
Tanpa pikir panjang Pak Rifky langsung kedalam menemui Roman.
"Roman! Kamu baru saja menyelesaikan magister hukum mu di Amerika. Tetapi perlakuanmu bawa perempuan masuk sembarang, bapak tidak suka!" bentak pak Rifky benar-benar marah.
Bukannya sambutan gembira yang dia dapatkan pulang dari Amerika. Tetapi kemarahan yang luar biasa.
Roman bukannya terkejut dengan kemarahan bapaknya. Malah dia teramat senang karena terbebas dari perempuan gila yang ada didekatnya.
Cuman yang jadi pertanyaan nya dalam hati adalah kenapa tiba-tiba bapaknya datang dengan kemarahan yang luar biasa.
"Pak! Kenapa pulang-pulang marah, bukannya menyambut kepulangan anaknya yang baru datang dari Amerika!" tahan Bu Marisa menahan suaminya.
"Bagaimana aku tidak marah? Ma, pulang dari Amerika bukannya kerumah, malah kerumah Morrin dan sekarang? Sama perempuan...," pak Rifky tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat perempuan yang bersama Roman ini bukan Morrin tapi perempuan lain.
"Pak! Dari mana bapak tahu!" potong Bu Marisa memotong ucapan pak Rifky
"Itu dari rekan kerja saya. Sekarang dia mencabut kerja samanya dengan saya karena Toni dikeroyok oleh Roman dan kawan-kawan nya!" ucap pak Rifky menceritakan istrinya.
Keringat dingin bercucuran membasahi tubuh Roman. kini kedua orang tuanya sudah tahu semuanya.
Tetapi pinter nya Toni berdusta mengadu kepada bapaknya.
"Dan ini, perempuan mana lagi?!" tanya pak Rifky menunjuk Winda.
__ADS_1
"Saya yang mengundangnya pak, datang kemari untuk memperkenalkan dengan Roman!" timbal Marisa.
Pak Rifky menatap istrinya penuh tanda tanya, dahinya berkerut bingung apa? Maksud istrinya.
Roman yang tadinya diam dalam kebingungan tampak berubah senang begitu melihat bapaknya tidak suka dengan ucapan ibunya.
"Ini maksudmu apa?memperkenalkan Roman?" tatap pak Rifky dengan raut wajah tidak senang.
"O..., ini pak! Namanya Winda, dia itu..., Putri teman mama? Sengaja saya undang kemari untuk berkenalan dengan Roman dan dia cocok kok!" jawab Marisa berdebar-debar dan siap perang urat saraf dengan pak Rifky kalau dia menolaknya.
Pak Rifky memandang Winda sebentar kemudian melirik istrinya, lalu bepaling kearah Roman.
"Memangnya kamu tidak bisa cari cewek sendiri!" tatap pak Rifky ketus.
"E, jangan ngomong gitu? Rom!" bentak Marisa ibunya malu.
"Salah mama sendiri, Kenapa bawa orang kemari. Yang kena marah aku?!" timbal Roman membela dirinya.
Sekarang pak Rifky sudah paham mengenai perempuan yang duduk didekat Roman. ternyata istrinya yang sengaja mengundangnya kemari.
"Ya sudah! Sebaiknya kamu pulang. Aku tak mau mamamu kepikiran!" usir pak Rifky tegas.
Winda yang disuruh pulang oleh pak Rifky tampak tenang tak ada raut wajah malu sedikitpun di wajahnya.
__ADS_1
Sepertinya dia sudah terbiasa mendengar kalimat yang senada dan tidak sedikitpun dia tersinggung dengan ucapan pak Rifky.
"Ma..., aku pulang!" pinta Winda mohon pamit kepada Bu Marisa lalu kepada Roman dan sempat menggodanya dengan mengernyitkan matanya.
Roman berpaling membuang mukanya kesal dan jijik.
"Saya pergi pak!" ucap Winda memberi salam kepada pak Rifky.
"Heem," jawab pak Rifky anggukan kepalanya yang berdiri tidak jauh dari Bu Marisa.
Alhamdulillah..., ucap Roman dalam hati begitu Winda sudah berlalu keluar dari hadapannya.
Roman segera cepat-cepat masuk kedalam biliknya walaupun dicegah oleh ibunya. Namun Roman tidak memperdulikannya.
"Rom...! Rom, mama masih mau bicara." panggil Bu Marisa.
"Tampaknya Roman kesal, ada apa? sih!" tanya pak Rifky.
"Itu tuh, anakmu tidak mendengar perkataan orang tua!" jawab Bu Marisa tampak kecewa.
"Besok dia harus mengklarifikasi mengapa dia mengajak teman-temannya mengeroyok Toni!" ucap pak Rifky sambil berlalu menuju kamarnya.
Sementara ibu Marisa masih duduk dengan wajah kesal dan muram.
__ADS_1
BERSAMBUNG