PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE EMPAT PULUH TIGA: BERDUKA BAG II.


__ADS_3

Pak Imran tidak jadi membuka pintu rumah, dia menyuruh Nilam yang membuka pintu.


Tok tok tok ...,


"Assalamualaikum...,"


Kembali ketukan dan ucapan salam terdengar dari luar.


"Wa alaikumsalam!" jawab Nilam dari dalam. Nilam membuka pintu dan mendapatkan pak rt dan dua orang polisi berpakaian dinas.


"Bapak dan ibumu ada di rumah!" tanya pak RT.


"Ada pak!" jawab Nilam.


"masuk pak!" suruh Nilam mempersilahkan ketiga tamu itu masuk.


Perasaan pak Imran dan ibu Sri semakin kacau melihat kedatangan ketiga tamunya itu. Wajah mereka pucat, mereka menduga pasti ketiga tamunya akan menyampaikan sesuatu hal yang buruk tentang putrinya.


"Selamat siang pak!" sapa salah seorang polisi yang bernama Serka Anton.


"Siang!" jawab pak Imran memandang polisi tambah curiga dengan perasaan tidak karuan.

__ADS_1


"Sebelumnya kami minta maaf iya pak! Bu..., apa benar putri bapak dan ibu bernama Morrin Arsela binti Imran?" tanya Serka Soya.


"Benar pak! Putri saya yang bernama Morrin Arsela!" jawab pak Imran.


"Yang ini ya..., Putri bapak!" tunjuk Serka Soya memperlihatkan wajah seorang wanita yang terbungkus kaku dalam kantung jenazah pada hand phonenya.


Bibir dan wajah pak Imran langsung berubah pucat, diam tidak berkata melihat Wajah wanita itu. Wajah wanita itu pucat, kaku sedikit berbeda tapi mirip morrin.


Antara yakin dan tidak yakin pak Imran terus memperhatikan wajah wanita yang ada dalam hand phone milik Serka Soya. Pak Imran berpikir wajah Morrin berbeda karena morrin sudah di masukan kedalam pendingin mayat.


Beberapa menit kemudian pak Imran pingsan tak kuasa menahan keterkejutannya melihat wanita yang diduga putrinya sudah terbungkus kaku dalam kantong jenazah.


Tak lama kemudian Nadira dan Hadi datang tanpa di temani Roman. Nadira langsung memeluk Nilam dan Hakim.


"Sabar iya sayang...," ucap Nadira menitikkan air matanya merangkul Nilam dan Hakim. Nadira betul-betul hancur hatinya, karena Roman pasti sangat kehilangan.


Sementara tangan Hadi gemetar mengangkat pak Imran dan ibu Sri bersama pak RT dan kedua polisi itu masuk kedalam kamar.


Suasana sedih menyelimuti keluarga pak Imran dengan tewasnya putri mereka.


Di pantai pasir putih, seorang pemuda tampan berdiri mematung ditepi laut, yang anginnya sepoi-sepoi menerpa tubuh kekarnya.

__ADS_1


Kita hidup di dunia ini hanya sementara kasihku. Hidup di sana jauh lebih indah..., selamat jalan sayang..., tidurlah dengan tenang dan tunggulah kado pemberian sepanjang hidupku yakni doa yang tiada putus.


Butiran bening menetes perlahan membasahi wajah tampannya menatap awan dan langit biru yang mengiringi kepergian morrin, dengan gaun panjang menembus dasar laut pasir putih, terbang melayang melambaikan tangan.


Butiran-butiran bening itu terus menetes perlahan, mengaliri pipi putih dari dua bola mata indah miliknya. Yang memandang hampa hamparan luas samudera, gelombang laut pantai pasir putih kapuk Jakarta Utara.


Di bawah teriknya sinar matahari, Roman menghentikan ayunan langkahnya. Dia menoleh mengitari tempatnya berdiri. Mencari tempat bernaung untuk menulis pesan kecewa pada ibunya.


Mata Roman melihat sebuah bangunan besar, di ayunkan lagi langkah kakinya dengan tenang dan santai menghampiri bangunan tersebut.


Roman menyandarkan tubuhnya pada pagar tembok yang tersusun dari batu marmer. Dirogohnya kantong celananya meraih hand phone miliknya lalu menulis.


Air mata ini untuk Morrin yang telah pergi meninggalkanku selamanya, bukan untuk mama yang telah melahirkan ku. Tapi..., membunuhku kembali secara perlahan.


Dariku hamba Allah yang tak terurus


Roman.


Tulisan itu langsung di kirim kepada Marisa mamanya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2