Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Seribu Maaf


__ADS_3

Dua kakak beradik yang terpisahkan oleh jarak menangis didepan gundukan tanah yang masih basah. Mereka berdua saling menguatkan. Atas permintaan Ibunya jika suatu saat meninggal agar dimakamkan dalam satu liang dengan suaminya di kampung halaman mereka didaerah Klaten. Dalam perjalanan kembali ke tempat tinggal Jemima mereka hanya diam. Jemima terkhusus sangat kehilangan Ibunya, selama ini ia merasa sangat merepotkan Ibunya dan belum pernah membahagiakannya. Kakaknya mencoba menguatkan adiknya yang selalu terdiam dan melamun.


"Je makan dulu, itu Dira gak kamu suapin" ucap Julia. Larut dalam kesedihannya sampai ia lupa untuk mengurusi anak laki-lakinya yang terlihat asik main dengan sepupunya Lyodra. Menghapus air mata dipipinya, Jemima mengambil makanan instan untuk Dira, ia belum sanggup untuk memasakkan makanan bergizi untuk Dira. Syukurlah anaknya itu tidak merepotkan selama proses pemakaman Ibunya.


"Abram mana Je? Koq dia gak ada dari kemarin?" tanya Julia karna tidak melihat sosok Abram yang dia ketahui sangat dekat dengan Adik dan keponakannya.


"Aku belum mengabari dia Mbak, lagian aku sudah putus juga" Jemima berkata tanpa ekspresi.


"Loh kapan? Aku kira setelah kamu ketemu Ibunya kalian akan segera menikah. Apa ada masalah Je?" Julia tampak kaget


"Ibunya tidak setuju dengan diriku untuk jadi pendamping Mas Abram Mbak. Aku tidak pernah cerita ke Ibu tentang masalah ini" Jemima hanya menunduk karna dalam hatinya ia sangat membutuhkan sosok Abram saat ini.


"Sabar ya Je, semoga kamu mendapatkan laki-laki yang benar-benar sayang kalian berdua" Julia memeluk adiknya, ia sangat sedih dengan jalan hidup adik satu-satunya.


Suasana rumah sudah sepi, Julia dan suami serta anaknya sedang beristirahat dikamar yang dulu dipakai Ibu. Jemima mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan ke Abram.


✉️Jemima : Mas apa kabar


Jemima ingin memberitahu kabar ke Abram mengenai meninggalnya Ibunya. Setidaknya mereka dulu pernah dekat sehingga hal wajar jika Jemima ingin menyampaikan kabar duka itu ke Abram.


1/2 jam ditunggu tidak ada balasan. Ia mencoba menghubungi laki-laki itu.


Nuttt nuttt nutt suara panggilan telepon


"Halo Mas" sapa Jemima ketika panggilannya diangkat


"Halo" suara wanita yang menjawab panggilannya. Jemima kaget siapa wanita itu apakah ini adiknya.

__ADS_1


"Ehmmm halo Mas Abram nya ada?"


"Siapa kamu Abram sudah tidur. Kenapa malam-malam menelepon suami orang" deggg.. dada Jemima terasa sakit seakan ada yang memukulnya.


"Mmaaf saya tidak tahu" kemudian Jemima mengakhiri panggilannya. Apa ia tidak salah dengar dengan ucapan wanita barusan .... Suami . Apa Abram sudah menikah dengan perempuan yang dijodohkan dengan dirinya. Tetapi kenapa ia tidak memberitahu atas pernikahannya. Tega sekali Abram membohongi dirinya. Sedih dan hancur harus Jemima terima kembali, belum hilang sedih karna ditinggl Ibunya namun sekarang ditambah dengan hubungannya dengan Abram yang tanpa kejelasan benar-benar berakhir. Seharusnya Jemima sudah menyiapkan diri, bukankah Ia sudah tahu sebelumnya mengenai perjodohan Abram. Tetapi ia masih berharap setitik harapan akan janji Abram terakhir kali untuk memperjuangkannya.


Dalam kesedihan kali ini air mata Jemima tidak keluar sama sekali, mungkin sudah habis untuk Ibundanya. Ia hanya terdiam didalam kamar sambil memperhatikan anaknya yang tertidur dan meyakinkan diri bahwa mereka kuat dan bisa hidup berdua. Lama kelamaan akhirnya Jemima ikut bergabung dengan anaknya itu, menenangkan pikirannya sejenak dalam mimpi yang semoga saja bahagia dibanding dengan kehidupan nyatanya.


Seminggu berlalu, keluarga kakaknya sudah kembali ke rumahnya. Jemima dan Dira hanya berdua saja dirumah itu. Sepi yang dia rasakan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tadinya Kakaknya akan menemani sementara adiknya yang masih tampak linglung merasa khawatir dengan kondisi adiknya. Tetapi Jemima meyakinkan kakaknya bahwa ia baik-baik saja.


"Mama mam mam apey anet" ucap Dira didepan Mamanya. Jemima kemudian menyiapkan makanan untuk Dira.


"Je.." suara laki-laki yang sudah lama tidak ditemuinya ada dibelakangnya. Abram datang dengan pakaian kerjanya menatapnya dengan sendu.


"Mas" Jemima diam tidak bisa berkata apapun, apakah ia harus bahagia atau marah terhadap laki-laki itu.


"Pa pa pa" suara bahagia datang dari Dira yang segera berlari menghampiri Abram.


"Dira makan dulu yuk tadi katanya lapar" ucap Jemima memecah kekakuan.


"Ndak ndak auu Pa" ucap Dira dengan manjanya memeluk lekat Abram.


Jemima hanya diam memandang keakraban dua laki-laki itu.


"Dira makan dulu disuapin Mama nanti main sama Papa ya" kemudian Abram menurunkan Dira dari gendongannya dan meletakan di kursi makannya. Tidak ada pembicaraan antara Jemima dan Abram, Jemima fokus untuk menyuapi anaknya.


"Maaf aku baru datang hari ini, Alya memberitahu aku kemarin kalau Ibu meninggal" Abram berbicara dengan lembut.

__ADS_1


"Iya Mas tidak apa-apa" Abram kemudian diam kembali menungu hingga Jemima siap diajak berbicara.


Setelah memastikan Dira kenyang dan sibuk dengan mainannya. Abram berbicara dengan Jemima.


"Apa kabar?" tanya nya ke Jemima


"Baik Mas"


"Maaf sudah mengecewakan kamu. Maaf gak ada disamping kamu saat Ibu pergi. Maaf ternyata aku jadi laki-laki pengecut buat kamu dan Dira. Maaf aku belum bisa menepati janji aku ke kamu" Abram memegang tangan Jemima dan memandanganya lekat, tapi wanita itu mengalihkan wajahnya dan meneteskan air mata.


"Aku gak tahu apa pantas dimaafkan oleh Kamu Je. Setelah aku kembali aku masih berusaha meyakinkan Ibu untuk tetap menerima kamu. Berjalan beberapa hari ternyata Pak Atma mengalami struk dan harus dirawat ia meminta aku untuk segera menikah dengan anaknya. Ibu memohon sama aku Je agar menikah dengan Manda. Maaf Je ternyata aku telah mengecewakan kalian" Abram ikut meneteskan air mata menyesali tindakannya.


"Sampai kemarin pagi aku masih tidak tahu bagaimana memberitahu kamu mengenai masalah ini. Aku juga memohon ke Darwin agar tidak memberitahukan kamu, biar aku yang jelaskan sendiri" Abram menghapus air mata di pipi Jemima.


"Selamat ya Mas, semoga kamu berbahagia."


"Kamu gak marah? Kamu gak ingin pukul aku, kata-katain aku gitu Je?" Jemima malah tertawa mendengar perkataan Abram.


"Kalau aku pukul kamu nanti aku kena tindak pidana penganiayaan terus aku dipenjara nanti Dira sama siapa. Dia hanya punya aku Mas" Jemima tersenyum tapi dalam hatinya sangat sakit.


"Percaya saja Mas semua yang terjadi memang yang terbaik buat kita. Apalagi kamu menuruti apa kata Bunda pasti berkat dan restunya akan menyertai perjalanan pernikahan kalian. Kamu pulang sana, aku gak enak berduaan sama suami orang" Jemima mengusir Abram, dirinya ingin menyendiri tidak tahan menatap muka Abram yang sangat dia sayangi.


"Gak berdua Je kan ada Dira, aku pulang nanti malam saja. Aku ingin ajak Dira ke playground waktu itu" Jemima menggeleng


"Pulang Mas, nanti Bunda atau istri kamu tahu aku benar-benar tidak enak" ucapnya dengan memohon.


"Baik kalau itu mau kamu Je. Hubungi aku jika ada perlu apapun" Abram mengelus kepala Jemima dengan lembutnya dan membuat hati Jemima semakin sakit.

__ADS_1


---


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2