
Heru berbisik kepada bapaknya, "Tukang parkirnya ganteng iya pak! Kasihan pak! Dia tidak cocok jadi tukang parkir!" kata Heru sambil berjalan bersama bapaknya masuk kedalam Mall.
"Itulah makanya kamu harus rajin sekolah, tekun belajar, agar tidak seperti tukang parkir itu!" kata pak Herman menasehati putranya.
Roman betul-betul belajar hidup sebagai orang sederhana, mencari nafkah sebagai tukang parkir untuk biaya makan sehari-hari. Banyak yang menawarkan pekerjaan yang lebih baik dari tukang parkir tapi semua di tolaknya.
Orang di sekitar kampungnya tidak tahu kalau ada dompet kecil di kantong celananya selain berisi KTP juga berisi berbagai macam card yang bisa mendatangkan uang beratus-ratus juta.
Hanya saja Roman sengaja hidup sederhana dan benar-benar merasakan bagaimana orang hidup miskin. Mungkin saja kalau tidak pernah ada kejadian yang menimpa hidupnya, maka Roman tidak akan pernah merasakan hidup seperti ini.
Di Jakarta Restu terus membuntuti mobil Ghazan dan Barra dari jarak yang agak jauh, agar tidak di curigai. Tidak lama kemudian Restu menghentikan mobilnya.
Mobil yang dipakai Restu membuntuti Ghazan dan Winda adalah mobil Roman. Restu khawatir mereka mengenali mobil Roman. maka Restu segera memarkirkan mobilnya di tempat yang aman.
Sebelum dia mencari tempat parkir yang aman, dia tetap membuntuti mobil yang dikendarai Ghazan dan Barra. Restu memberi kode pada setiap taksi yang lewat, dengan cara menyalakan lampu mobilnya.
Ternyata Alhamdulillah ada taksi yang berhenti, Restu memberi kode pada taksi agar mengikutinya. Sopir taksi tersebut mengerti kode yang di berikan Restu.
Cepat-cepat Restu memarkirkan mobilnya ditempat yang aman dan berlari naik ke taksi, "Ayo bang ikuti mobil didepan!" pinta Restu.
waeeengg....،
Sopir taksi Langsung tancap gas mengejar mobil yang ditunjuk Restu, "Bang? Kenapa abang membuntuti mereka!" tanya si sopir taksi ingin tahu agar tidak terjebak dalam kejahatan.
"Bapak tidak usah takut! Kita hanya membututi mereka, agar saya tahu dimana kediaman mereka. Setelah itu anta saya kembali ketempat mobil saya tadi!" jawab Restu
"Siapa mereka bang!" tanya sopir taksi.
"Mereka itu buronan polisi!" jawab Restu.
__ADS_1
"Pak ikuti mereka! Jangan takut mobil bapak rusak, saya ganti mahal kalau mobil bapak rusak!" ucap Restu, sambil berharap si sopir mengerti.
"Baik pak saya paham!" jawab sopir itu.
Yweees....,
Sopir taksi melaju dengan cepat mengikuti mobil Ghazan dan Barra. Restu sangat senang dengan pak sopir yang membawa mobilnya dengan laju.
Sepertinya mereka tidak kehilangan jejak, mereka membuntuti Ghazan dan Barra sampai tujuannya di sekitar kawasan Jakarta pusat.
"Pak, saya rasa ini adalah tempat mereka!" kata pak sopir melihat orang yang di buntuti memasuki kediamannya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu tempat tinggal mereka saja!" ucap Restu.
Restu belum mengajak si sopir beranjak dari tempat itu, sebelum dia yakin kalau persembunyian mereka disitu.
Setelah yakin mereka tinggal disitu, maka Restu mengajak pak Sopir meninggalkan tempat itu. Namun mereka tidak sadar ada beberapa mata mengawasi mereka.
"Tunggu...." kata seorang anak buah Ghazan bernama gepeng menyetop mobil mereka yang hendak beranjak pergi.
Restu baru paham sekarang kalau kelompok penjahat ini betul-betul di jaga dan di awasi dengan teratur. Pemimpinnya memiliki tameng perisai yang cukup lengkap sebagai pelindungnya.
Restu menatap pak Sopir. "Pak! Kita cabut aja ya pak?!" pinta pak sopir merasa terancam.
Satu-satunya jalan untuk selamatkan diri dari tempat itu adalah harus kabur menabrak dua orang yang mencegat mereka.
"Tabrak aja, diakan orang jahat!" jawab Restu tak mau ambil pusing.
Tanpa pikir panjang pak Sopir langsung tancap gas,
__ADS_1
Srrrettt....,
"Hey! Bajingan lu!" teriak dua anak buah Ghazan yang menghadang, mereka langsung buang diri untuk menghindari maut yang mengancam nyawanya.
"Anjing! Ayo kejar!" kata gepeng berlari kedalam mobil mengejar taksi yang kabur.
Mobil gepeng tancap gas mengejar taksi yang mencurigakan mereka. Permainan baru dimulai dalam kehidupan Restu di dunia kriminal yang sebelumnya tidak pernah dirasakan.
"Antar aku ke mobilku, kalau ada apa-apa nih kartu namaku!" kata Restu menyodorkan kartu namanya.
"Baik pak! Terimakasih!" timbal si sopir taksi
"Namamu siapa?!" tanya Restu.
"Namaku Wawan! semua sopir online mengenalku!" kata Wawan.
Kejar mengejar antara taksi Wawan dengan mobil Gepeng berlangsung seru. Saking tingginya laju mobil Gepeng mengendarai mobilnya, Gepeng tidak menyadari handphonenya terlempar keluar dari kantong bajunya.
Wawan hebat juga mengendarai mobil, dia tidak takut kecelakaan atau kerusakan yang akan menimpa mobilnya, karena penumpangnya ini sudah berjanji akan bertanggung jawab.
Wawan tidak mau ambil resiko kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka sebelum menjalankan apa yang akan di jalankan dia telah merekam dan memvidiokan apa yang di kerjakan secara diam-diam.
Tinggal beberapa meter dari tempat mobil yang diparkir. Wawan melakukan trik untuk mengelabui mobil yang mengejarnya.
Wawan memandang Restu. "Pak saya akan melakukan sesuatu dan begitu saya ngerem langsung keluar!" kata Wawan memberitahu Restu.
"Siap!" timbal Restu.
Segala gerak-gerik Ghazan ada mata-mata yang mengawasi dan melindunginya, Mata-matanya ada dimana-mana dan dia adalah penjahat kelas dunia.
__ADS_1
Karena kehebatannya sampai dia aman bertengger di ranting pohon Indonesia.
BERSAMBUNG.