PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
SALING TUDUH.


__ADS_3

Pak Sumarto dan bu Adelia tidak bisa berbuat apa-apa atas tindakan keji yang putrinya.


Mereka baru sadar kalau mereka diculik oleh Roman karena putrinya telah menculik bu Marisa dan mantan asisten rumah tangganya.


Bu Adelia tampak malu dan merasa iba melihat suaminya yang tidak tahu apa-apa harus berhadapan masalah pelik seperti ini karena ulah Winda putrinya.


"Ijinkan kami berbicara dengan Winda!" pinta bu Adelia dengan tatapan kosong.


Wajah tegang tampak tersirat pada bu Adelia dan pak Sumarto.


"Kurasa ibu Adelia tidak perlu bicara dengan Winda, sebab sebentar lagi kami akan membebaskan kalian berdua. Karena mamaku dan Masturi sudah kami bebaskan!" sahut Roman.


"Kami menculik kalian bukanlah untuk kejahatan, melainkan peringatan bagi Winda kalau kami bisa melakukan hal yang sama!" ucap Nadira.


"Aku berharap bu Adelia dan pak Sumarto tidak perlu risau dan takut!" kata Roman.


"Kami hanya malu atas perlakuan putri kami pada kalian!" kata bu Adelia.


Pak Sumarto yang hanya diam, berusaha mencoba untuk berbicara dari tadi, tapi pikirannya masih kalut dan kacau.


"Kami masih memikirkan cara untuk memulangkan kalian berdua agar Winda tidak melakukan hal yang sama dikemudian hari." kata Roman sambil memperhatikan pak Saipul melambaikan tangan memanggilnya dari luar.


Roman segera nyamperin pak Saipul, "Ada apa? Pul!" tanya Roman.


"Sini!" kata pak Saipul mengajak Roman bicara ketempat agak jauh dari Nadira.


"Pak Abdullah tadi bilang, semua persiapan pernikahanmu sudah klir hari kamis pagi!" kata pak Saipul.


"Siapa? Pak abdullah!" tanya Roman.


"Pak Abdullah...!, ketua rt tempat kontrakan kita!" jawab pak Saipul.


"Kalau begitu buat surat undangan untuk bapak! Tante Lui, Restu dan Hadi!" kata Roman.


Pak Saipul merasa kegirangan mendengar permintaan Roman yang menyuruhnya buat surat undangan kepada bapak, keluarga dan temannya.


"Tapi, kenapa bapak mesti pakai surat undangan, bukankah dia bapakmu!" kata pak Saipul bingung, seharusnya Roman memberitahu bapaknya kalau dia akan menikah, bukan memberinya surat undangan.


"Kita mengundangnya seolah-olah yang menikah orang lain!" kata Roman.


"Berarti disurat undangan itu bukan namamu yang ditulis!" tanya pak Saipul.


"Ya!" jawab Roman seraya beranjak keluar.


"Kamu mau kemana?" tanya pak Saipul.


"Bilang sama Nadira aku keluar sebentar!" kata Roman meninggalkan Saipul.


Pada jam yang sama Hadi dan Lui masih disekitar Palimanan, mobilnya parkir disekitar luar gerbang tol jurusan jalan yang mengarah ke surabaya.


"Gimana nih, kita pulang atau kita tunggu Ghazan lewat!" tanya Hadi yang menuruti kemauan Lui yang ngotot ingin bertemu Ghazan dan Lui.


Lama Lui berpikir perutnya mulai berontak minta diisi. Sudah ada setengah jam orang yang ditunggu lewat balik kesarangnya tidak nampak-nampak.


"Ya, sudah kita balik cari kafe!" kata Lui menyerah.


Akhirnya merekapun kembali masuk ke Jakarta. Tidak lama setelah pergi tampak motor Oleng melintas menuju kediaman Ghazan yang diobrak-abrik oleh Hadi dan Lui membawa beberapa kantong makanan dan minuman.


Sesampai ditempat itu semua anak buah Ghazan yang babak belur terluka menyambut makanan dan minuman yang dibawa Oleng.


"Untung kamu berpikir kabur! Kalau tidak kita semua pasti kelaparan sambil menahan sakit!" kata Barra bersukur masih ada yang kuat pergi beli makanan.


"Sebenarnya aku pingin bantu kalian tapi aku tak kuat berdiri kakiku dihantam mereka berdua!" kata Oleng pura-pura.

__ADS_1


"Kamu kasih tahu bos! kalau kita semua diobrak-abrik semalam!" pinta Zalu.


"Ya!" kata Oleng langsung vidio call dengan Ghazan.


"Halo," kata Ghazan terkejut melihat Oleng menahan sakit.


"Kenapa! Kamu Leng!" tanya Ghazan.


"Semalam Hadi dan Lui obrak-abrik kita." jawab Oleng.


"Hah!"


Ghazan sangat terkejut mendapat berita dari Oleng.


"Ada apa kak!" tanya Winda disamping Ghazan yang mengemudikan mobil.


"Tempat kita didatangi Hadi dan Lui semalam!" jawab Ghazan.


"Lui?" tanya Winda kaget.


"Ya, kamu kenal dia!" tanya Ghazan.


"Dia pacar almarhum kakakku Leo adiknya bu Marisa yang kita culik!" jawab Winda panik.


Ghazan juga panik mendengar cerita Winda yang berarti mereka datang membebaskan Winda dan Masturi.


"Tanya mereka! Apakah bu Marisa dan Masturi masih disana!" seru Winda.


"Halo, bagaimana dengan dua tawanan itu!" tanya Ghazan.


"Kami semua tidak mampu menghadapi mereka!" jawab Oleng.


"Itu artinya mereka berdua berhasil dibawa pergi!" tanya Ghazan was-was.


"Bodoh! Kalian semua goblok!" teriak Ghazan marah.


"Kami semua sudah berusaha melawannya sampai kami semua babak belur dan kaki tangan kami semua patah!" jawab Oleng.


"Dasar pecundang! melawan dua orang saja kalian tidak mampu!" teriak Ghazan tambah murka.


Belum habis rasa marahnya, Ghazan dikejutkan dengan dua mobil menyerempetnya dari belakang.


"Bangsat!" teriak Ghazan kepada mobil yang nyerempetnya.


Tidak lama kemudian dua mobil meminggirkan mobilnya di jalan tol.


Ghazan langsung menghentikan mobilnya dan turun mengejar mobil yang menyerempetnya.


"Keluar kamu hewan!" teriak Ghazan langsung melampiaskan amarahnya.


"Heh! Kamu yang hewan!" bentak Toni begitu keluar dari mobilnya.


"O? Ternyata kamu! Aku sedang kesal, kamu jangan bercanda!" bentak Ghazan.


"Siapa yang bercanda!" balas bentak Toni lebih keras.


Winda turun mendekati Ghazan dan Toni.


"Jangan sombong kamu Toni! Kalau bicara yang sopan!" kata Winda membela Ghazan.


Anak buah Toni langsung mengepung Winda dan Ghazan.


"Jangan sampai kalian yang menculik kedua orang tuaku!" tuduh Winda melihat gelagat Toni yang mencurigakan.

__ADS_1


Ah, haha. Hahaha....


Toni tertawa mendengar tuduhan Winda. "Kedua orang tuamu diculik!" mata Toni mendelik menatap Winda.


"Katakan dimana kedua orang tuaku kamu sembunyikan!" kata Winda benar-benar curiga.


"Kalau begitu, kemana? kalian lempar mayat pamanku!" tuduh Toni balik.


Mereka langsung saling tuduh yang mendasar, tanpa bukti hanya berdasarkan kecurigaan mereka langsung saling tuduh.


"Tarzan...! Bolang...! Hajar mereka!" perintah Toni tidak peduli.


Semua anak buah Toni serentak menyerang Ghazan dan Winda.


Hyaaat...


Tarzan kota dan Ogang langsung menyerang Ghazan.


Weees...


Satu hantaman tangan kekar Tarzan langsung menyusur kearah kepala Ghazan


Huuut...


Ghazan menarik badannya kebelakang menghindari sambaran tangan Tarzan yang kekar.


Bluuus...!


Tendangan kaki Ogang cepat menyusul menyambar kepala Tarzan lagi.


Eiiit...!


Cepat-cepat tangan Ghazan menepis tendangan Ogang yang tidak terduga.


Plaaaks...!


Suara kaki Ogang yang disepak dengan keras oleh tangan Ghazan.


Ghazan memiliki kesempatan untuk balik balas menyerang.


Hyaaat...


Ghazan mengayunkan tangannya pada kesempatan yang ada. Dan,


Ploook...!


Pipi kanan Ogang kena hantaman keras tangan Ghazan.


Aaagk...


Kepala Ogang meleset memutar miring kekanan.


Ogang mendengus-dengus marah menatap Ghazan. Tanpa pikir panjang Ogang kembali menyerang Ghazan.


Iyaaaat...!


Kembali Ogang mengayunkan tangannya baik yang kiri maupun yang kanan dengan disusul tendangan bertubi-tubi.


Demikian pula dengan Tarzan langsung mempersempit ruang gerak Ghazan.


Ghazan terdesak dengan serangan yang dibangun oleh Tarzan dan Ogang dengan kompak.


💜💜💜💜💜

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2