbakan tangannya didepan muka Abram yang sedari tadi hanya diam memandang wajahnya.
"Ehh iya Je" muka Abram memerah karna malu ketahuan sedang memandanginya
"Kamu ngantuk ya, aku gak lama koq sebentar lagi selesai kamu bisa istirahat" ucap Jemima karna merasa tidak enak mengganggu waktu libur Abram.
"Gak koq, aku cuma kepikiran sesuatu aja" bela Abram
"Mau belanja apa lagi aku temani sampai malam juga boleh" Abram berpura-pura mengambil popok bayi agar muka merahnya tidak terlalu terlihat Jemima. Sudah usia hampir 30 tahun tapi berhadapan dengan wanita ia masih saja tidak percaya diri, sering kali Darwin mengejeknya karna selalu gagal jika mendekati wanita. "Muka ganteng doang, tapi ketemu cewe lemes" ledek Darwin setiap ia gagal berhadapan dengab wanita.
Jemima tertawa mendengar ucapan Abram " Gak sampai malam juga mas, nanti Dira cari Mama nya"
__ADS_1
"Oh iya lupa ada jagoan kecil tunggu Mama dirumah " Abram ikut tertawa.
"Kenapa cuma ambil sedikit popoknya" ucap Abram melihat bungkusan popok sekali pakai yang hanya 2 bungkus.
"Iya mas segini dulu cukup"
"Sekalian banyak belinya biar kamu gak repot bolak-balik kesini, mumpung ada aku, aku mungkin datang lagi bulan depan" ucap Abram
"Gak Mas segini dulu" Jemima menolak ucapan Abram karna menurut perhitungannya budget bulan ini tidak akan cukup untuk membeli banyak popok.
"Takut gak muat sayang jika tidak terpakai" dalih Jemima.
"Memang Mas mau kesini lagi bulan depan" tanya Jemima dalam hatinya ia senang jika laki-laki ini mau datang menemuinya.
"Ehm ya kalau kamu bolehin aku kesini lagi"
"Boleh koq mas, asal gak ngerepotin kamu dan gak ganggu istirahat kamu" Jemima menunduk mengalihkan mukanya yang bersemi karna malu dan berjalan cepat didepan Abram.
"Jangan dipikirin soal itu" Abram menyusul Jemima.
Acara belanja yang tadinya hanya sebentar menghabiskan waktu hingga 2 jam, Jemima mulai panik takut anaknya akan menangis dan menyusahkan Ibunya.
"Pulang yuk Mas" ucap Jemima dengan muka khawatir.
"Iya sebentar ya kamu tunggu sini dlu" Abram kemudian kembali masuk ke dalam swalayan itu. Jemima dengan khawatir menunggu Abram yang tidak muncul-muncul dan akhirnya hatinya lega karna melihat kedatangan laki-laki itu dengan bungkusan plastik di tangan nya .
"Mas beli apa, koq tadi gak sekalian" ucap Jemima yang berjalan disamping Abram menuju mobil sambil mendorong troli berisi belanjaan Jemima. Dengan sigap Abram memasukkan semua belanjaan tersebut ke dalam mobil.
"Beli susu sama vitamin buat kamu" ucap Abram
__ADS_1
"Koq buat aku" tanya Jemima bingung.
"Iya susu untuk Ibu menyusui biar Asi kamu makin banyak dan Dira bisa cepat tumbuh besar" tanpa sadar Abram menunjuk pydr Jemima dan menatapnya tajam saat mengatakannya, hal itu membuat Jemima melongo. Abram tersadar dan merutuki kebodohannya lagi.