
Disaat dia terpojok. Maka,
Bluuum...!
Lutut kanan Tarzan menghajar perut Ghazan disusul kibasan kiri dan kanan tangan Ogang.
Blugk...!
Pruuuzs...!
Ghazan terduduk menahan sakit, Toni tiba-tiba saja sudah berdiri didepannya.
"Kamu harus kembalikan pamanku Pejas, hidup atau mati!" kata Toni dengan mata tajam melotot.
Ghazan berusaha bangun berdiri sambil memegang dada dan perutnya.
Sementara itu tidak jauh darinya, Winda yang dikepung Toto dan Bolang bersama teman-temannya meladeni serangan mereka dengan kesal.
"Cecunguk-cecunguk tidak berguna! Hiyaaat...!"
Winda menendang bawah atas kiri dan kanan membidik sasarannya.
Puuuueees!
Satu tendangan Winda menyambar wajah Toto.
Zruuuugs...
kembali dua kali tendangan menjungkalkan teman-teman Toto dan Bolang.
Pada saat Winda asik menghajar teman-temannya, Toto melihat peluang untuk melepaskan tangan kanannya,
Blaaam!
Tangan kanan Bolang bersarang telak menghantam wajah Winda.
Aaaaa...
Tubuh Winda terhuyung kebelakang beberapa meter.
Kesempatan untuk menghabisi Ghazan dan Toni tidak menunggu waktu lama.
Ketika Toto, Bolang dan teman-temannya akan menghajar Winda, Toni teriak memanggil mereka.
"Polisi datang...!" teriak Toni.
Tarzan kota Ogang segera berlari naik mobil.
"Hey, hentikan. Polisi datang! Ayo kita kabur!" kata Yayan menyetop Toto Bolang dan teman-temannya yang mau menghajar Winda.
Yayan dan teman-temannya segera berebutan naik mobil dan kabur.
Tuuulit tuuulit tuuulit
Dua mobil polisi melintas mengawal pejabat penting lewat ditempat mereka bertarung.
Setelah rombongan pejabat pergi yang dikawal dua mobil polisi, Ghazan muncul dari persembunyiannya melangkah menghampiri Winda.
__ADS_1
Setiap melihat polisi Ghazan pasti menjauh dengan segala cara untuk menghindar dari pertemuan dengan polisi.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan!" kata Ghazan mengulurkan tangannya.
"Kamu baik-baik saja!" kata Winda menyambut tangan Ghazan.
"Tidak apa-apa! Dalam setiap perkelahian kita memang harus seperti ini, musti ada yang terluka!" kata Ghazan sambil berjalan menuju mobil mereka dengan bergandengan tangan.
"Kata Toni, pamannya pejas menghilang karena kita!" ucap Ghazan sambil mengemudikan mobil.
"Pejas adalah orang yang kusuruh menculik hp Nadira dan mengempeskan ban mobilnya!" tutur Winda dengan napas turun naik.
"Ya, kudengar dia ditantang bertarung oleh roman dan kabarnya Pejas tumbang!" kata Ghazan.
Hari ini Ghazan dan Winda merasakan hari buruk baginya. Mereka kehilangan bu Marisa dan Masturi yang diculik dengan susah payah.
Lalu hari ini mereka dihajar habis-habisan oleh anak buah Toni.
"Lain waktu kita balas dan aniaya si Toni itu!" ucap Ghazan geram.
"Ya, dia seringkali mengusik kita. Awas akan kuremukan kepalanya!" timbal Winda sangat marah sekali.
"Bagaimana kalau kita cari kafe dulu baru kita pulang!" tawar Ghazan mendinginkan suasana hati mereka yang panas.
"Tawaran spesial!" sambut Winda senang karena perutnya juga mulai protes.
Ghazan dan Winda mampir disebuah kafe untuk sarapan walau sepertinya sudah terlambat karena hari sudah mendekati siang.
Ghazan dan Winda tidak menyadari ada yang memandangnya dari jauh dengan wajah kesal ingin menghardiknya, tapi ditahan oleh temannya. mereka tidak lain Lui dan Hadi yang kebetulan juga sarapan dikafe yang sama.
Sorot mata Lui sinis dan tajam memandang kearah Ghazan dan Winda. Lui ingin sekali mencaci maki Winda habis-habisan karena menculik kakaknya Marisa tanpa alasan yang jelas.
"Aku muak melihat wajah Winda," kata Lui ketus.
...----------------...
Pada jam yang sama tampak Roman mengawasi kediaman Ghazan dan Winda. Tak ada tanda-tanda mereka berdua muncul padahal sudah hampir satu jam lebih, dia sabar menunggu kemunculannya.
Roman betul-betul ingin menuntaskan permasalahannya dengan ibunya yang dituduh menjadi penyebab kematian kakaknya.
Sekalian memberi pelajaran pada dua manusia ini yang sudah diluar batas kejahatannya. Roman sudah terlalu sabar untuk membiarkannya berbuat semaunya kepada keluarganya.
Demikian pula halnya dengan Lui yang tak tahan ingin mencaci maki Winda. Apalagi orang yang paling dicari ada dihadapannya.
Ketika mereka selesai makan dan sudah keluar Lui langsung mencegatnya sekalipun Hadi mencoba mengingatkan Lui agar tidak membuat keributan disini karena tidak ada artinya, ujung-ujungnya akan diamankan security.
Winda terkejut dihadang Lui saat turun dari depan lobi kafe.
"Lui? Kemana saja kamu hari ini! Lama tidak melihatmu?!" tatap Winda kaget tumben melihat mantan pacar kakaknya.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana dan baru ketemu sekarang, ternyata kamu memang belut yang sangat licin!" ucap Lui sinis tajam seperti duri.
Winda menutupi terkejutnya yang dihardik Lui,
"Hihihi..., bukannya kamu membenci kakakmu, yang tidak merestuimu dengan kakakku. Sampai dia tewas dalam kecelakaan pesawat karena kecewa!" kata Winda malah tertawa melihat Lui yang memandangnya dengan tatapan mata benci.
"O...? Kamu sudah move on!" lanjut Winda, membuat darah Lui mendidih panas.
__ADS_1
"Untung saja kamu tidak jadi adik iparku, karena ternyata kamu psikopat, kejam dan tidak punya malu!" bisik Lui didepan mukanya Winda.
"Kamu tidak merasakan sakitnya kehilangan kakak!!" balas Winda.
"Dasar pembual! Tidak pantas kamu melimpahkannya kepadaku, dengan menculik kakakku, agar aku merasakan apa yang kamu rasakan." tatap Lui makin melotot.
"Rasa sakit hatimu, itulah rasa sakit hatiku!" timbal Winda.
"Penipu!"
Bluughk...!
Lui langsung melayangkan satu tendangan kearah perut Winda, dan Winda tidak menyangka Lui akan menghajarnya. Karena Lui dulu sangat menyayangnya.
Uuugk...!
Winda terdorong kebelakang dan secepat kilat Ghazan menggagalkan serangan Lui selanjutnya dengan menepis satu tendangan yang menyusul kearah Winda.
Plaks...!
Lui tidak berhenti menghentikan serangannya, dia benar-benar mengamuk.
Weeesss...
Kembali satu tendangan dilepaskan kearah wajah Ghazan.
Ghazan terpaksa bertarung lagi, walau sebenarnya dia masih merasakan rasa sakit ditubuhnya, akibat serangan anak buah Toni.
Ghazan mencoba meladeni serangan Lui yang berbahaya dengan terpakasa dengan sisa-sisa tenaganya yang lemah walau dia sudah mengisi perutnya.
Tetap saja dia lemah, karena perempuan yang dihadapi ini juga memiliki kemampuan bela diri yang sama dengan Roman.
Peeeesss...
Satu tendangan memutar dari kaki kiri Winda menyambar wajah Ghazan.
Braaagk...!
Tubuh Ghazan terpental menabrak Tubuh Hadi yang hendak juga membantu Lui menghajar Ghazan.
Aauugh...!
Ghazan menggeliat menahan rasa sakit, bukan sakit karena wajahnya yang dihantam Lui, tapi juga tubuhnya yang lain akibat serangan anak buah Toni.
Dua satpam kafe tiba-tiba muncul meleraikan perkelahian.
"Hey, kalian jangan ribut disini! Ini bukan tempat orang berantem! Bubar! Bubar!" teriak kedua satpam memisahkan mereka.
Satpam yang satu mendorong Lui pergi dan Satpam yang satunya lagi membangunkan Ghazan.
"Udah! Kalian pada pergi sana!" usir satpam kepada Lui, Winda dan Ghazan.
Hadi menarik tangan Lui, "Ingat!Aku telah memporak porandakan tempatmu bersama Hadi untuk menyelamatkan kakakku!" tunjuk Lui penuh amarah.
Hadi dan Lui pergi meninggalkan kafe dengan lega karena telah memperingati Winda dan Ghazan.
Winda dan Ghazan jalan tertatih-tatih menghampirinya mobilnya dan mereka tidak tahu disana masih ada Roman juga sudah menunggu.
__ADS_1
💜💜💜💜💜
BERSAMBUNG.