Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Bab 51


__ADS_3

Tangisan Dira yang tadinya kencang lama kelamaan menjadi lemah dan akhirnya anak itu tidur dengan sendirinya dipelukan Jemima. Kadang hal-hal seperti ini yang membuat hati Jemima lemah dan tidak kuat menanggung bebannya sendiri. Jika ia memiliki suami mungkin tidak akan sesulit ini rasanya. Menghadapi dengan sabar dan tetap sadar ketika anak semata wayangnya sedang sakit. Hati seorang Ibu mana yang tidak akan sedih mendengar tangisan anaknya dalam kondisi sakit.


"Daddy kamu lama Dir, kita ke rumah sakit sendiri saja" bukan maksud Jemima untuk menggangu kehidupan Darwin tetapi ia ingin sekali Dira mendapatkan perhatian dari ayah kandungnya.


Jemima memesan taxi menuju rumah sakit yang biasa menjadi rujukan Dira saat sakit.


Ponsel didalam tas nya berbunyi dan Jemima berusahan mengambilnya dengan Dira masih ada dipelukannya.


"Je ada apa?" ucap Darwin saat Jemima baru mengangkat teleponnya.


"Aku cuma mau kasih tahu Dira sakit, Dira ingin ketemu Daddy nya kalau ada waktu temui sebentar Pak" ucap Jemima ke Darwin.


"Daddy ya Ma?" tanya Dira dengan suara lemasnya.


"Iya Daddy"


"Aku videocall Dira sebentar" ucap Darwin dan mengalihkan panggilannya ke video call.


"Hai my boy, are you okay?" tanya Darwin


"I'm sick Daddy." ucap Dira lemas


"kami dalam perjalanan ke rumah sakit Pak" timpal Jemima


"Kamu gak bawa mobil?" tanya Darwin


"Gak Pak mobil tadi aku tinggal dikantor ada dinas sekalian pulang"


"Oh okey, Daddy nanti jemput Dira ya. Kirim alamat rumah sakitnya Je. Saya akan jemput kalian"


"Yeahh.. ketemu Daddy" Dira mendadak bersemangat setelah mendengar suara Daddynya.


"Get well soon my son" kemudian Darwin mematikan sambungan teleponnya.


Muka Dira tampak tersenyum lembar meskipun hanya percakapan sebentar antara ayah dan anak itu.

__ADS_1


Setelah pemeriksaan selama 2 jam akibat antrian yang panjang Jemima dan Dira bersiap untuk pulanh kerumah. Sedari tadi Jemima berharap Darwin akan menemaninya selama diruang pemeriksaan tetapi lelaki itu tak kunjung hadir. Ia memeriksa ponselnya dan ada pesan dari Darwin yang menunggunya di parkiran depan Lobby.


"Pak saya ke lobby" tulis pesan Jemima ke Darwin.


Saat Jemima sampai di lobby mobil Toyota Camry warna hitam berhenti didepannya. Darwin turun dari sisi pengemudi dengan pakaian kerjanya yang masih lengkap.


"Dibelakang Je, ada Cindy didepan. Hai son" ucap Darwin membukakan pintu belakang dan mengusap kepala Dira.


"Oh okey" ucap Jemima kemudian ia duduk dibelakang Darwin dan menyapa Cindy yang sibuk memainkan ponselnya.


"Hai Cin" sapa Jemima


"Hai Je" balasnya singkat.


"Bagaimana kondisi Dira?" tanya Darwin


"Dia diare dan sudah diberi obat sama dokter, tidak ada dehidrasi jadi tidak perlu di rawat" Jelas Jemima yang duduk sambil memangku Dira yang tertidur.


"Syukurlah." tidak ada pembicaraan antara mereka bertiga sampai tiba dirumah Jemima. Kemudian Jemima turun dari mobil itu dan disusul oleh Darwin meninggalkan Cindy yang masih duduk di dalam mobil.


"Sebentar Beb" ucap Darwin pada Cindy.


Jemima memasuki kamarnya untuk meletakkan Dira yang tertidur.


"Kalau ada apa-apa hubungi aku Je" ucap Darwin sembari mengusap kepala anaknya yang tertidur pulas.


Jemima hanya bisa menghela nafas, rasanya dia sudah tidak harus bergantung kepada Darwin lagi mengingat susahnya Darwin untuk dihubungi.


"Hemm" jawabnya malas tanpa melihat sosok laki-laki blasteran itu.


"Hari sabtu nanti kami akan kerumah Mama mu, mungkin kamu bisa kesana juga, agar Dira bisa main sama kamu. Dia selalu menanyakan Daddynya. Iya aku paham kamu sibuk, tapi setidaknya sempatkan sedikit waktu untuk Dira" ucap Jemima yang sebenarnya malas dia ungkapkan tapi semua ini hanya untuk Dira. Jemima juga tidak ingin selalu menghubungi Darwin karna semakin hari Cindy makin tidak menyenangkan akan dirinya, tetapi jika ia menghubungi Cindy yang ada pesannya tidak pernah tersampaikan. Sepeninggal Darwin, Jemima segera ikut bergabung dalam ranjang besarnya bersama Dira, mengambil ponselnya dan menscroling media social yang terinstal di ponselnya. Disaat-saat seperti inilah ketika dunia sudah mulai terdiam karena lelahnya menjalani hari, hening malam membuat pikirannya melayang kemanapun. Insecure akan dirinya terkadang menghantui dalam hening malam ditambah melihat foto-foto teman-temannya yang terlihat bahagia bersama pasangannya. Bukan ia menyesali akan kehadiran Dira tetapi alngkah bahagianya jika ada laki-laki yang menemani mereka dan menjadi pemimpin dalam keluarga mereka.


"Maafin Mama ya Nak" ucap Jemima setiap malam saat akan tertidur.


Pagi kembali menjelang dan bersyukurunya Jemima karna kondisi Dira membaik.

__ADS_1


"Uaaaaa " Dira terbangun dalam keadaan menangis, Jemima yang sedang bersiap untuk berangkat bekerja terkaget dengan tangisan Dira.


"Loh kenapa anak Mama menangis" ucap Jemima sambil memeluk anaknya.


"Daddy mana Ma?" tanya Dira


"Daddy dirumahnya, semalam Daddy jemput Dira dirumah sakit gak ingat ya" Jemima mengusap rambut anak laki-lakinya.


"Hikk hikk, Daddy gak main sama Dira" ucapnya sedih.


"Nanti saat Mama libur kita kerumah Oma ada Daddy disana" Jemima berusaha menenangkan anaknya, sedih rasanya ketika Dira merasa rindu dengan ayahnya.


"Sabar ya Nak" Jemima mencium pipi anaknya.


Hari berlalu dan besok adalah weekend, sudah terbayang besok ia akan menikmati hari liburnya dengan tenang bermain bersama Dira.


Pagi ini pun Dira amat bersemangat pergi ke sekolahnya karna tahu besok ia akan kerumah Omanya. Arka sahabat nya sudah siap mengantarkan Dira, biasanya pagi-pagi Arka akan ikut sarapan dengan mereka sebelum pergi.


"Je, gue mau infokan kalau mulai minggu depan gue sudah berhenti menjadi ojek, gue melamar menjadi security di salah satu perusahaan" ucap laki-laki berhidung mancung dengan kulit agak kecoklatan tetapi tidak menghilangkan sosok ketampanannya.


"Iya Arka gak apa-apa, nanti gue cari ojek dekat sini saja untuk antarkan Dira. Semoga sukses ya dipekerjaan yang baru" ucap Jemima saat mengantarkan anaknya pergi sekolah didepan pintu rumah.


Sesampainya dikantor Jemima sempatkan untuk membuka email pribadi, mencari info lowongan yang cocok dengannya dan sudah beberapa lamaran yang ia kirimkan juga.


"Udah mau akhir bulan nih, belum ada yang panggil interview lagi, gak tahan lama-lama sama si tua bangka" ucapnya sendiri.


Jemima membuka kotak makananya berisikan nasi goreng yang belum ia sempat makan. Saat hendak menyuapkan nasi goreng seafood buatannya ia dikagetkan dengan bantingan pintu diruangannya.


"Heh wanita matre, gak tahu malu, bisa-bisa nya minta mobil sama suami gue. Dasar perempuan murahan" ucap Kalina istri Rudi


Jemima terkejut dengan ucapan Kalina yang menuduh dirinya.


"Saya Bu? Engga koq" Jemima masih menahan diri dan tetap bersifat hormat dengan istri atasannya itu.


"Halah emang lu cewe gak bener kan, manfaatin laki-laki buat ambil hartanya saja. Belum lagi nanti kalau hamil, sengaja kan lu biar dapat duit terus. Kaya anak lu itu yang jadi sumber penghasilan lu kan" ucap Kalina yang membuat Jemima geram.

__ADS_1


Jemima seketika menggebrak meja didepannya.


"Ibu jangan asal nuduh ya, Ibu tanya saja sama suami Ibu, itu mobil buat siapa? Dan jangan hina anak saya, dia lebih terhormat daripada Ibu. Saya resign Bu nanti bilang ke Pak Rudi." Jemima mengambil tas nya dan membereskan barang-barang yang menurutnya penting untuk dibawa pulang dan meninggalkan kantor itu.


__ADS_2