
Malam ini menjadi salah satu malam paling membahagiakan dihati Jemima, ia tidak pernah menyangka akan kejutan yang diberikan Gerry dan Dira. Dalam perjalan pulang kembali ke rumahnya, tak henti senyum merekah di bibir Jemima terus terukir.
"Bahagia banget" ledek Gerry mencubit pipi Jemima.
"Bahagia dong memang kamu enggak"
"Pastilah" tangan kiri Gerry kembali mengusap pipi lembut Jemima.
Jemima melihat anaknya yang sudah tertidur di bangku tengah mobil. "Bagaimana sampai Dira mau terima kamu Yang, koq dia gak cerita ke aku"
"Ehmm ceritain gak ya, jangan deh ini rahasia antar laki-laki" Gerry melirik ke Jemima kembali menggoda kekasihnya.
Dengan melipat kedua tangannya Jemima merajuk " Ihh sebel"
"Jangan ngambek begitu nanti cantiknya hilang"
"Jadi minggu lalu saat kita pulang dari makan siang, Dira tiba-tiba video call aku."
Flashback On
Setelah makan siang bersama antara Jemima dan Gerry, mereka kembali keruangan masing-masing. Ponsel Gerry tiba-tiba berbunyi, alisnya mengkerut akan nama yang muncul di layar ponselnya.
"Jangan ganggu aku, aku lagi sibuk" ucap Gerry kemudian masuk kedalam ruang kerjanya.
Secepatnya ia mengangkat panggilan itu setelah pintu tertutup.
"Halo Dira" sapanya.
"Halo Om" jawab anak laki-laki itu.
"Kenapa Dira ada yang bisa Om bantu" Gerry duduk dikursi kerjanya dengan santai
"Om kalau jadi Papa aku nanti Mama kerja gak?" ucap Dira dari seberang sana, Gerry yang sedang menyenderkan punggungnya di kursi seketika menegakkan badannya, tertarik dengan ucapan anak laki-laki itu barusan.
"Ehm, Om maunya Mama kamu dirumah biar Om yang kerja tapi kembali ke keputusan Mama kamu"
__ADS_1
"Kalau Mama Dira boleh gak kerja dan dirumah saja. Om boleh nikahin Mama aku" ucap anak itu dengan polosnya.
"Hah.. gimana Dira?" Gerry mencari konfirmasi kembali.
"Iya Om boleh jadi Papa Dira asal Mama gak kerja dikantor, Dira mau Mama dirumah jagain Dira. Kasihan Mama, Mama kecapekan kerja tapi Mama gak pernah bilang"
"Beneran Dira? Om setuju banget sama syarat dari kamu. Om juga senang kalau Mama Dira mau dirumah dan biar Om saja yang kerja" muka Gerry berubah menjadi berbinar, karna kendala yang sedang dihadapinya akhirnya hancur dan disambut dengan kebahagiaan.
Dengan spontan Gerry mengajak Dira untuk memberikan kejutan ke Mama nya, ia tidak akan melewatkan kesempatan ini, ia harus segera meresmikan hubungan yang sempat tertunda.
"Terimakasih Dira, Om senang sekali. Om sayang kalian berdua" ucapnya mengakhiri pembicaraan.
Kemudian ia segera menghubungi Mamanya, meminta waktu untuk memberikan kejutan lamaran di hari pernikahan orang tuanya.
Flashback Off
"Gak sia-sia kalian kemarin liburan" ucap Gerry senang.
"Iya pasti dia ingin sekali seperti sepupunya karna selama disana kakakku sangat perhatian sama anak-anaknya. Maafin Mama ya Dira gak bisa kasih keluarga yang sempurna" ucap Jemima sambil memandang anaknya.
Tidak terasa waktu berjalan cepat persiapan pernikahan hanya membutuhkan waktu 2 bulan. Jemima menginginkan pesta pernikahan yang sederhana tetapi tetap berkesan. Bagi Jemima dan Gerry hal ini sama-sama pernikahan pertama mereka, karna itu mereka ingin tetap berkesan dalam ingatan mereka nanti. Magda dan Sela begitu repot dengan persiapan pesta pernikahan itu dibanding dengan kedua calon pengantin yang terlihat santai. Jemima sungguh bersyukur karna kedua wanita tersebut meskipun bukan Ibu kandungnya tetapi sangat menyambut pesta pernikahan mereka.
"Dira sudah siap?" tanya Gerry ke Dira yang sudah tampan memakai jas berwarna biru tua.
"Siap Om Bos" Dira mengacungkan jempolnya kearah Gerry.
Alunan lagu beautifull ini white menjadi pembuka acara pemberkatan pernikahan. Dekorasi indoor ruangan kaca di hias dengan begitu indah dengan berbagai macam bunga hidup yang menjadi penghias dalam ruang itu.
Gerry sudah berdiri di Altar menanti kedatangan wanita pujaannya. Jemima dengan di gandeng oleh Dira berjalan perlahan menuju tempat Gerry berdiri yang memandang tanpa berkedip. Dengan gaun pernikahan berwarna putih yang menjuntai hingga kelantai Jemima tampak cantik dan elegan.
Sampailah Jemima dan Dira didepan Gerry. Gerry meminta kepada Dira tangan Mamanya yang sedang di gandengnya.
__ADS_1
"Boleh kah Dir?" tanya Gerry lembut.
"Boleh Om" Dira mengantarkan tangan Jemima kepada tangan Gerry yang sudah siap menyambut.
Upacara pemberkatan berjalan dengan lancar hingga sampailah mereka pada janji pernikahan yang mereka ucapkan masing-masing untuk saling mencintai, menerima satu sama lain, baik duka maupun suka sampai selama-lamanya. Tatapan kedua mata sejoli ini tidak pernah berpaling. Hari ini merupakan hari kebahagiaan secara pribadi untuk Jemima. Setelah begitu banyaknya masalah lika-liku kehidupan yang harus ia jalani. Dan disinilah saat ini Jemima bersama pilihannya, yang ia yakin merupakan pilihan dari Tuhan.
Rasa haru dan suka tidak hanya dari kedua mempelai, pihak keluarga pun yang memahami kondisi Jemima khususnya ikut meneteskan airmata. Terkhusus Julia kakak Jemima. Julia memeluk erat Jemima sambil berderai air mata.
"Selamat ya Dek, Mbak bahagia sekali hari ini. Akhirnya kamu menemukan seseorang yang bisa menerima kamu apa adanya. Sedih sekali Ayah dan Ibu tidak ada disini, tapi Mbak yakin mereka ikut bahagia melihat kalian" ucapnya dalam isak tangis.
"Iya Mbak, terimakasih. Doakan aku selalu bahagia. Aku juga rindu ayah dan ibu"
"Hei koq nangis, ini kan hari bahagia kita" ucap Gerry menyemangati pengantinnya.
"Iya maaf sayang, terbawa suasana" Jemima menghapus air matanya, untung saja make upnya tidak luntur.
"Iya Ger. Mbak nitip adek mbak ini ya. Jangan kamu sakiti dia dan anaknya. Tolong anggap Dira sebagai anak kamu juga" Julia kemudian memeluk Gerry.
"Pasti Mbak. Mereka ini istri dan anakku. Aku akan menyayangi mereka sepenuhnya." ucap Gerry dengan penuh keyakinan.
"Udah Mbak peluknya jangan lama-lama, ntar mas Yuda cemburu" Jemima mendorong tubuh Julia dari Gerry dan mereka tertawa bahagia. Begitupun dengan Dira yang selalu menampakkan senyumannya. Saat ini ia sedang bergelayut manja ke kedua Oma dan Opanya.
"Dira happy Oma, akhirnya Dira punya Papa" ucapnya polos.
"Loh Dira kan punya Daddy selama ini." celetuk Magda
"Ehm iya" kemudian mukanya tampak murung dan memandang sejenak kearah Darwin yang saat ini sibuk sendiri dengan ponselnya, tanpa memperhatikan anak itu. Magda paham akan keadaan saat ini dan ia merasa ikut bersalah karna tidak bisa mendidik Darwin dengan baik.
"Karna Dira sudah ada Papa yang jaga. Oma dan Opa mungkin akan pindah ke Australia, nanti Dira main kesana ya" Magda memandang wajah cucunya yang tampangnya sangat mirip dengan Darwin saat seusianya.
"Lohh kalau Dira kangen bagaimana Oma?"
"Dira ajak Papa barunya ke rumah Oma dan Opa ya" timpal Bagus
"Baik Oma Opa" kemudian Dira memeluk Omanya dengan erat.
__ADS_1
"I'm gonaa miss you Opa dan Oma" ucapnya lagi.