
Tidak mau gagal lagi menikah untuk yang kedua kalinya dan tak mau mengumumkan hari pernikahannya, termasuk memberitahu sang kekasih.
Kegagalan itu sangat membuatnya kecewa. Namun ada kekhawatiran mengganggu pikirannya.
Mungkinkah pernikahannya yang tidak dibicarakan dulu dengan pasangannya bisa diterima?
Bagaimana kalau sang kekasih menolaknya, apalagi pernikahan itu besok pagi akan dilangsungkan.
Mau tidak mau Roman harus bisa memastikan kalau pernikahan besok itu berjalan lancar dan diterima oleh sang pujaan.
Roman berjalan dengan perasaan tak karuan membawa baju pengantin Nadira. Diapun merasa gundah bagaimana caranya agar pernikahan besok bisa berjalan.
"Salamu'alaikum!" ucap Roman menyapa Nadira, mamanya dan kedua orang tua Winda yang duduk mengelilingi Masturi yang sedang terbaring.
"Wa'alaikumsalam!" jawab mereka serempak.
"Kamu bawa apa itu?" tanya Nadira.
"Baju pengantin yang bakalan kamu kenakan besok!" jawab Roman.
"Siapa yang menikah?" tanya bu Marisa menatap Roman.
"Kamu?" tatap bu Adelia asal ngomong.
"Bukan!" timbal Nadira. "Yang menikah temannya dan saya ditunjuk sebagai pendampingnya!" lanjut Nadira dengan wajah merah agak tersipu malu mendengar bu Adelia yang bicara nyerocos.
"O...," bu Adelia anggukan kepalanya.
"Kamu kapan nikahnya?!" celetuk bu Marisa memandang Roman.
Roman memandang ibunya sedikit terkejut.
"Tergantung Nadiranya!" timbal Roman gelagapan.
Nadira memandang Roman sedikit gemas. "Kenapa tidak kita saja yang menikah!" tatap Nadira.
"Iya ya, kenapa ya? Tidak saja yang menikah!" keluh Roman garuk kepalanya dan dadaknya panas bergejolak sangat ketakutan.
"Tadi kamu bilang tergantung aku!" tanya Nadira dengan mata tidak berkedip.
Waduh! Apa reaksinya besok kalau yang menikah besok dia, guman Roman dalam hati.
"Kita pasti akan menikah secepatnya!" jawab Roman.
"Janji!" tatap Nadira melotot.
Roman nyengir mengedipkan matanya yang sebelah kiri, membuat Nadira malu-malu dengan wajah memerah.
Masturi bangun dari tidurnya mencoba untuk duduk dengan perlahan.
"Kamu sudah kuat?" tanya bu Adelia yang membantu tubuh masturi bangun.
Masturi anggukan kepalanya dengan tersenyum, "Terimakasih!" ucap Masturi kepada bu Adelia yang membantunya bangun.
Masturi sangat penasaran dan kepingin tahu sampai dia paksakan diri bangun padahal dia masih lemah.
__ADS_1
Seperti magnet menarik hati Masturi melihat Roman dan Nadira tampak bergelora mereka seperti sedang sama-sama saling merindukan, guman Masturi.
"Apa cuman kalian berdua saja yang hadir besok!" tanya bu Marisa.
"Semua ikut!" kata Roman.
"Termasuk kami berdua?" tanya bu Adelia memandang suaminya.
"Ya!" tatap Roman. "Masturipun ikut!" kata Roman.
"Dia kan masih sakit!" ucap Nadira menatap Roman.
"Kalau dia tidak ikut, ntar dia diculik lagi." jelas Roman sambil berlalu keluar.
Sepertinya Nadira paham maksud Roman.
"Maaf! Aku mau duduk diluar!" kata Roman memandang mereka semua.
Roman keluar dan duduk diteras belakang menatap bangunan gudang milik Nadira sambil memikirkan pernikahan yang akan berlangsung besok.
Dibelakangnya Nadira berjalan menghampirinya, "Kamu, kenapa? Seperti orang gelisah!" kata Nadira sambil duduk disamping Roman.
Roman menggeser duduknya lebih dekat ketubuh Nadira. "Ih, dilihat orang!" kata Nadira mencubit paha Roman.
"Ya?, aku gelisah memikirkan kamu!" tatap Roman.
Nadira menatap wajah tampan didepannya. "Kamu gelisah kenapa?" tatap Nadira cemas.
"Gelisah! Sebab semalam aku tidak bisa tidur terbayang wajah cantikmu!" balas Roman tersenyum sambil memejamkan matanya.
"Uwao...,"
Tangan jahil Roman mulai nakal. Padahal dulu dia sangat menjaga dirinya dan takut bahwa itu sangat dilarang oleh agama karena bukan muhrimnya.
Nadira segera berdiri menyambar tangan Roman yang ingin mengganggunya dan membawanya ketempat yang tidak bisa diketahui siapapun.
"Mau bawa aku kemana?" tanya Roman.
"Ketempat yang tidak dilihat orang! Disana kamu bebas melakukannya!" tantang Nadira dengan tatapan mata berbinar-binar.
Nadira memegang erat tangan Roman ketempat yang tidak terlihat orang.
"Disini, kamu boleh melakukan apa saja. Ayo!" tantang Nadira ketika sampai ditempat yang aman dan tak terlihat.
"Dengan tatapan matamu saja, sudah cukup!" kata Roman tertawa kecil mengalihkan pandangannya pada rumput disampingnya.
Nadira menatap gemas Roman, matanya tampak ceria dengan menggenggam telapak tangannya.
"Kamu membuatku kecewa!" bisik Nadira manja, tampak raut mukanya sedikit cemberut.
Jari telunjuk Roman langsung menutup bibir Nadira. "Aku juga sudah tidak tahan! Tetapi kita harus menahannya agar kita tidak dilumuri dosa terus menerus." kata Roman mengerti keinginan Nadira.
"Terus kenapa tadi? Tanganmu nakal!" protes Nadira setelah ditempat yang tidak terlihat orang tangannya tidak berani nakal lagi.
Bukannya mendapat jawaban malahan dipelototi oleh Roman, Nadira tambah dongkol. Saking jengkelnya Nadira meraih leher Roman dengan kedua tangannya dan peduli dengan nasehat Roman.
__ADS_1
Belum sempat memanggut bibir Roman, Nadira merasakan benda keras dikantong jaket dalam Roman.
"Apa ini?" tanya Nadira memegang benda keras didalam jaket Roman.
Roman meraih dua buah hp yang ada dalam kantongnya.
"Hp!" jawab Roman singkat.
"Itu kan hpku? Kapan kamu ambil dari Winda!" tatap Nadira terbelalak.
...----------------...
Mari kita tinggalkan Nadira dan Roman menuju keluarga Toni, dimana ibu Astri masih panik dan tidak terima adiknya Pejas tidak tahu keberadaannya.
Dendam bergejolak dalam dada bu Astri setelah tahu kalau adiknya pernah bertarung dengan Roman dan dikalahkan.
Pak Sofian yang takut pada bu Astri istrinya berusaha meyakinkan istrinya kalau dia telah memiliki rencana untuk membalas dendam kekalahan Pejas.
"Aku bersumpah atas nama keluargaku, hatiku tak akan tenang sebelum aku belum membalas kekalahan adikmu pejas!" kata pak Sofian.
"Dulu Toni dibuat babak belur oleh Roman sekarang adikku entah dimana kita tidak tahu!" kata bu Astri.
"Aku telah kirim orang untuk cari tahu keberadaan Adikmu," kata pak Sofian.
"Kalau Pejas tidak ditemui, apa rencanamu?" tanya bu Astri kepada suaminya.
"Kita datangi Roman!" jawab pak Sofian.
"Roman sampai sekarang tak diketahui keberadaannya!" timbal bu Astri.
"Dari mana kamu tahu cerita itu!" toleh pak Sofian pada bu Astri.
"Dari Toni!" jawab bu Astri
"Toni...!" tanya pak Sofian menaikan dua alisnya.
"Ya! Sudah lama Toni menceritakan aku. Bu Marisa menghilang dari rumahnya dan Roman pergi mencarinya dan sampai sekarang keduanya tak ada yang tahu dimana keberadaan mereka. Sampai kita mendengar kabar Pejas ditantang duel oleh Roman!" kata bu Astri.
"Apakah Roman menuduh Pejas menculik ibunya?" tanya pak Sofian.
"Tidak!, kabar yang kutahu Pejas membantu sipenculik menculik ibunya!" jawab bu Astri.
"Besar kemungkinan Roman menuduh Pejas yang menculik ibuya!" kata pak Sofian.
Percakapan mereka terhenti setelah pak Sofian dan bu Astri mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya.
"Putramu datang!" kata pak Sofian kepada istrinya.
"Mudah-mudahan ada kabar tentang Pejas!" kata bu Astri.
Toni masuk dan dilihatnya kedua orang tuanya memandangnya dengan serius.
"Kamu ada kabar tentang pamanmu!" tanya bu Astri.
Toni tidak menjawab pertanyaan mamanya, melaikan dia duduk dishofa sambil bersandar.
__ADS_1
💟💟💟💟💟
Bersambung.