PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE DUA PULUH TUJUH: JANGAN TINGGALKAN AKU IBU.


__ADS_3

Malam ini malam kelabu bagi Roman. Mamanya mengancam akan meninggalkannya ke China. Ke negeri leluhurnya walau dia sendiri lahir dan di besarkan di Nusantara ini.


Ancaman ini bukan sebuah gertakan, Pamannya yang ada di negeri panda tersebut memberi peringatan kepada Roman, agar tidak mengecewakan adiknya (Marisa).


Sesuai permintaan Marisa. Dia rela kehilangan suami dan anak dari pada melihat seorang wanita yang tidak disukai tetap bersama anaknya.


Itulah satu-satunya jalan untuk tidak melihat wajah Morrin yang hidup berdampingan dengan Roman adalah dengan pergi sejauh-jauhnya.


Memang dilema bagi Roman. Sebagai anak dia tidak rela mamanya tinggal di negeri panda itu. Karena banyak sekali perbedaan cara hidup antara negeri panda dengan negeri Nusantara ini.


Seluruh keluarga mamanya hidup tidak percaya dengan adanya Tuhan. Mereka semuanya atheis, inilah yang menjadi pikiran Roman.


"Mama terlalu egois, tidak memikirkan aku!" kata Roman duduk bersandar pada sopa di ruangan tengah lantai pertama.


"Kamu yang egois, tidak mau mendengarkan mama!" bentak Marisa menatap Roman.


"Mama mengekang kehidupan ku dengan mementingkan keinginan mama sendiri!" bantah Roman tetap dengan nada datar.

__ADS_1


"Itu ku lakukan untuk kelangsungan hidup masa depanmu?!" timbal Bu Marisa menasehati Roman.


"Termasuk dengan menjodohkan aku dengan Winda perempuan****** yang mama belum tahu kalau dia perempuan tidak baik!" jawab Roman melontarkan kata-kata sedikit tidak sopan.


"Hey..., jangan ngomong seperti itu. Aku tidak suka kamu berkata seperti itu!" cegah Marisa menasehati Roman.


"Memang kenyataannya seperti itu ma..., aku sudah tahu siapa Winda itu! kata Roman pada ibunya dengan serius.


Marisa menatap putranya dengan tajam, hatinya heran, dari mana Roman tahu Winda wanita tidak baik. Dan dia sendiri hanya tahu Winda adalah perempuan baik-baik.


Marisa sendiri yakin putranya akan berkata yang sebenarnya. Dan Roman tidak pernah satu kali pun berdusta.


"Baik, akan ku tunjukkan buktinya!" jawab Roman dengan tenang mengeluarkan flash disk dari dalam kantungnya.


Lalu flash disk itu di sambungkan ke layar televisi yang ada di depan mamanya. "Nah, mama mengenal laki-laki ini?" tunjuk Roman pada mamanya.


"Tidak!" timbal mamanya singkat.

__ADS_1


"Namanya Ghazan, bukan orang Indonesia. Dia datang ke Indonesia sebagai buronan FBI dan kepolisian Indonesia. Dia adalah penjahat berbahaya!" kata Roman menerangkan Ibunya.


"Lalu apa hubungannya dengan Winda!" tanya Marisa.


"Tunggu sebentar ma, mama lihat saja rekaman ini!" pinta Roman menunjukan rekaman flash disk berikutnya.


"Lihatlah ma..., siapa perempuan yang terluka parah yang di bawa Ghaza!" tunjuk Roman pada sosok wanita yang terluka parah di papah ke dalam mobil.


"Biar mama tahu Ghazan adalah pacarnya. Winda telah melakukan kejahatan bersama dengan pacarnya, ingin membunuh seorang wanita!" lanjut Roman menceritakan ibunya.


"Aku tidak percaya. Bisa saja itu sebuah rekayasa agar kamu tidak menyukai Winda!" bantah Marisa.


"Rekayasa apa ma..., aku sendiri yang merekam kejadiannya!" jawab Roman memandang ibunya.


"Ma..., jodoh, umur dan rezeki Allah yang menentukannya. Jadi mama tidak boleh menentukan sendiri pilihan mama. Biarkan aku yang memilih sendiri sesuai dengan ketentuan hatiku!" lanjut Roman membujuk ibunya.


"Didalam Al Qur'an surat AN Nur ayat tiga puluh dua mengatakan, nikahilah orang-orang yang masih sendiri, di antara kalian. Baik yang sudah merdeka ataupun yang masih budak. Lebih-lebih yang pakir!" ucap Roman menjelaskan ibunya.

__ADS_1


Marisa terdiam menghela napas panjang. Apalagi dia tahu putranya memiliki ilmu agama yang dalam.


BERSAMBUNG.


__ADS_2