
"Ya? Ma, cantik! Dan mereka sama-sama saling mencintai." timbal Yayan cepat.
"Dan ma, kalau di ibaratkan cinta mereka itu ibarat kertas dan lem!" sambung Yayan mengibaratkan.
Toni tambah senang mendengar ocehan Yayan. Luka yang dirasakan sampai hilang tak terasa oleh ocehan Yayan.
"Maksudnya!" tanya Bu Astri tidak paham tampak keningnya mengkerut.
"Maksud saya ya Ma...? cinta mereka berdua itu ibarat kertas antara yang satu dengan kertas yang lain yang telah dilem menjadi satu. kalau dipisah rusak!" jawab Yayan menjelaskan Bu Astri.
"Aduh..., ini anak memang betul-betul jenius. Dari mana dia dapat ilmu seperti itu." guman Toni dalam hati mengangguk- anggukan kepalanya.
Pak Sopian tidak mau berlama-lama mendengar ocehan Toni dan Yayan temannya.
Yang dia inginkan adalah Toni harus segera di obati. Dia takut hal buruk akan menimpa putranya.
"Sekarang mama, bawa Toni ke dokter dan aku mau nyamperin pak Rifky! Biar dia tahu tabiat putranya!" ucap pak Sopian pergi.
Pak Sopian segera pergi menemui pak Rifky yang hari itu sedang meeting disebuah cafe.
Singkatnya Pak Sopian telah tiba ditempat pertemuan Pak Rifky meeting.
__ADS_1
Pak Rifky sedang berbincang-bincang dengan beberapa kliennya. Mereka menikmati minuman dan beberapa aneka hidangan di sebuah cafe elit khusus tempatnya orang kaya.
Mereka tampak gembira atas keberhasilannya mendapatkan proyek jalan tol di sumatera barat. Kegembiraan mereka pudar dengan kemunculan pak Sopian yang mencabut kerja sama itu.
Dengan wajah murka dia mendatangi pak Rifky,
"Hay pak Rifky aku mengundurkan diri dalam proyek ini," kata pak Sopian tiba-tiba mencabut kerja samanya.
Pak Rifky yang dibentak dengan kurang Sopan oleh pak Sopian tampak bingung. Dia menatap wajah pak Sopian dengan seksama dan terlihat pak Sopian benar-benar marah.
"Ku Peringatkan kepadamu agar tidak main keroyok lagi terhadap putraku sebelum ku laporkan anakmu ke polisi!" ancam pak Sopian menatap tajam pak Rifky.
"Bentar dulu, pak! Kita ini sudah tua. Kalau ada apa-apa, tolong dong diselesaikan dengan kepala dingin." pinta pak Rifky pada pak Sopian.
"Terus kamu percaya? Kalau yang melakukan putraku!" tanya pak Rifky tidak yakin Roman yang melakukannya.
Roman baru saja pulang dari Amerika, tidak masuk di akal pak Rifky.
"Aku bisa membuktikan kalau yang mengeroyok anakku adalah Roman dan kawan-kawannya!" kata pak Sopian dengan napas gemetar.
"Tetapi tak boleh dong... kamu mengundurkan diri dari apa yang telah kita sepakati." seru pak Heru berusaha menahan pak Sopian agar tidak keluar dari kerja sama.
__ADS_1
"Tentu saja bisa, siapa bilang tidak bisa. Karena aku telah menanda tangani surat perjanjian, siapa saja boleh membatalkan perjanjian. Kalau merasa dirugikan." ungkap pak Sopian.
"Terus apa hubungannya dengan kontrak kerja sama ini!" sanggah pak Rifky.
"Ada hubungannya! Anakku menderita pisik oleh anakmu sebagai partner bisnisku!" timbal pak Sopian.
Pak Heru dan teman-teman lainnya berusaha menengahi dan membujuk pak Sopian. Tetapi, pak Sopian tetap dengan pendiriannya untuk
keluar dari kerja sama yang telah mereka tanda tangani.
Malamnya pak Rifky belum juga pulang karena mereview ulang hasil kerja sama yang telah disepakati.
Kita tinggalkan pak Rifky yang sibuk dengan pekerjaannya menuju rumahnya yang telah kedatangan anaknya dari Amerika.
Tampak seorang gadis cantik keluar dari dalam mobil dengan dandanan pakaian ketat.
Ibu Marisa langsung menyambutnya,
"Winda! Oih..., cantiknya." sambut Bu Marisa memeluknya.
"Terimakasih! Ma..., Mama mengundang saya datang menemui Roman." balas Winda memeluk Marisa.
__ADS_1
BERSAMBUNG.