
Kali ini Restu selamat dari hantaman tangan kanan Barra, ketika Barra hendak menghajarnya, Restu jatuhkan diri ke bawah dan nyusup lewat ************ Barra dan kabur keluar.
Justru yang apes kali ini adalah Barra. Dia menjerit kesakitan karena menghantam dinding tembok yang terbuat dari beton yang kokoh saat Restu menjatuhkan diri ketika dia merasakan punggungnya yang kesakitan.
Barra sudah dua kali menghadapi orang blo'on dalam berkelahi, pertama ketika dia berhadapan dengan Yayan si krempeng anak buahnya Toni.
Namun, sekarang yang di lawan adalah seorang pemuda tampan yang tubuhnya bersih tapi tidak bisa bela diri.
Jari-jari tangan kanan Barra bercucuran darah segar, tangannya terasa kaku karena yang di hantam bukan Restu tapi tembok dinding kokoh yang terbuat dari beton.
Barra marah bukan main, ketika berbalik sudah tidak ada Restu di belakangnya, "Anjing, dia kabur!" guman Barra sambil mengerang kesakitan memegang tangan kanannya. Barra mengejar Restu, tapi dia kehilangan jejak.
Restu sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat Barra berdiri, cuman Restu sekarang telah menemukan jurus dalam menghadapi Barra. Jurus yang di gunakan sekarang jurus kucing-kucingan.
Kali ini rasakan serangan ku! guman Restu dalam hati yang ngumpet di balik meja. Restu menemukan balok besar berukuran kaki pria, dan siap di benturkan ke kepala Barra.
Hiyaaat...., Buuuum💥....,
Kepala Barra kena hantaman kayu balok yang di ayunkan Restu. Barra pun ambruk seketika,
Hahaha,
Sekarang Restu yang tertawa bangga dapat merobohkan penjahat.
🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Ghazan yang di buru oleh tiga kawan Roman, sekarang sudah berada di kota Mataram Lombok. Dia menempati sebuah bangunan di sekitaran daerah Ampenan masih dalam Wilayah kota Mataram.
Ghazan merasa kagum melihat daerah Lombok yang banyak di kunjungi turis dari berbagai negara. Malah banyak turis yang lalu-lalang lewat depan tempat tinggalnya.
"Friends passing by!" (numpang lewat kawan!)" sapa salah seorang turis yang lewat didepan Ghazan yang sedang duduk santai di lobi rumahnya.
"Yo, e happy holidays!" (Yo... e, selamat berlibur!) timbal Ghazan sopan sambil melambaikan tangannya.
Sebagaimana keramah tamahan yang di contohkan penduduk lokal, tidak jarang para turis juga menyesuaikan diri dengan keramah tamahan itu.
Kadang para turis melambaikan tangannya, kadang-kadang tersenyum menyapa Ghazan yang duduk santai di depan tempat tinggalnya.
Kokon keluar dari dalam rumah yang mereka tempati sekarang, Tampaknya dia baru bangun, dia menguam dengan mata masih ngantuk.
"Kon!" sapa Ghazan mengitari suasana rumahnya yang ramai turis lalu lalang.
"Saya memerlukan orang lokal yang bisa dipercaya membantu penyelidikan kita!" ujar Ghazan dengan tatapan tetap kearah para turis yang lalu-lalang.
"Ini adalah kampung halaman saya bos! Kalau soal itu gampang bos!" timbal Kokon.
"Kita tidak usah lama-lama disini! Setelah kita istirahat, dua tiga hari. Kita langsung bergerak!" ucap Ghazan mengingatkan Kokon.
"Siap bos..., Kalau saya okey saja!" jawab Kokon menimpali kesiapannya kepada Ghazan.
Mereka baru saja berada di Lombok dua hari yang lalu. Kokon sudah memilihkan tempat tinggal yang bagus untuk melakukan operasi, dan yang mereka cari tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
__ADS_1
Hari ini Roman tidak keluar kerja. Dia sedang mengunjungi undangan seorang sahabat yang tidak enak ditolak.
Ada pertemuan perguruan tinggi sekolah agama swasta dalam acara pelepasan mahasiswa/mahasiswi atau wisudawan/wisudawati yang akan dilaksanakan tiga hari mendatang.
Di ruang pertemuan sudah hadir dosen mahasiswa/mahasiswi dan panitia serta para undangan lainnya.
Pak Athaya Rahman rektor kampus tersebut membuka acara pertemuan. Dalam pertemuan tersebut salah satunya pembacaan ayat suci Alquran.
Saat acara di mulai dia meminta Roman untuk membacakan ayat suci Alquran dan tausiah serta di akhir acara pembacaan doa juga diminta kepada Roman.
Juniar Mahasiswi kampus tersebut, yang juga termasuk wisudawati tidak percaya apa yang dilihatnya.
Seorang pemuda tampan yang di juluki preman dan bekerja sebagai tukang parkir ternyata bernama Roman. Sekarang sedang menyihirnya dengan lantunan indah suaranya.
Malah seluruh yang hadir dalam pertemuan itu seperti ikut terpesona dengan suaranya. Di samping suara yang indah juga wajah rupawan nya menambah suasana menjadi sempurna.
Dalam hati 💝 Juniar bergumam, aku tidak yakin Roman itu adalah preman, seperti yang di bicarakan banyak orang.
Ah, nanti saja. Kulihat tausiahnya dulu, aku baru berprasangka kalau dia bukan orang biasa, guman Juniar dalam hati
Tapi, aku pernah dengar pak Athaya mengatakan kepada para dosen, ada preman yang memiliki suara indah saat mengalunkan ayat suci Alquran.
Dan, dia menyebut namanya. Namanya Roman, hanya Roman! Ujar Juniar di dalam hatinya.
Juniar terus bicara sendiri, di dalam hatinya, sambil mengagumkan pria tampan yang pernah adiknya Yeni, mempertemukannya sampai dia malu tapi hatinya mau.
__ADS_1
BERSAMBUNG.