Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Perjalanan ke Amerika


__ADS_3

Flash Back On


6 bulan lalu Abram dipanggil oleh Pak Atma Gunawan,seorang pengusaha Kontraktor yang sudah berpengalaman di bisnis tersebut. Pak Atma adalah orang tua tunggal dari anak semata wayangnya Amanda Gunawan. Istrinya meninggal karna sakit saat Amanda berusia 2 tahun dan ia tidak menikah lagi hingga sekarang, fokus mengurus bisnis dan anaknya. Pak Atma sangat menyayangi Amanda segala keiningannya selalu dituruti bersyukurlah ia jika Amanda tumbuh tidak menjadi anak yang manja dan selalu menghargai orang lain.


Setelah pulang bekerja Abram mengendarai mobilnya menuju kediaman Pak Atma. Ia sudah merencanakan untuk pindah dan mengabdi di perusahaan pak Atma seperti janjinya dulu. Rencananya setelah ia mengumumumkan hubungannya dengan Jemima ke Darwin. Hatinya sangat senang karna ia ingin segera menikahi Ibu satu anak itu yang telah mencuri hatinya.


"Malam Pak" Abram mencium punggung tangan Pak Atma yang sedang membaca progress pekerjaan di ruangan kerjanya.


"Malam Bram duduk dulu, sudah makan malam?" tanya Pak Atma laki-laki berdarah campuran Jawa dan Chinese.


"Sudah Pak tadi sebelum kesini kebeteluan ketemu klien disalah satu restoran" Abram duduk didepan Pak Atma.


"Gimana kerjaan kamu, masih betah di tempat Darwin" Pak Atma jelas mengenal Darwin karna ia sering melakukan hubungan kerjasama.


"Masih Pak, tapi sesuai janji saya sebelumnya saya akan mulai untuk bekerja di tempat Bapak, semoga Bapak bisa berkenan jika saya mau membantu Bapak"


"Iya Bram, maksud saya memanggil kamu kesini salah satunya ingin membahas hal itu. Saya yakin jika kamu ikut gabung dan membantu bisnia saya, perusahaan akan berkembang lebih baik, saya sudah tahu akan kepintaran kamu dan Darwin juga sering membanggakan kamu" Pak Atma menyenderkan badannya di kursi kerjanya dan menautkan kedua tangannya.


"Iya Pak terimakasih semoga bapak berkenanan dan saya janji tidak akan mengecewakan Bapak" Abram menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Tapi ada satu lagi Bram yang sangat penting, kemarin saat saya mengunjungi Amanda di Amerika, ia selalu membicarakan kamu, Manda bersyukur meskipun dia anak tunggal tapi dia merasa mempunyai kakak laki-laki yang selalu melindungi dia" ucapnya


"Kamu tahu Bram, Manda minta saya untuk menikahkannya dengan kamu. Saya sudah tanya ke Bunda kamu juga kalau kamu masih sendiri dan belum memiliki kekasih makanya saya berani menyampaikan ini"


Deg dada Abram serasa ada yang memukul terkejut dengan ucapan Pak Atma barusan.


"Manda bilang kamu laki-laki hebat dan bertanggung jawab, saya pikir benar juga karna Manda tidak bisa meneruskan bisnis saya jika saya mati, pilihannya tepat ada didiri kamu, orang yang sudah saya percaya. Bulan depan dia akan wisuda kamu datang bersama saya , untuk tanggal pernikahan biar kamu yang rencanakan dengan Manda" jelas pak Abram lagi, Abram diam tidak tahu harus berkata apa.


" Jangan kecewakan saya dan Manda Bram. Sebelum saya meninggal kalian harus menikah" Abram diam, pikirannya menjadi berantakan. Ia tidak bisa membela diri, bukan ini yang direncanakannya.


"Iii ya Pak" ia tahu jika langsung menolak tawaran Pak Atma merupakan hal yang sangat tidak sopan dia harus memikirkan kembali rencananya. Ia pulang dalam keadaan pikiran kosong. Ia melirik jam ditangannya sudah jam 11 malam, ia menghentikan mobilnya di depan sebuah Mal yang baru saja menghentikan aktivitasnya. Tangannya langsung mengambil ponsel dan memencet gambar video call pada nama Dira.


"Malam Mas " sapa wanita diseberang sana dengan tampilan sederhana menggunakan baju kebesarannya daster yang nyaman untuk mengusui bayi 6 bulannya.


"Iya aku masih di mobil baru selesai meeting, mau perjalanan pulang. Sayang aku kangen sama kamu" ucap Abram karna kondisi di mobil gelap mukanya yang sedang galau dan sedih tidak terlihat Jemima.


"Aku juga kangen Mas" Jemima membalasnya dengan senyuman termanis yang bisa ia berikan.


"Dira sedang apa"

__ADS_1


"Sudah tidur daritadi ini aku sedang menyiapkan perlatan untuk besok karna ada pesanan" jelas Jemima.


"Mungkin bulan depan aku gak kesana Je aku mau ke Amerika ada urusan bisnis gak apa-apa ya?" ucap Abram dengan muka sedih.


"Gak apa-apa Mas kamu jaga kesehatan jangan terlalu capai. Mas maaf Dira bangun aku mau gendong dia dulu, kamu hati-hati pulangnya, jangan mengebut"


"Iya sayang kamu juga kalau sudah selesai segera istirahat, titip cium untuk Dira. " Abram segera menekan tombol merah di ponselnya dan memukul stir mobilnya kesal. Tidak menyangka akan ada permintaan seperti itu dari Pak Atma.


Sebulan berlalu Abram dan Pak Atma bersama menuju Amerika. Didalam kabin pesawat business class Abram duduk bersebelahan dengan Pak Atma. Penerbangan panjang ini dimanfaatkan Pak Atma untuk menerangkan perkembangan bisnisnya. Abram mendengerkan dengan baik ia sudah paham akan proses bisnisnya, tetapi perkataan Pak Atma mengenai hubungannya dengan anaknya sangat menggusarkan hati Abram.


"Tolong jaga anak saya Amanda, saya tahu kamu bisa menjaganya dengan baik Bram. Bu Tika mendidik kamu menjadi laki-laki yang hebat dan bertanggung jawab, saya lihat bagaimana kamu menjaga Ibu dan adik-adik kamu selama ini. Saya tidak pernah menyesal dan rugi membiayai kamu kuliah. Kamu memang anak pintar. Sebenarnya Manda sudah mulai menyukai kamu sejak SMP saya tahu diam-diam dia selalu memperhatikan kamu saat datang kerumah. Tapi saya selalu bilang anak kecil jangan pacaran, saya tidak mau dia salah pergaulan." Abram hanya diam mendengarkan ucapan Pak Atma.


"Sampai saat kemarin akhirnya anak itu mengungkapkannya secara terang-terangan ke saya. Untuk meminta kamu menikah dengannya, saya tahu mungkin kamu belum ada rasa cinta dengan Manda tapi saya yakin cinta itu akan muncul perlahan, seperti saya dengan Mama nya Manda kami sama-sama dijodohkan awal pernikahan masih malu-malu, tapi karna komitmen saya untuk menjadi kepala keluarga dan suami yang baik dan bertangung jawab saya serahkan semua cinta dan perhatian kepada Mamanya Manda dan terbukti sejak ia meninggal sampai hari ini tidak tergantikan" Pak Atma memandang kosong kedepan dengan senyum mengembang, mengingat kembali kisah cinta dan perjalanan berumah tangganya yang singkat dengan istrinya.


"Iya Pak" Abram tidak bisa berkata banyak. Saat bertemu dengan Manda nanti dia harus membicarakan bahwa dia sudah memiliki kekasih di hati. Perjalanan panjang selama 25 jam diudara dengan transit selama 3 jam ini semakin terasa panjang dan melelahkan. Hingga akhirnya sampailah mereka di Bandara JF Kennedy New York. Abram dan Pak Atma berjalan keluar terminal dan munculah sosok wanita berkulit putih dengan potongan rambut bob yang diwarnai Ombre keunguan menghampiri 2 laki-laki dewasa, badannya sedikit berisi dari terakhir ia lihat.


"Papaaaaa" teriaknya kemudian memeluk Pak Atma, setelah itu berpindah kelelaki sebelahnya memeluk dan mencium pipinya


"Welcome Kak. Miss u" cup kembali pipinya dikecup wanita itu.

__ADS_1


___


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2