
Ghazan dan Winda kini berbalik panik sangat luar biasa mendengar kabar kedua orang tuanya diculik orang tidak dikenal.
Didalam perjalanan Winda tidak berhenti menangis memikir ibu bapaknya, dia terus gundah. Padahal kejahatannya melebihi apa yang diterima hari ini.
"Kira-kira dugaanmu siapa yang menculik bapak dan ibumu!" tanya Ghazan mulai mencoba menelusuri siapa dibalik penculikan kedua orang tua Winda.
"Musuh kita cuman kelompok Roman dan kemungkinan besar juga Toni!" jawab Winda sendu.
"Si Toni itu tidak bisa move on dari Morrin padahal Morrin menolak cintanya mentah-mentah!" keluh Ghazan tampak jengkel.
"Menurutku Roman tidak mungkin menculik bapak dan ibu sebab dia jiwa sosialnya sangat tinggi!" ucap Winda.
"Kita pulang dulu melihat suasana baru kita samperin Toni!" ucap Ghazan geram.
Sedang anak buahnya yang ditinggal pergi kembali tidur setelah kepergiannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan Hadi dan Lui menyusup masuk.
Hadi mendapatkan Masturi sangat memperihatinkan. Dia tampak lemah dengan tubuh disana sini terdapat luka dan lebam bekas penyiksaan.
Hadi segera mengangkat tubuh masturi keluar dengan cara membopong tubuhnya. Sementara bu Marisa terlihat sehat-sehat saja. Namun dia masih tidak ingat siapa-siapa.
Lui segera membangunkan kakaknya dengan perlahan. "Kak, Bangun!" ucap Lui membangunkan kakaknya perlahan.
Tidak lama kemudian bu Marisa membuka matanya perlahan, "Kamu siapa? Kok ada juga disini!" tanya bu Marisa menyapa Lui.
Lui tidak tahu kakaknya lupa ingatan, dia berpikir kakaknya masih mengantuk sehingga belum mengenalnya.
Padahal dia mendengar pak Devan pimpinan rumah sakit yang pernah didatangi bersama Hadi dan Restu untuk mengetahui kebenaran tentang kakaknya yang diculik.
Lui lupa kalau kakaknya lupa ingatan. "Kak! Ini Lui, adik kakak!" kata Lui kepada bu Marisa.
"Kamu adik aku? Aku punya adik?" tanya bu Marisa pada dirinya sendiri.
Lui tidak mau berlama-lama, dia takut anak buah Ghazan bangun, "Kak! kita keluar ayo!" pinta Lui mengajak bu Marisa.
Diluar Hadi berjalan cepat menggendong Masturi menuju tempat mobil yang diparkir.
Hadi kembali menuju tempat bu Marisa setelah Masturi dibaringkan dalam mobil. Aduh, kenapa Lui lama banget mengajak bu Marisa keluar!, ucap Hadi dalam hati.
Didalam bu Marisa tidak bisa diajak bicara secara perlahan. "Masturi mana?" tanya bu Marisa mengagetkan pak Aini dan pak Ridwan yang bertugas menjaganya diluar.
Pak Aini menengok kedalam kamar bu Marisa. Pak Aini terkejut melihat ada perempuan lain bersama bu Marisa.
"Hai, siapa kamu!" tegur pak Aini.
Pak Aini bukannya mendapat jawaban melainkan mendapat pukulan.
Plaks...!
Satu hantaman lurus mengenai muka pak Aini.
Bueees....!
Pak Aini terpeleset merasakan ada benda keras dimukanya hingga dia terjerembat mengenai tubuh pak Ridwan yang tertidur pulas.
Betapa terkejutnya pak Ridwan merasakan ada tubuh orang menubruknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya pak Ridwan kepada pak Aini yang tiba-tiba terjerembab jatuh mengenai tubuhnya.
"Didalam ada penyusup masuk!" kata pak Aini meringis kesakitan.
Mereka yang diluar tak ada yang berani masuk, takut kena hajar seperti pak Aini.
Dari luar Hadi mendengar ada keributan didalam, dengan cepat dia masuk dan menghajar anak buah pak Ghazan.
Blueeem...!
Satu tendangan menghempaskan kokon yang berdiri masih mengantuk.
"Lagi-lagi kamu datang mengganggu kami!" tunjuk Barra geram.
"Aku tidak mungkin datang kesini mengganggu kalian, kalau kalian tidak mengganggu ketenangan kami terlebih dahulu!" balas Hadi menunjuk Barra.
"Kawan-kawan tidak ada gunanya kita berdebat dengan si tampan ini, mari kita robek-robek wajahnya biar hancur!, sikat...!" kata Barra menyerang Hadi.
Didalam Lui masih mengingatkan! kakaknya, "Kak, ini tempat orang-orang jahat. Mari kita tinggalkan tempat ini." kata Lui membujuk bu Marisa menenteng tangannya.
Dengan hati-hati Lui mengeluarkan kepalanya melihat pertarungan Hadi yang dikeroyok anak buah Ghazan.
Lui mendobrak Gepeng dan Kokon yang mencoba menghalanginya.
Duuugs...
Perut Kokon terkena dorongan kaki Lui dan terhempas kedinding.
Paaaks....!
Sekarang Lui sudah berhasil menguasai pintu tempat keluar. Tetapi, dia harus hati-hati menenteng bu Marisa.
Diluar Oleng tanpa dilihat oleh anak buah Ghazan menyambut tangan bu Marisa.
Lui membantu Hadi menghajar anak buah Ghazan dengan tetap berdiri dipintu menghalangi anak buah Ghazan untuk melindungi Oleng yang membawa bu Marisa.
Zalu mencoba menerobos Lui dengan satu hantaman kearah lambung Lui.
Weees...
Satu hantaman tangan kiri Zalu mengarah kelambung Lui.
Paaaks...
Tangan kanan Lui menangkis hantaman tangan kiri Zalu.
Bruuugs...!
Lutut kiri Lui menghajar lambung Zalu.
Aaaghk...
Zalu berteriak kesakitan merasakan lambungnya terkena lutut kiri Lui.
Lui berpikir Oleng pasti sudah membawa bu Marisa masuk kedalam mobil. Dia terus menghalangi seluruh anak buah Ghazan yang mau keluar.
__ADS_1
Perkelahian terus berlanjut hingga menjelang subuh.
...----------------...
Sebelum terdengar suara ayat-ayat suci mengalun indah dimasjid Roman dan Nadira bangun bersamaan. Entah mengapa Roman merasa ingin sholat dimasjid.
"Kamu tahu masjid disini dimana?" tanya Roman kepada Nadira.
"Dekat gerbang tol ada!" jawab Nadira.
"Kita ke masjid yok!" tawar Roman.
"Boleh? Yok!" jawab Nadira.
Roman dan Nadira pergi ke masjid setelah memperingati pak Saipul dan pak Mansur agar menjaga pak Sumarto dan bu Adelia.
Saat melewati tempat Hadi dan Lui sedang bertarung. Roman dan Nadira melihat Oleng sedang membawa seorang wanita menuju mobil.
"Sebentar kak! kayaknya itu ibu," ucap Nadira.
Roman dan Nadira langsung menghentikan mobilnya dan turun mengejar Oleng. "Hey, tunggu!" teriak Roman.
"Non Nadira!" tegur Oleng.
"Mamaku, mau kamu bawa kemana!" kata Roman.
"Lui dan Hadi sedang bertarung melawan anak buah Ghazan dan aku disuruh membawa bu Marisa ke mobil. Sedang Masturi sakit! kata Oleng.
"Masturi dimana?" tanya Nadira.
"Didalam mobil!" jawab Oleng.
Roman dan Nadira berlari menghampiri mobil yang terparkir ditempat yang aman.
🔥🔥🔥
Menjelang subuh Ghazan dan Winda sudah sampai dikediaman kedua orang tuanya.
Satu kilo sebelum kekediaman orang tua Winda Ghazan turun dijalan karena takut dikenal polisi kalau dia buronan di negaranya Pakistan dan FBI Amerika.
Winda langsung disambut asiten kedua orang tuanya Zulaikha dan beberapa tetangga disana.
"Polisi baru saja pergi!" kata bu Leni tetangganya.
"Gimana polisi tahu ada penculikan!" tanya Winda.
"Bapaknya Rina yang hubungi polisi langsung begitu mendengar Zulakha teriak!" jawab bu Leni kalau suaminya yang melapor kepolisi.
"Ibu-ibu dan bapak-bapak semuanya. Dirumah saya tidak ada penculikan maafkan Zulaikha, ini salah paham!" kata Winda membuat semua tetangga terkejut.
"Bapak dan ibuku sudah ku antar kebandara Halim, Dia pergi ke medan menjenguk kakek dan nenekku!" lanjut Winda.
Para tetangga kemudian pulang dengan menggerutu kesal atas kebodohan Zulaikha yang membuat panik mereka disaat tengah malam sedang nyenyak tidur.
💜💜💜💜💜
__ADS_1
BERSAMBUNG.