PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT

PREMAN JALANAN PUTRA KONGLOMERAT
EPISODE KE LIMA PULUH EMPAT: PULANG KAMPUNG.


__ADS_3

"Roman..., sebelum nyawaku terpisah dengan ragaku. Aku ikhlas menerimanya. Tapi, mohon maafkanlah aku dan almarhumah istriku!" kata Bisri lemah.


"Pak Bisri, kehilangan orang yang sangat kucintai sangatlah menyakitkan. Tapi bukan berarti aku harus membencimu. Aku sudah memaafkan mu dan almarhumah istrimu serta semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Morrin. Agama mengajarkanku seperti itu dan kewajibanku untuk menjalankannya!" kata Roman menjelaskan pak Bisri panjang lebar, kalau di hatinya tak ada dendam.


"Nyawamu dalam ancaman Ghazan dan Winda, berarti Jakarta ini bukan tempat tinggal mu. Karena disini kamu terancam!" lanjut Roman menasehati pak Bisri.


"Aku mau kembali ke kampungku, tapi aku tidak punya apa-apa!" ucap pak Bisri terus terang atas dirinya yang tidak punya biaya pulang.


"Sekarang, malam ini juga aku akan antar kamu ke bandara. Dimana kampung mu?" tanya Roman menawarkan bantuan.


"Aku berasal dari lombok!" jawab pak Bisri memberitahu Roman kampung halamannya.


"Baik, kamu siap-siap pulang sekarang. Dan ingat tidak ada yang boleh tahu kepulanganmu, kecuali kita berdua!" pinta Roman.


Pak Bisri seperti salah dengar atas tawaran bantuan Roman yang akan mengantarnya pulang malam ini. Rasanya agak aneh juga dihatinya yang begitu cepat akan pulang malam ini juga.


"Satu lagi permintaanku, ganti nomor hand phone mu agar tidak ada yang tahu keberadaan mu!" pinta Roman selanjutnya.

__ADS_1


Malam ini Roman langsung mengantar pak Bisri menuju bandara. Setelah cek in ternyata tak ada pesawat langsung ke Lombok. Pesawat hanya ada dengan tujuan Surabaya.


Pak Bisri melihat Roman memesan dua tiket. Menjadi tanda tanya didalam hatinya, mungkinkah ada orang lain yang akan menemaninya pulang?


"Roman pesan dua tiket yang satunya untuk siapa?" tanya pak Bisri ingin tahu.


"Yang satunya untuk saya!" jawab Roman.


"Terus mobil itu?" tunjuk pak Bisri.


Pak Bisri tidak tahu siapa sesungguhnya Roman sekalipun dia pernah dengar dari pembicaraan Ghazan dan Winda Bosnya kalau Roman orang kaya.


Namun dilihat dari penampilannya Roman biasa-biasa saja tidak seperti orang kaya lainnya. Cara bergaulnya pun tidak berlebihan. Buktinya bagaimana Roman memperlakukannya layaknya antara anak dan bapaknya.


Berbeda dengan Ghazan dan Winda yang perintah ini dan itu. Dan Kerja merekapun merampok dan mengambil hak orang lain.


Sampai sekarang pak Bisri bingung kenapa Roman ikut kelombok! Dalam hati pak Bisri menduga, kalau Roman ke Lombok hanya untuk melupakan morrin

__ADS_1


Dan sekarangpun mereka terbang menuju Lombok berdua, dengan transit surabaya hanya dengan menggunakan pakaian yang melekat di badan. Tapi di Surabaya, Roman mengajak pak Bisri belanja pakaian dan bermacam oleh-oleh.


Di bandara Juanda Roman mengajak pak Bisri naik taksi, "Ini kan Surabaya? Kita hendak kemana?" tanya pak Bisri.


"Kamu pernah di Surabaya?" tanya balik Roman tidak menjawab pertanyaan pak Bisri.


"Hampir semua kota Surabaya aku tahu!" jawab pak Bisri.


"Kalau begitu kamu tahu dong restoran atau warung penjual makanan yang enak di sini!" tanya Roman sambil terus berjalan dan ada taksi menghampiri mereka.


"Di sini banyak yang menjual makanan enak, apa makanan kesukaanmu!" jawab pak Bisri menanyakan kesukaan Roman.


"Semua jenis menu di Indonesia aku suka asal yang halal, tapi yang paling aku suka sate sapi dan rawon surabaya!" timbal Roman sambil langsung naik taksi.


Pak Rifky baru yakin sekarang kalau Roman itu orang kaya. Disurabaya dia dibelikan sampai tiga koper pakaian dan oleh-oleh untuk keluarganya di Lombok dan pak Bisri sangat malu sekali dan menyesal telah menghilangkan nyawa kekasihnya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2