Pilihan Jemima

Pilihan Jemima
Kehilangan


__ADS_3

"Maaf Je bukan maksud aku mempermainkan kalian, niat aku sungguh-sungguh sama kamu."


"Terus sekarang bagaimana Mas, Mas tega melawan Bunda Mas? Aku gak mau jadi penyebab Mas bertengkar dengan Bunda" air mata Jemima meluncur ke pipinya.


"Aku janji akan berusaha mempertahankan kalian, percaya sama aku " Abram memeluk Jemima dan mengusap kepalanya dengan lembut.


Semoga ucap Jemima dalam hatinya dengan penuh harap.


"Jangan menangis malu sama Dira" ucap Abram mencoba menenangkan Jemima.


"Biarin kan aku saingan sama Dira"


"Ehemmm" Darwin ikut bergabung dengan mereka.


"Bram balik lu ke jakarta gantikan gue meeting besok" perintah Darwin


"Ckk iyeee" muka Abram berubah kesal dan segera membuka ponselnya untuk memesan tiket ke Jakarta malam ini juga.


"Aku pamit ya nanti aku kesini lagi" ucap Abram kepada Jemima saat ia akan pergi ke Bandara.


"Gak usah sering-sering kesini sayang uangnya Mas"


"Yah gimana dong kalau aku kangen" Abram memeluk Jemima


"Sudah sana pergi nanti ketinggalan pesawat" Darwin berucap dengan ketusnya tidak menyangka jika Abram bisa bermanja-manja dengan perempuan, karna yang ia tahu asistennya ini lelaki kaku.


"Sampai kapan disini Pak, sudah malam juga gak enak sama tetangga" Abram tidak mau kalah


"Ini kan rumah pacar saya, gak terima kalau ada laki-laki lain disini" tambahnya lagi.


"Oh iya sudah malam, Dira juga sudah tidur. Lebih baik saya kembali ke hotel dan besok pagi kesini lagi" ucap Darwin


"Bareng kalau gitu Bram" kemudian dua laki-laki itu pergi meninggalkan tempat tinggal Jemima.


"Je, sedang apa? Ibu mau bicara" ucap Ibu saat memasuki kamar Jemima

__ADS_1


"Iya Bu aku cuma istirahat saja"


"Bagaimana perjalanan kamu ke Jakarta? Jadi sekarang hubungan kamu dengan Abram seperti apa?"


"Baik-baik saja Bu" Jemima tidak mau berkata yang sebenarnya ke Ibunya karna tidak ingin menambah beban pikirannya.


"Bagaimana Ibunya? Apa dia baik dengan Dira?"


"Baik Bu dia suka koq, karna dia pernah jadi pengasuh anak juga"


"Bagus lah Je, semoga hubungan kalian terus membaik, sekarang istirahat saja. Ibu hanya bisa berdoa saja agar kalian berdua baik-baik. Apalagi sekarang ayah kandung Dira sudah mau datang dan mengakui, ibu bisa tenang tidak kepikiran lagi." sesudah mengucapkan kata itu ibu pergi meninggalkan Jemima berdua dengan anaknya didalam kamar.


Jemima masih memikirkan ucapan Abram tadi akankah ia benar-benar memperjuangkan dirinya untuk menjadi istri Abram dan akhirnya mereka bisa hiduo bahagia bersama tanpa ada yang menyakiti.


Esok paginya Darwin sudah sampai dirumahnya. Mukanya sangat cerah dn bahagia. Jemima sangat bersyukur karna Darwin menerima Dira dengan baik.


"Hai Je" sapa Darwin yang baru sampai.


"Pagi Pak sudah sarapan?" tanya Jemima yang sedang menyiapkan kebutuhan warungnya.


"Masih tidur, Bapak datangnya kepagian" tangannya masih asik mengupas beberapa butir bawang putih.


"Baik saya tunggu kalau begitu" Darwin duduk didepan Jemima memperhatikan bagaimana Jemima menyiapkan semua bahan makanan itu. Ia merasa kasihan dengan Jemima karna dirinya hidup wanita didepannya ini menjadi seperti ini.


Ibu turun membawa Dira yang sudah mandi dan anak itu terlihat sangat tampan dan riang.


"Morning Dira" sapa Darwin ke anak laki-lakinya, dan Dira masih tampak malu-malu akan sosok Darwin.


Selama beberpa hari ini Darwin berusaha mendekatkan dirinya ke Dira dan akhirnya anak itu mulai mau didekati oleh ayahnya.


"Thanks ya Je saya sudah boleh menemui Dira. Mungkin akan saya jadwalkan kesini lagi" pamit Darwin ke Jemima.


"Iya Pak hati-hati dijalan"


"Bye Dira, Daddy pergi dulu." Darwin mencium pipi anaknya, dan Dira tampak sedih saya Darwin pergi.

__ADS_1


Sudah seminggu lebih tidak ada kabar dari Abram. Jemima sudah mencoba mengiriminya pesan tetapi tidak ada balasan, ia merasa khawatir dengan keadannya. Ia mencoba bertanya dengan Alya dan ia mengatakan jika Abram baik-baik saja dan ada dikantor. Sedangkan Darwin dia tidak pernah menghubungi Jemima juga dan Jemima juga tidak ada keinginan untuk menanyakan kabarnya kembali.


Jemima mencoba membesarkan hati mungkin memang harus diakhiri segera hubungannya dengan Abram. Jemima mencoba menyibukkan dirinya dengan mengurus Dira apalagi kedatangan kakaknya berserta anak dan suaminya benar-benar melupakan masalah hatinya.


Seminggu berubah menjadi 3 bulan benar-benar tidak ada kabar dari Abram, dan ia benar-benar sudah merelakan hal itu. Darwin pun hanya sempat menanyai.kabar Dira melalu telepon beberapa kali. Pagi ini Jemima seperti biasa bersiap dengan warungnya. Jemima heran karna Ibunya tidak kunjung turun untuk membantu dirinya dan masih didalam kamarnya.


"Bu koq belum bangun" Jemima membuka pintu kamar Ibunya, dilihatnya Ibu masih tertidur. Tidak biasanya Ibu tertidur hingga siang apakah Ibu sakit pikir Jemima dalam hatinya.


"Sakit Bu?" disentuhnya kening Ibu yang terasa dingin dan tidak ada tanggapan dari Ibunya. Jemima cemas akan keadannya Ibunya. Di guncang-guncangkan bahu Ibunya tetap tidak ada tanggapan akan sosok wanita berusia 60 tahun itu.


"Bu Ibu bangun Bu" Jemima menepuk pipi Ibunya dan tetap saja diam.


"Bude bude.. Ibu Bude" teriak Jemima memanggil Bude Wati yang sedang mengawasi Dira.


"Ono opo Je?" tanya Bude Wati yang tampak khawatir juga. Dalam tangisannya Jemima berusaha berbicara " Ibu bude gak bangun-bangun aku panggilin daritadi"


"Kita bawa kerumah sakit Je, sebentar aku panggil Mas-mas dibawah untuk bopong Ibu" Bude Wati menyerahkan Dira ke Jemima dan membawa 4 orang untuk mengangkat Ibunya ke taxi yang sedang lewat.


Ibu dimasukkan kedalam ruang UGD setibanya dirumah sakit dan dokter segera memeriksanya.


"Maaf Bu, Ibunya sudah tidak ada detak jantungnya" kaki Jemima terasa lemas.


"Waktu kematian diperkirakan sekitar 3 jam lalu" tangis Jemima pecah tidak percaya akan kejadian yang dia alami. Jemima memeluk Ibunya dan masih berusaha membangunkannya.


"Bu bangun Bu, Jeje mohon jangan tinggalin kami berdua. Buu Ibu bangun Bu" Jemima menggendong Dira dan memeluk Ibunya hal ini membuat balita itu berusaha melepaskan diri.


"Je kamu harus kuat kasihan anakmu itu kalau lihat kamu seperti ini. Ikhlas Je ikhlas" Bude Wati memeluk Jemima yang menangis meraung-raung. Jemima kemudian ingin menghubungi kakaknya diluar pulau tetapi ia ingat jika ponselnya tertinggal dirumah karena tadi mereka terburu-buru menuju rumh sakit.


Setelah masalah administrasi selesai akhirnya ia membawa jenazah ibunya pulang. Barulah ia sempat menghubungi kakaknya. Jerit dan tangis juga tidak terhindakan dari sambungan telepon itu.


"Je tunggu Mbak kesana, Mbak mau ketemu Ibu dulu untuk terakhir kalinha" pesan kakaknya kepada Jemima.


"Baik Mbak kami tunggu"


___

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen.


__ADS_2